Thursday, June 19, 2008

Denpasar Book Fair 2008

Apabila kita tidak memiliki akses membaca yang memadai, kita tidak akan mampu mengembangkan dan menciptakan ide-ide kita. Akibatnya, kita akan kesulitan menyampaikan ide dan gagasan. Membaca buku bisa menjadi petualangan yang sangat menarik dan seru. Lembar demi lembarnya akan mengantarkan kita kepada gerbang imajinasi dan pengetahuan yang kemudian akan mengasah pemikiran-pemikiran orisinil dan kritis. Dengan membaca, kemampuan berbahasa kita juga terlatih, kosakata kita bertambah dan pengetahuan kita akan semakin berkembang.

Menjawab kebutuhan masyarakat akan buku bacaan serta pentingnya membaca maka pada tanggal 9 – 13 Juni 2008 ini pemkot Denpasar menyelenggarakan Denpasar Book Fair 2008 yang berlokasi disekitar pedestrian Jl. Kamboja Denpasar. Areal pedestrian Kamboja ini pada awalnya memang dilokasikan untuk menunjang kegiatan-kegiatan pendidikan. Suatu areal yang sangat strategis karena berada diantara beberapa institusi pendidikan seperti TK, SD, SMP, SMA/K hingga perguruan tinggi. Dalam acara Denpasar Book Fair 2008 yang dibuka dari pukul 10.00 – 21.30 WITA ini tak hanya berisi bazaar buku-buku murah dari para penerbit buku saja, namun juga disertai dengan rangkaian acara seru diantaranya yaitu bedah buku, talk show, panggung musik, pementasan silat kolosal, drumband TK, baca puisi serta areal hotspot gratis.

Pameran buku Denpasar Book Fair 2008 ini sangat menarik. Berbagai aktivitas dan acara-acara pendukung tersebut melibatkan para guru, siswa/i dan mahasiswa/i di Denpasar untuk berpartisipasi sebagai pengisi acara. Denpasar Book Fair 2008 menjadi ajang berkreasi sekaligus menarik minat baca masyarakat dengan adanya bazaar buku murah.

Salah satu indikator kesuksesan pelaksanaan penyelenggaraan bursa buku murah adalah jumlah pengunjung dan nilai transaksi pameran. Strategi potongan harga istimewa untuk buku-buku yang dijual memang cukup ampuh membuat peminat buku berbondong-bondong datang ke pameran sekaligus meningkatkan angka penjualan secara signifikan.

Anggapan bahwa harga buku mahal memang sangat relative. Bagi pecinta buku, harga tak jadi masalah sepanjang hobi dan kegemaran menikmati pengalaman baru melalui buku dapat tersalurkan. Bagi beberapa orang yang menyadari pentingnya budaya membaca bahkan membuat anggaran pembelian buku sebagai salah satu pengeluaran wajib setiap bulan. Tak urung pula hanya karena mahalnya harga buku membuat bagi sebagian orang yang senang membaca buku tetapi tidak dapat menganggarkan dana khusus pembelian buku setiap bulannya.

Ajang pameran buku yang banyak menawarkan potongan harga buku menjadi salah satu solusi untuk memiliki koleksi buku baru. Anggaran pembelian buku per bulan yang biasanya hanya dapat untuk membeli satu buku, maka di pameran bisa dapat dua buku atau lebih. Namun, potongan harga khusus tersebut biasanya bervariasi dan terbatas pada buku-buku tertentu. Sehingga, pengunjung cukup kesulitan dalam mencari buku-buku yang dibutuhkan. Selain itu, pemberian diskon untuk beberapa buku-buku tertentu pun masih relatih kecil sehingga perbedaan harga di toko buku dan pameran hampir tidak ada bedanya.

Minat pengunjung terhadap jenis buku masih didominasi oleh buku-buku bersifat fiksi yang meliputi novel Remaja dan dewasa, komik ataupun buku cerita anak-anak. Buku fiksi memang seperti tidak ada matinya, novel bergenre chicklit, teenlit semakin banyak dicari.

Selain fiksi, jenis buku nonfiksi khususnya yang bertema ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan computer serta buku-buku agama merupakan jenis buku yang juga banyak dicari pengunjung di Denpasar Book Fair 2008 tersebut. Era teknologi informasi tampaknya menjadi semacam pendorong bagi masyarakat untuk lebih memahami dan mempelajari hal-hal tersebut. Kehidupan serba digital seperti sekarang ini memaksa orang untuk belajar dan mengerti cara kerja serta mengaplikasikan barang-barang modern. Hal-hal yang berhubungan dengan iptek dan komputerisasi inilah yang membuat orang memburu buku-buku panduan maupun teori yng berkaitan dengannya.

Selain itu pula, tampaknya buku-buku yang bersifat agama dan kerohanian menjadi buku-buku yang juga cukup dicari. Hal ini terbukti juga dengan adanya beberapa stand khusus yang menjual buku-buku agama khususnya buku-buku tentang local Bali. Stand khusus tentang Yoga pun cukup banyak dihampiri pengunjung baik untuk menanyakan informasi mengenai Yoga maupun ingin membeli buku-bukunya.

Meski demikian, upaya untuk meningkatkan kesadaran mayarakat akan pentingnya membaca dan membudayakan membaca buku dimanapun dan kapanpun tersebut masih kurang terasa gregetnya. Untuk beberpa hal aku sedikit kecewa, karena bursa buku bekas dan buku gratis ternyata tak seperti yang kubayangkan. Karena ternyata itu hanyalah strategi marketing dari suatu institusi pendidikan untuk promosi. Bahkan, aku sempat mempertanyakan tentang keabsahan penjualan skripsi dan tesis yang dijual dengan harga berkisar Rp 120.000,. Stand baca buku pun masih sangat minim dengan koleksi buku-buku yang menarik sehingga kurang menarik minat pengunjung untuk membaca ditempat. Hot spot area yang disediakan secara gratis di sepanjang pedestrian Kamboja tersebut masih belum dimanfaatkan dengan baik oleh pengunjung. Beberapa pengunjung pun sempat mengakui bahwa mereka datang ke Denpasar Book Fair 2008 hanya karena ditugaskan menjaga stand sekolah mereka atau hanya sekedar meng-update info mading mereka masing-masing yang dipamerkan selama Denpasar Book Fair 2008 berlangsung.

Walau demikian, Denpasar Book Fair 2008 ini menjadi suatu ajang yang cukup menarik dan berguna untuk mengembangkan minat membaca masyarakat. Event tersebut pun menjadi langkah awal yang cukup jitu untuk mempromosikan pedestrian Kamboja sebagai kawasan pendidikan terpadu bagi masyarakat sekitarnya. Semoga ini menjadi event berkala sehingga budaya membaca dapat terwujud di seluruh lapisan masyarakat.

No comments: