Wednesday, May 19, 2010

Ngobrol Santai : "Menumbuhkan Ruang Publik"

when: Thursday, May 20, 2010
time: 6:00pm - 8:00pm
where: Pertemuan Jalan Veteran dan Jalan Gajah Mada, Depan Patung Catur Muka Lapangan puputan Badung- Denpasar (Samping bekas gedung Bank Dagang Bali)

Mitra diskusi:
Pak De Aridus (kolumnis OBB) dan Kadek Djanggo (BogBog Magazine)


Ruang publik ideal pertamakali digagas oleh Jurgen Habermas, dalam bukunya The Structural Transformation of the Public Sphere: an Inquiry into a Category of Bourgeois Society, juga dalam Civil Society and the Political Public Sphere. Jurgen Habermas menyampaikan bahwa, ruang publik ideal adalah sebuah ruang yang mampu menjadi jembatan interaksi antara penguasa dan masyarakat dari beragam kelas. Hanya melalui ruang publik inilah dapat terwujud masyarakat yang dewasa, bebas penindasan, dan mampu menanggulangi krisis.

Sebenarnya, tata kota di daerah Bali, khususnya Denpasar mengenal ruang publik semacam ini, misalnya melalui apa yang disebut alun-alun , atau fasiltas publik yang dimaknai dengan ruang publik seperti taman kota, tapi sayangnya kalau diperhatikan kini semakin kehilangan fungsi, karena kemudian ruang tersebut dalam term kontrol otoritas-struktural (baca:kekuasaan)

Denpasar sebagai sebuah kota yang cukup padat heterogen semestinya memiliki ruang yang bisa mengakomodir keberagaman tersebut. Ruang –ruang publik yang ada sekarang ini belum bisa dikatakan sebagai ruang publik dalam arti sebenarnya. Konsep ruang publik masih terpatri oleh konsep lama dimana ruang publik di maknai sebagai tempat dan kondisi dimana segala aktivitas masyarakat atau warga dapat diawasi oleh kekuasaan dan kontrol dengan peraturan yang cukup birokratis.

Sebenarnya, ruang publik yang ada di Kota Denpasar cukup mempunyai kriteria untuk dijadikan pilot project sebagai contoh ruang publik menuju ideal, misal ruang publik seperti Taman Budaya (art centre) sebagai salah satu lokasi pusat aktifitas kebudayaan perlu dikembalikan sesuai dengan tujuan awalnya sebagai pusat kebudayaan termasuk didalamnya dialog dan sebagai public space atau kalau kita ambil contoh lainnya seperti di sepanjang Jalan Gajah Mada sebagai pusat kota, mempunyai cukup sejarah bagi warga Denpasar. Jalan Gajah Mada memang sangat strategis sebagai salah satu bentuk ruang publik karena keberadaanya di pusat kota, akses kesana cukup memadai serta keberadaan pasar tradisional dan pasar seninya sebagai pendukung, disamping untuk merespon apa yang sudah dicanangkan oleh Pemerintah Kota Denpasar dengan Festival Gajah Madanya sebagai salah satu program unggulan Kota Denpasar ini.

Pendekatan ruang publik sebagai bentuk apresiasi dan aspirasi publik tidaklah cukup dengan pola tertib dan birokratis, tidak hanya sebatas simbol yang menjadi angker dan mengakibatkan keengganan untuk memanfaatkan ruang tersebut. Secara alamiah ruang publik akan membentuk karakter dan soilidaritas sosial, aturan dan ketertiban hendaknya tidak sebatas ada monopoli dan kooptasi kuasa (baca: ekonomi,politik) melainkan kebersamaan dan sebagai ruang ekspresi yang menciptakan sebuah kewajaran dan mengalir.

FB invitation klik DISINI

Posted via email from Youth Bali BUZZ

No comments: