mata, telinga dan seluruth panca indrawi ku... entah mengapa selalu mengarahkan ku pada potongan potongan kisah, yang kemudian ku temukan kejelasan rangkaiannya.
kamu ingin aku membantu apa? bagaimana?
malah akan memperburuk, bukan?
begini saja...
kalian berbaikan saja.
temukan cinta pilihan kalian.
kebenaran gak mutlak.
ciptakan pembenaran kalian sendiri.
masalah di luar hubungan kalian sudah cukup kompleks, bukan?
mengapa, kalian menciptakan konflik tak berujung diantara kalian juga?
bukannya malah saling bersatu dan menyayangi?!
aku tak ingin ikut campur.
kalian berbaikan laah... kalo mau terus berkonflik, yaa berkonflik lah, terserah kalian saja.
aku akan duduk di teras sambil menyeduh teh hangat ku, memandang matahari yang pelan pelan tergelincir di ufuk Barat.
apa?
bunuh diri?
iya orang pintar pun bisa melakukan hal bodoh, sangat bodoh sekali bahkan.
kehendak bunuh diri ini bukan sekali ini saja, bukan?
ini bukan kali pertama!
jelas jelas bukan pula kali terakhir aku mendengar hal ini!
sekarang si yang ingin bunuh diri ada di sisi lain, kira kira 3 meter dari jarak pandang ku.
lantas.. apa yang bisa ku lakukan?
yang pasti, aku tak mau lagi melihat kalian bertemu lalu berisak tangis, berpelukan lalu entah apa lagi yang terjadi kemudian..
aah itu uda sekian tahun yang lalu..
masa terulang kembali.
aku ingin keluar dari lingkaran ini.
aku tak mau lagi berada di lingkup kalian.
kalo saling suka, ya hidup lah dengan bahagia.
pilih kehidupan yang kalian ingin buat.
meski kalian percaya reinkarnasi, kehidupan kembali... kehidupan kalian yang sekarang, tetap terjadi sekarang, selesaikan kehidupan yang sekarang.
setiap orang memiliki permasalahan masing-masing.
terkadang aku merasa, ada orang orang yang seolah berlomba paling menderita.
meski selalu berkata ingin keluar dari penderitaan, tak ingin menderita lagi, dan sebagainya dan semacamnya...
pandangan ku melihat hal lainnya..
itu pandangan ku.
kau sebut aku culas?
silakan.
aku merasa ini semua sandiwara.
hebat sekali para aktor & artis ini.
bisa jadi, adegan sebenarnya bukan yang ditampilkan.
mereka tak hanya memainkan peran, tapi juga membuat skenario, dialog bahkan jadi sutradara langsung.
apa itu salah?
ha ha ha, aku tau apa tentang salah dan benar.
ha ha ha, aku punya wewenang apa menentukan salah dan benar.
akan ada banyak kesedihan, sayang.
akan ada banyak urai air mata.
akan ada banyak sayat pedih.
jerit rintih, sakit hati, kemunafikan, cerca, dusta dan mudarat.
lantas, menyerah begitu saja?
miskin?
kamu bersedia disebut miskin? dalam arti keseluruhan?
kamu bersedia menyandang sebutan itu?
bukan kah hidup itu adalah mengenai memilih?
bahkan tak memilih apapun adalah juga pilihan?
jika detak sudah berhenti.
waktu mu berhenti.
namun dunia terus berlalu... dunia pongah, enggan berdiam sejenak untuk berkabung melayat kepedihanmu.
bukan begini menghadapi hidup.
tak ada jaminan hidup itu akan manis manis saja, bukan?!
tak ada jaminan hidup itu akan tertawa tertawa saja isinya, bukan?!
tak ada jaminan hidup itu yang indah indah saja, bukan?!
serupa halnya kebalikannya.
sudah lah.
aku ingin tertawa.
tertawa lirih.
No comments:
Post a Comment