Sunday, June 15, 2008

Distro sebagai Street Fashion outlet

Berkenaan dengan pembahasan tentang Street Culture yang kian marak di Bali, maka distro yang tumbuh dikalangan komunitas mampu memenuhi kebutuhan mereka yang ingin menunjukan identitas dan eksistensi mereka dalam bentuk fashion komunitas. Untuk itulah aku tertarik untuk mengintip beberapa distro-distro yang menjamur di Bali khususnya di daerah Denpasar sebagai jantung kota di Bali. Bahkan aku juga ingin membuat mapping distro di Denpasar yang memuat pula profil outlet masing-masing (well, satu-satu dulu deh….^_^).

Tatkala fashion menjadi bagian dari pernyataan diri seseorang, kreativitas pun menjadi suatu tuntutan. Orang-orang lantas berusaha untuk menjadi berbeda, menjadi unik dan ingin menunjukkan esensi diri masing-masing. Untuk itulah, produk global bukanlah pilihan tepat untuk mereka yang ingin tampil ekslusif dan independent. Ketertarikan akan kebutuhan untuk tampil secara berbeda, unik dan ekslusif tersebut berhasil dipenuhi oleh kehadiran distro yang memang sangat akrab dengan Remaja.
Distro merupakan singkatan dari Distribution Outlet atau Distribution Store yang berfungsi menerima titipan dari berbagai macam merek clothing company local (Perusahaan yang memproduksi pakaian jadi dibawah merek sendiri). Semula, produk clothing company berupa T-shirt yang kemudian berkembang keberbagai perlengkapan yang menunjang gaya hidup/lifestyle seperti kemeja, sepatu, bahkan kacamata, jam tangan, MP3 player, gesper, aksesoris (kalung, gelang, cincin dll), sticker, dompet, tas, jaket, poster, CD, kaset, topi, pin, tali dan kantung handphone, sandal dan sebagainya.

Distro pada awalnya diperkenalkan oleh orang – orang yang tumbuh di komunitas independent. Mereka ingin membuat suatu usaha Street Fashion sendiri yang eksklusif dan mencerminkan gaya hidup (lifestyle) komunitas tempat mereka berasal. Semula, distro menjadi wadah bagi penjualan album merchandise serta pernak-pernik bagi band-band indie yang memasarkan produk mereka secara independent. Sebagian besar pelopor distro merintis usaha mereka dari modal yang kecil dan idealisme serta semangat juang yang tinggi. Karena pada saat itu distro masih merupakan sesuatu yang langka dan belum ada konsep penjualan distro. Kini, distro menjadi alternative pilihan bagi orang-orang yang ingin memiliki street fashion tersendiri nan eksklusif serta mencerminkan gaya hidup yang kental dengan independensi.

Distro mempunyai sifat eksklusif dan cenderung tidak menjual banyak produk untuk setiap desainnya. Distro tidak bisa disamakan dengan FO (Factory Outlet) karena dari sisi idealisme, konsep serta produk yang dijual pun berbeda, diantaranya seperti:


- FO menjual produk missal sedangkan distro lebih bersifat eksklusif

- FO menjual produk ekspor lisensi dari merk luar, bahkan FO merancang produk berdasarkan desain luar yang didesain ulang secara missal dan sedikit modifikasi. Sedangkan distro, menjual produk buatan local, komunitas ataupun individual.

- Gerakan serta cara pemasarannya antara FO dan distro berbeda. perbedaan ini karena adanya misi serta target pasar yang berlainan antara FO dan distro.


Berdasarkan survey langsung ke beberapa distro-distro di Denpasar, ternyata pertumbuhan dan perkembangan distro kian marak. Bahkan suasana ekonomi Negeri yang sedang gontai tak terlalu mempengaruhi anak muda untuk berbelanja di distro. Beberapa distro bahkan mengakui beberapa bulan belakangan ini omset penjualan mereka meningkat, beberapa distro baru pun bermunculan di Denpasar.

Distro mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan fashion dan lifestyle anak muda karena distro memang khusus menyediakan kebutuhan pasar dan terus dikembangkan sesuai dengan trendsetter. Desain yang ditampilkan adalah tema yang sangat akrab dengan Remaja. Dari yang berbau humoris, narsis hingga hal-hal yang menyeramkan seperti kematian, tengkorak, kuburan dsb. Sentuhan personal anak muda pun bisa tersalurkan dengan pelayanan menerima pesanan sesuai dengan desain pelanggan.

Selain itu, harga barang-barang di distro reltif terjangkau oleh kantong-kantong para Remaja. Hmm… siapa bilang anak muda atau Remaja gak punya duit…?? Ternyata mereka cukup konsumtif dan meski harga-harga produk di distro tidak bisa dikatakan relative murah, namun masih bisa dijangkau dan sesuai dengan kantong-kantong mereka. Harga sebuah T-Shirt di distro dipatok sekitar Rp 35.000,- hingga Rp 75.000,-. Sedangkan harga jaket sweater yang kini cukup digandrungi anak muda harganya bekisar Rp 50.000,- hingga Rp 95.000,-.

Untuk desain fashion yang saat ini sedng marak dikalangan anak muda khususnya di Denpasar relative tetap sama, yaitu didominasi oleh warna gelap seperti hitam ataupun abu-abu dengan gambar-gambar simple dan unik. Beberapa distro di Denpasar mengakui apabila anak muda dan Remaja di Bali masih cenderung mengikuti trend diluar Bali. Saat ini warna-warna hijau mencolok, ungu/violet, putih dan merah cukup mendapat perhatian anak muda. Gambar-gambar di kaos pun cenderung dengan motif kartun ataupun huruf-huruf kreatif dan lebih menonjolkan kualitas sablonan (misalnya sablonan full-print, water-print, sablon timbul, colorfull-print dsb). Dan rata-rata distro menganti koleksi produk mereka secara berkala sekitar setiap satu minggu.

Produksi local Bali ternyata masih kurang dibandingkan dengan produk dari Jawa. Pada umumnya distro-distro di Denpasar mengambil barang-barang dari Bandung sebagai kiblat fashion. Pemilik distro-distro di Denpasar pun masih cenderung dikuasai oleh segelintir orang-orang yang punya modal cukup dan membuat beberapa distro berbeda tersebar di Denpasar. Distro dari Bandung pun banyak bermunculan. Produk-produk dari Bandung lebih berkualitas dengan desain yang unik namun harga yang relative lebih murah. Meski demikian, potensi produk local Bali juga bisa bersanding dengan produk luar tersebut.

Dari segi pemasaran dan publikasi, distro-distro tersebut mengakui hanya membagikan sticker distro mereka gratis dan memupuk hubungan yang kuat dengan komunitas ataupun teman-teman terdekat. Yaaa word of mouth ternyata sangat efektif. Selain itu, banyak distro yang mensupport para pemain band-band indie untuk kostum pemainnya. Serta mereka juga mensponsori beberapa actor-aktris TV serta beberapa event anak muda, dan logo distro mereka bisa masuk untuk dipublikasikan. Bahkan, ada pula yang menjual produk mereka secara online di internet.

Beberapa distro di daerah Denpasar yang bisa dijadikan referensi untuk berbelanja ala anak muda diantaranya yaitu:

- DORM distro, di Jalan waturenggong (ph: 0361-418037)

- U_ROCK, di jalan Diponegoro no. 69B (ph: 0361-237302) merupakan distro resmi Nanoe Biroe yang khusus menjual produk Nanoe Biroe dan U-Rock

- Benkel Gaoel, di Jalan Diponegoro no. 102 (ph: 0361-247533), khusus menjual produk-produk dari Bandung dn hanya beberapa produk local Bali

- Blamegangster, di Jalan Diponegoro no. 31

- Spyder Blues, di Jalan Diponegoro no. 25

- AREA 51, di Jalan Diponegoro no. 31

- Forbidden Distro, di Jalan Sutoyo no. 26

- Noize, di Jalan Teuku Umar

- Sparks, di Jalan Teuku Umar

- Sneaker, di Jalan Letda Made Putra

- Syndicate, di Jalan Letda Made Putra

- Traffic Distro, di Jalan Hasanuddin

- Freestyle, di Jalan Panjer

- Faithaholic, di Jalan Diponegoro no. 31

- Reformeposse, di Jalan M.H Thamrin

- Bali Hardcore, di Jalan M.H Thamrin

- Freestyle Distro, di Jalan M.H Thamrin

- Embryo, di Jalan Hasanuddin

- Grindcorner, di Jalan Sutoyo

- Virus, di Jalan Diponegoro

- Black ID, di Jalan Diponegoro

No comments: