231208/01.01
Bila aku ternyata bukan aku, lantas siapa aku yang mengaku adalah aku...???
Bila kamu ternyata bukanlah dirimu... lantas siapa yang sedang mengaku - aku...???
Panggung setengah lingkaran terbalut lembaran kain hitam legam, menjuntai diberbagai sudut, lantai panggung juga berbalut kain hitam yang bergetar-getar (bergelombang stabil dan tenang) seolah bumi tak dipijak. Dibeberapa pinggir dinding pembatas tersedia beberapa titik lampu spotlight merah menyala yang disorot dari bawah, lengkap dengan hembusan angin sepoi-sepoi dari kipas angin yang juga dipasang dari bawah mengarah keatas, yang memberikan efek kobaran api disepanjang pinggir panggung (sebagai background panggung). Yang nanti akan dipergunakan disuatu klimaks pementasan...
Lampu padam...seluruh lampu padam, tiada dian sekilasan pun...
Senyap... desiran angin terdengar jelas, hembusan nafas tiap-tiap orang terdengar jelas...
Ting... ting... ting... ting… ting… (ketukan 1/1 berulang terus menerus secara ritmis)
Sesosok pria tegap berjalan tertatih dan terseok seolah kakinya terpancang dibumi. Wajah dinginnya menengadah dengan pandangan lurus kedepan. Tubuh hanya berbalut cawat kain hitam. Kilatan keringat membasahi seluruh tubuhnya. Getar kain hitam dari lantai panggung seolah membuat jalannya labil dan berat, seolah ada beban dikakinya. Lampu sorot kuning hanya mengekspose sesosok tubuh itu.. mengikutinya sepanjang perjalannya.
Auman-auman berat sesekali terdengar dari sesosok tubuh pria yang berusaha lepas dari pasungan bumi itu…
Ting... ting... ting... ting… ting… (ketukan 1/1 tetap berulang terus menerus secara ritmis)
Sosok tubuh wanita menyeruak dari balik kain hitam, badannya dibalut kain putih lembut yang membuatnya seolah terlihat ringan dan berkilau ditengah keremangan. Sosok itu menggelayut menuntun tapak sesosok pria yang berjalan terengah-engah dengan tampuk beban tak terlihat.
Tampak pergumulan dua sosok tubuh yang sangat kontras... gerakan kian cepat... seolah waktu kehilangan detiknya, suara berkejaran dengan olah batin dua sosok itu.
Gerakan terhenti setelah sosok wanita berbalut kain putih tersimpuh di lantai, satu kaki sosok pria menginjaknya menahannya bergerak... sosok pria mengaum sejadi-jadinya, mimik marah, kebengisan, kebencian, kekecewaan, keputus asaan, dan kegilaan brutal tersirat jelas diwajahnya
Lampu seketika padam... keadaan kembali senyap
Ting... ting... ting... ting… ting… (ketukan 1/1 kembali berulang terus menerus secara ritmis)
Satu titik lampu sorot memperjelas bayangan sosok ketiga yang berjalan ringan menuju tengah panggung. Sosok itu adalah sesosok pria tidak besar tidak kecil tidak kurus tidak gemuk, ekspresi datar pandangan kosong berjalan ringan lamat-lamat. Tubuh terbalut cawat kain hitam tersambung dengan selempangan dipundak...
Satu titik lampu sorot lagi menerangi sosok pria dan wanita yang tetap pada posisi seperti diakhir adegan sebelum jeda lampu padam. Wajah bringas dari sosok pria pertama berangsur-angsur mereda...
Terjadi pergumulan dua sosok pria...
gerakan berakhir setelah sosok pria pertama tergeletak disandaran sosok pria kedua yang membelai wajah dan kepala sosok pria pertama dengan lembut dan penuh pancaran kasih sayang,
Sosok wanita tetap pada posisinya tanpa melakukan gerakan apapun...
Lampu kembali padam, denting berhenti... terdengar lengkingan dari pita suara wanita... pilu...
Tiga buah lilin menyala di beberapa sudut ruangan... melayang.
Dua sosok pria pertama dan kedua masih dalam pergumulan penuh kasih.. Saling berbagi bahagia, kepedihan, ketakutan, penderitaan dan kesendirian..
Lampu menyorot dua sosok itu, membiaskan rasa yang berkecamuk diantara keduanya...
Sosok wanita melakukan gerakan monolog disisi panggung sambil menyaksikan kedua sosok pria pertama dan kedua yang melakukan gerakan dialog satu dengan yang lainnya di satu sudut panggung...
Gerakan sosok wanita kian agresif... semakin cepat... semakin cepat...
Duuungggggg..... dentuman gong mengaung selama beberapa saat memecah kesunyian
Kobaran api seolah menyeruak disisi penyekat hitam, gemuruh angin kian kencang... (suara soundsystem yang diolah sedemikian rupa ditambah efek-efek lainnya yang semakin menegaskan suasana... carut marut menanti kebangkitan sesosok tubuh lainnya...)
Sosok wanita berpakaian putih berputar-putar mengelilingi panggung dengan gerakan brutal dan luapan kemarahan… entah pada siapa.
Dua sosok pria tetap pada posisinya.....
Suara-suara semakin meninggi dan mencekam... tubuh sosok wanita yang berbalut kain putih tersapu angin menerbangkan beberapa lembar kain putih yang membalut tubuhnya, kian lama lapisan kain tanggal satu persatu hingga menyisakan sesosok tubuh wanita yang kemudian berlumuran cairan kemerahan disekujur tubuhnya... lampu spotlight mengarah dari bawah mempertajam karakter sosok tubuh wanita itu
Sosok pria pertama kembali mengaum... menjerit ketakutan kesakitan pada rasa sakit yang tak bisa dirasakan... tubuhnya bermandikan cahaya lampu sorot dari atas
Sosok pria kedua menangis pilu.. suara tangis yang melengking membuat bulu kuduk berdiri... tubuhnya juga bermandikan cahaya lampu sorot dari atas
Kobaran nyala lilin meredup karena lumer meleleh oleh panas.... Lantas padam satu per satu
Lampu panggung meredup dan ruangan sunyi kembali... asap putih dari sisa nyala lilin mengepul lembut berputar-putar seolah berusaha menyembunyikan tabir ketakutan sosok-sosok manusia...
Ting... ting... ting... ting… ting… (ketukan 1/1 terdengar kembali berulang terus menerus secara ritmis)
Tiga titik lampu spotlight menerangi tiga sosok tubuh... pria pertama… pria kedua… dan sosok wanita… yang ketiganya lumer dalam balutan cairan merah menyala...
Ketiganya berjalan... mengelilingi panggung... melakukan gerakan monolog... masing-masing... tanpa saling mengenal, tanpa saling bersentuhan, tanpa saling bersinggungan, tanpa saling menyapa, tanpa saling melihat, tanpa saling merasakan kehadiran satu sama lainnya....
Ketiga sosok tubuh berjalan diatas labilnya bumi... SENDIRI…
Tirai merah dikerek turun, menutupi sisi depan panggung hingga tak terlihat apapun… lampu dipadamkan… bunyi-bunyian lamat-lamat terhenti…
...............
Tirai kembali dikerek naik.... beberapa titik lampu sorot menerangi ketiga sosok tubuh dua pria dan satu wanita yang sudah berpakaian layak dan bersih... membungkukkan badan dalam-dalam beberapa saat.. beberapa kali... dan tersenyum penuh kepuasan...
Panggung ditutup kembali….
SELESAI ^_^
(by Lindia P., disuatu ruang disuatu waktu...)
No comments:
Post a Comment