Thursday, December 04, 2008

Ombak Bali_Surf Film Festival

7.45 pm... aku datang ke venue disambut hangat oleh para panitia, aku dipersilakan nonton gratis dan meski ternyata film session itu sudah mau berakhir tapi senangnya aku dipersilakan nonton juga. Setelah itu aku tau, seharusnya fee entry untuk satu block film adalah 20 ribu & ada peraturan juga kalo penonton gak bole telat maksimal 15 menit penonton gak bole masuk (well, seperti nonton teater... yaa seharusnya aku bisa lebih menghormati). Selang beberapa menit setelah aku duduk dan mulai beradaptasi dengan suasana sekeliling (kebiasaanku ditempat-tempat baru...), beberapa menit itu aku tak mampu menikmati film yang tengah diputar, aku sedikit bersyukur masih bisa nonton film berikutnya.

8.15 pm... film session kedua dihari sabtu itu selesai, penonton pada keluar ruangan. aku masih ingin mengamati setup ruangan itu. Aku tertarik karena begitu aku masuk kedalam ruangan itu, kesan pertama yang terbesit dibenakku adalah aku tengah berada di ruang seminar. Yaa ruangan itu sama sekali tak memadai sebagai ruang pertunjukkan apalagi ruang teater atau nonton film seperti itu.

Ruangan itu disetting class room style, dengan kursi berderet berbanjar. Satu screen besar di pasang di depan tepat ditengah sebagai layar pantulan DLP/ infocus yang memotong ditengah-tengah kursi penonton. Sound system dipasang dipojok atas plafond di sayap kanan kiri ruangan bagian depan. Deretan bangku penonton sekitar 10 baris yang tiap-tiap baris terdiri atas sekitar 15-20 buah kursi. Menurut perkiraanku kapasitas penontonya sekitar 200 orang, karena ¼bagian ruangan di bagian belakang (menuju pintu tunggal sebagai satu-satunya akses keluar masuk) dikosongkan.

Kursi-kursi tertata rapi, cukup nyaman diduduki. Masalahnya, pandangan penonton terganggu oleh penonton didepannya. Settingan kursi lurus banget, sesekali aku harus mencari celah-celah agar bisa menonton dengan leluasa tanpa terhalang kepala atau badan penonton yang duduk di bangku didepanku. Apalagi dengan porsi badanku yang pendek (sadar diri kok...) dibandingkan rata-rata ukuran badan bule-bule itu (yaaa aku hampir tak menemukan penonton lokal, kecuali para panitia / volunteernya). Andai setting kursi dibuat split level ya, menyerupai setting-an di bioskop atau ruang pertunjukkan/teater gitu lah. Ato lebih seru sekalian aja pake konsep santai, kursi formal diganti ma sofa-sofa panjang yang empuk & hommy.. kayak home teater gitu, kan seru tuh. Penonton jadi lebih relax nontonnya ^_^. Atau disetup cafe-style aja, kayak nonton bareng di bar/cafe gitu, kan sangat-sangat santai & akrab suasananya (hmm, apa mereka sengaja mempertahankan setting hotel ya?).

Venuenya sendiri udah cukup keren, untuk standar festival film internasional. Tadinya sih aku berharap ada sedikit monolog atau MC atau narator lah yang memperkenlkan tentang film tersebut (sekali lagi aku gak tau siy session sebelumnya, di hari-hari sebelumnya, karena aku emang datang di session terakhir di hari terakhir). Untuk film Dopamine, Jolinde sempat memperkenalkan si pembuat filmnya & sedikit mewawancarainya, tapi belum cukup greget akh, seperti bincang-bincang antar teman aja. Apa ada session talkshow sendiri ya? Event itu jadi terkesan hanya sekedar event nonton film bareng biasa, itu aja… aku terkesan dengan tepuk tangan riuh diakhir session pemutaran film itu, menunjukkan apreasiasi mereka yang sangat baik pada film itu berikut pembuatnya. Sayangnya, aku sempat sedikit beropini beda, tatkala ditengah-tengh pemutaran film, para penonton yang kebetulan duduk disekitarku ‘sedikit’ gaduh (hey, masa untuk standar bule, begitu melihat suatu adegan yang sedikit nyleneh/porno, mereka ber’wuih-wuih…).

Iya ya… kejanggalan itu aku rasakan pada setting ruangannya. Karena begitu sederhana, begitu biasa-biasa aja. Ya terlalu kaku sih, karena aku merasa para penonton rata-rata masih muda, dengan jiwa surfer mereka yang bebas, masa diajak nonton ditempat yang sekaku itu. Didalam ruangan itu, ciri khas bahwa itu adalah ruangan nonton film surfing adalah tempelan brosur, gantungan iconic Ombak Bali di beberpa dinding & dipintu, dan slide show di screen. Kenapa gak sekalian aja printout poster-poster berukuran lebih besar atau mungkin poster film-film yang akan diputar (seperti di bioskop-bioskop) agar lebih memancing penasaran penonton pada film yang akan ditonton. Tempelan kecil-kecil itu hanya membuat keliatan kotor aja, lagipula siapa juga yang bakal baca, karena tempat itu hanya ditempati tatkala pemutaran film berlangsung saja, selebihnya mereka menanti di luar ruangan (apa ada stand makanan & minuman atau cemilan ya? Sayang banget aku gak menengok keluar...). Papan surfing juga bisa dijadikan elemen dekorasi yang eyecathing, papan surfing dengan ornamen icon Ombak Bali. Kalo papan surfing malah men-destract perhatian penonton, yaa papannya taruh aja di bagian belakang (bagian belakang di-ekspose sebagai surf stuff corner...) atau di pintu bagian luar ruangan, sekaligus berperan sebagai semacam gapura penyambutan.

Aku gak terlalu memperhatikan desain meja panitia sekaligus pembelian tiket yang terletak di luar ruangan. Tapi begitu datang aku merasakan seperti menghadiri jamuan resepsi pernikahan, para usher jadi kayak pagar ayu (hehehe). Hanya ada meja, brosur-brosur, tabloid Ombak Bali, souvenir (gantungan pintu) dan beberapa mritil lainnya gak terlalu aku perhatikan detail (Magicwave ada gak ya?). Seru aja kali ya kalo dibelakang meja registrasi itu ada backdrop besar berupa poster atau icon Ombak Bali. Trus ada standing desk yang berisi jadwal pemutaran film sekaligus info mengenai film yang bakal diputar (kan lebih visual…). Kenapa program guide-nya berbentuk tabloid ya? Kenapa gak berbentuk handbook atau booklet yang lebih simple, praktis & efisien ya? Apa lagi ngetrend ya? Seru kali ya kalo ada comment box, kan bisa jadi tempat pelampiasan perasaan nonton festival film itu, sembari mereka menanti session berikutnya… atau malah ada TV sekitar 30 inc yang memutar thriller film surfing kek atau apa gitu, seru aja sambil ngobrol bisa sedikit pemanasan menjelang sajian menu utama, film surfing yang tak biasa…

Tentang film-nya sendiri... waaaaahhhh andai diperbolehkan menjerit aku bakal teriak keren keren keren banget sekeras-kerasnya seketika itu. Aku suka surfing... pernah merasakan betapa menggairahkannya surfing langsung bermain-main dengan gulungan ombak, aku pernah nonton event surfing langsung dari ahli-ahlinya (waaahhh sumpah.. sumpah keren abis daaah), beberapa kali aku juga sempat nonton film surfing (film surfing murni, yang mengetengahkan teknik surfing, wuiih keren deh pokoknya), tapi kali ini bukan hanya film surfing biasa. Meski ada teknik-teknik surfing, tapi lebih menonjolkan cerita... dan misi atau amanat yang pengen diutarakan (rata-rata mengenai misi sosial, environment, dll...).

Aku lebih menikmati teknik surfing-nya sih, angel-angel dan teknik penetrasi si pembuat film keren banget. Ada saat-saat dimana diekspose surfer yang tengah unjuk kebolehannya, bermain-main dipapan surfingnya... mengejar ombak yang waaaahhhh keren keren keren buanget deh (tinggi ombaknya rata-rata lebih dari 2 meter, ombak yang sempurna, gak pecah…). Dipertontonkan teknik-teknik surfing dari berbagai sudut yang menonjolkan teknik yang sempurna si surfer (sumpah bikin iri... rasanya seketika itu aku pengen nyemplung ke laut ikut surfing...). yang bikin penasaran, tatkala gejolak jiwa kita yang tengah asik terbuai oleh liukan surfer dengan ombak-ombak yang menggoda... tiba-tiba saja, sudut pengambilan gambar dialihkan ke misi visi si pembuat film. Hal ini dilakukan berulang-ulang membuatku gemas nontonnya. Tapi itu daah, penetrasi yang sempurna untuk sebuah film surfing yang mengaduk-ngaduk gelora dalam dada yang tengah naik turun larut dalam kesenangan dipapan surfing pipih tersebut, yang seketika dialihkan pada sisi lainnya. Keren keren keren banget deh.... aku sampe speckless (apa karena aku terlalu menikmati ya?!)......

Sayangnya, perhatianku yang berlebihan pada teknik surfing dalam film itu menyedot inti film itu sendiri yang pada dasarnya tengah mengemukakan tentang pencarian surfer dengan dunia baru di surfing. Sekilas ada cuplikan tentang seseorang yang tengah menggaruk pasir dan membuat karya seni dihamparan pasir dibibir pantai itu (disini ditonjolkan karya seni dengan media kanvas yang luas). Ada juga cuplikan pencarian surfer di beberapa misterius spot untuk surfing. Ada cuplikan surfer-surfer yang tengah bercengkrama & bersenang-senang, cara mereka bersenang-senang diluar kesenangan tatkala diatas papan surfingnya. Cuplikan mengenai Surf Photography... dsb

Sayang banget ya event sekaliber ini hanya dinikmati segelintir orang, bahkan tak terjamah oleh orang-orang local Bali. Meski filmya belum ditranslate teks bahasa Indonesia, tapi gak jadi kendala yang significant. Lagi-lagi Bali hanya jadi tempat persinggahannya aja, mana para movie maker local Bali atau paling gak orang-orang local yang berminat ma event film surfing ini? Aku emang datang hanya sekali doank, aku belum tau banyak siy, aku belum mendapat detail informasi mengenai jalannya event tersebut, yaaa paling-paling bagus laaah… tapi tetep aja, meski aku datang didetik terakhir, aku merasakan rasa sayang teramat sayang… andai aku berkesempatan menghubungi para movie maker atau teman-temanku yang tertarik ma film & surfing, waaah event ini adalah event seru juga buat mereka (kesalahnku juga siy… aku sedikit enggan melakukan itu, untuk alasan yang silly banget…).

Lebih lengkap mengenai event Ombak Bali – International Surf Film Festival bisa dilihat di situs resminya: www.ombakbali.com

Hehehe aku bisanya mengkritik doank ^_^
Di areal Kuta Food court tuw seru tu kalo dibikin nonton bareng, kan ada screen besar, deket pantai, tempat mangkal anak-anak pantai, rame dilirik oleh wisatawan sekitar Kuta… Nonton Bareng film Surfing, cinema anywhere gitu deh konsepnya. Sekalian undang seluruh surfer dan pihak-pihak yang kompeten di surfing (ISC, INSA, magicwave dll…), semacam Surf gathering gitu deh. Undang Bali Moon buat minum gratis. Ada atraksi juggling, sexy dancer, hawaian dance, Balinesse Dance, beach fashion or bikini show atau Surf Suit Show... Ada Surf Photography Exhibition... Beach games… acaranya dari pagi, ada rentetan acara mulai dari Kuta beach clean up act, surfing bareng, short surf lesson, lomba-lomba berkaitan dengan surfing (wax competition, surf board painting competition, lomba-lomba untuk anak-anak & remaja yang bertema surfing juga ada buat menarik minat mereka…), short surf film competition, surf award (bukan jago surfing, tapi Karena social act, environment act dll….), makanan sehat buat para surfer, medical check up buat para surfer (hehehe dua konsep ini terlalu idealis siy, tapi kalo surfing itu olahraga yaa berhubungan ma kesehatan juga kan…), ada surf simulation competition/games (semacam games simulasi bersurfing dipapan surfing tapi gak di ombak langsung, kalo ada mesin papan surfing yang bisa meliuk-liuk kayak berdiri diatas ombak, seru kali ya… kayak safety riding simulation punya Honda gitu lho, tapi tetep aman kalo jato dari papan), live beach band, surf merchandise (surf stuff, garage sale…) ^_^

No comments: