7pm… penonton memasuki ruangan yang telah disekat dengan kain hitam, lampu-lampu bergelantungan, beberapa property tertutup kain hitam.. sebagian lengkap dengan tulisan 'JANGAN DISENTUH!!!'.
Tampak seseorang tengah berberes-beres, memunguti sampah, sisa bungkus makanan & minuman yang tengah membusuk, mengulung-gulung kabel dan menyimpannya di belakang kain-kain hitam, bahkan sesekali mendongak mengecek lampu-lampu yang telah bergelantungan di plafond….
Well, itu bagian dari pementasan… yang disuguhkan apa adanya dengan konsep realis se-real-realnya, mengambil adegan kegiatan di belakang layar…!!! Penonton yang telah exiting untuk menyaksikan aksi teaterikal Creamer Box yang merupakan teater Undangan dari Bandung ini menyangka sosok itu adalah salah seorang panitia yang tengah men-setting venue pementasan. Itu bagian dari teater tersebut…!!! Yaaa cukup logis kan? Teater surealis…!!! Kita tak perlu membayangkan pemain akan memasang mimik berlebihan dengan suara nada tinggi.. yang surealis yaa seperti apa adanya kan? Naah, itu satu bentuk teater surealis yang terbilang tak pernah dipentaskan di Bali (di Jawa maah banyak, kadang mengambil konsep pemain yang tengah berdandan, ber-make up, dll…).
‘Free Your Art in Creation’ adalah tema yang diusung oleh anak-anak teater SMAK Santo Yoseph dalam annual event GATEL (Gelar Teater La Jose) yang tahun ini memasuki tahun ke 6 (enam). Woow, empat jempol dech buat mereka yang keukeuh memberi ruang berekspresi bagi seniman-seniman di dunia teater Bali. Semenjak tanggal 15-17 Desember ini terbilang 6 (enam) teater yang telah pentas di Aula Syura Dharma, SMAK Santo Yoseph – Denpasar. Teater La Jose (SMAK Santo Yoseph – Dps), Creamer Box (Bandung), Teater Antariksa (SMAN 7 Dps), Teater Orok (Unud), Teater Topeng (SMAN 2 Dps), Teater Lah (Jakarta) adalah deretan teater yang berhasil menembus proses seleksi untuk tampil di Gatel 6 ini.
Tak sembarangan teater yang dipentaskan di pagelaran Gatel ini, karena itulah Gatel menjadi ajang bergengsi bagi para pelaku teater sekolah khususnya di Denpasar. Mereka harus melalui seleksi ‘kurasi’ selama dua minggu. Bertindak sebagai kurator di Gatel 6 ini yaitu mb’ Ita, mas Elvis dan mas Tomo yang merupakan para senior bagi teater sekolah di Bali. Selama proses kurasi tersebut mereka harus lulus ketentuan seperti:
* proses latihan teater dilakukan secara regular atau kah hanya sewaktu pentas semata?
* Teater tersebut terbilang teater lama atau teater baru? Untuk teater lama maka seleksi lebih ketat lagi karena dilihat pula peningkatan yang dicapai oleh teater tersebut
* Prestasi-prestasi yang dicapai oleh teater tersebut
* Interprestasi naskah yang akan dipentaskan
Pementasan Gatel 6 ini mengusung tema-tema budaya. Hanya dengan membayar Rp 6.000,- sudah bisa menyaksikkan satu blok/session pertunjukkan setiap harinya, dan sudah termasuk free soft drink pula. Gak bakal rugi deh, paling gak bisa sekalian kencan ma pacar kita kan (nonton bioskop, jalan-jalan ke mall, makan... itu mah gaya pacaran jaman dodol, hehee). Menurut keterangan Rangga yang didaulat menjadi ketua panitia Gatel 6 ini, selama dua hari saja sudah terjual 950 buah tiket. Wooow… belum lagi hari ketiga yang menjadi puncak acara karena menampilkan teater La Jose sebagai teater tuan rumah maka sudah bisa dipastikan sebagian besar anak-anak Santo Yoseph bakal nonton. Untuk antisipasi kekurangan tiket, khusus untuk hari terakhir itu mereka mencetak tiket tambahan. Ck ck ck... keren abis deh. Meski masih menurut pengakuan Rangga niy, kalo Gatel adalah ajang yang sudah punya nama tenar, makanya meski kinerja panitianya gak semaksimal seperti ditahun-tahun sebelumnya, mereka tetap bisa menyedot massa yang lumayan banyak.
Sudah jadi kewajaran pabila setiap event akan ada seleksi alam, begitu pula di kepanitian Gatel 6 ini. Dari 55 orang panita yang dibentuk diawal, hanya sekitar 20 panitia yang aktif. Hmmm, terang aja si Rangga ketar-ketir, waktu dua bulan untuk persiapan acara diakuinya amat sangat kurang untuk Gatel. Tapi salut deh ma Rangga dan panitianya yang masih eksis hingga acara selesai (dihari kedua aku berbincang dengannya, meski sudah beberapa malam ia bergadang dan tegang mempersiapkan gatel, tapi ia tetap bisa tersenyum ramah dan sesekali bercanda ria, senangnya jadi anak SMA yaaa... hehehe).
Lautan Bernyanyi
7.30 pm, Hari ketiga Gatel, aku merasa sudah terlambat banget datang. Tapi ternyata kerumunan keramainan masih memenuhi lapangan Santo Yoseph. Sebagian memilih menepi dibalik dinding kelas dengan cahaya yang sedikit remang. Sebagian lagi memilih memadati areal terbuka lapangan basket. Satu ciri yang sangat menonjol adalah bahwa mereka semua berkoloni, tak ada satupun yang berdiri mematung seorang diri. Semua sibuk berbincang didalam koloni masing-masing. Pemandangan yang cukup unik buatku, karena aku begitu merasakan keakraban satu dengan yang lainnya, betapa mereka sangat membutuhkan eksistensi dan kebersamaan. Satu dua anak tampak berlalu lalang mencari sesuatu… atau lebih tepatnya seseorang, tampaknya dia sendiri tapi hal itu dia atasi dengan berbincang melalui handphone. Cukup unik, menanti.. sendiri pula.. itu amat sangat tak menyenangkan.
7.45 pm seorang panitia di ticket box berteriak-teriak menyerukan untuk tenang dan diam karena pementasan teater session pertama telah dimulai. Aku bergegas memasuki ruangan, tak ingin melewatkan satu fragmen pun. Lampu padam... ruangan gelap gulita... namun tiada ketenangan, penonton tetap bersuit-suit dan bergemuruh. Bunyi nguing-nguing dari soundsystem menambah kegaduhan. Aku masih enggan memilih tempat duduk, karena aku tak menemukan tempat strategis untuk menikmati pertunjukkan dengan leluasa. Beberapa lembar karpet dan beberapa buah kursi plastik adalah fasilitas yang disediakan panitia bagi penonton. Aku memilih berdiri di shaft belakang, duduk pun tak jadi jaminan bisa melihat setting pementasan yang ternyata tak memanfaatkan panggung dengan ketinggian level yang bisa dilihat oleh seluruh penonton.
Teater LAH yang di garap oleh mas Dadi Reza sebagai directed dan Sari sebagai coreo menyajikan pementasan ‘Nyai Dhasima’. Setting latar bergaya Batavia tempoe doeloe, atau serasa berada di Batavia tempoe doeloe (property tak mendukung setting, tapi mereka berhasil membuat setting mind… as if at Batavia tempoe doeloe). Alur cepat namun ditata bertempo, permainan tata cahaya digunakan untuk mendukung penguatan karakter para pemain.
Pementasan kedua malam itu yang menjadi pementasan penutup, menampilkan teater La Jose. Persiapan yang kurang matangv dari panitia membuat penonton terbengkalai menanti di lapangan basket. Modern dance yang menjadi acara sisipan paling gak mampu menyedot perhatian penonton yang mulai gelisah. Tatkala pintu ruangan venue telah terbuka, spontan saja penonton berdesak-desakkan memaksa memasuki ruangan. panitia kalang kabut mengatur barisan penonton yang saling dorong berebut masuk.
Setting berubah... berbeda dengan setting pementasan pertama. Terjawab sudah rasa penasaranku pada setting yang diungkapkan mb’ Ita yang menjadi sutradara teater La Jose malam itu. Mb’ Ita sengaja mengubah setting panggung yang tak lazim untuk teater di Bali, yaitu setting panggung tapal kuda. Setengah badan kapal menjadi vocal point, sorotan lampu tersebar di tujuh titik utama. Konon kabarnya niy, Lautan Bernyanyi karya Putu Wijaya ini sudah dibedah selama setahun oleh La Jose dan sempat beberapa kali ganti pemain. Konon katanya lagi, banyak pihak yang pesimis dan mencibir pementasan Lautan Bernyanyi yang dipentaskan teater La Jose ini. Hal tersebut dikarenakan tingkat kesulitan yang sangat tinggi dan terbilang kaku untuk dipentaskan oleh teater sekolah. Malam sebelumnya aku sempat mendapat bocoran scenario Lautan Bernyanyi ini, tata bahasa Melayu yang masih kental dan sarat makna... Aku semakin penasaran…
Lampu redup… hingga mati total selama beberapa menit. Tiada aktivitas... penonton semakin resah dan semakin gaduh menanti aksi teater kebanggaan sekolah mereka. Dua lampu halogen kuning memberi cahaya pada sosok berpunguk yang tertatih-tatih sembari membawa lentera mencari sang Kapten kapal. Terjadi dialog antara sag kapten kapal dan jongosnya yang setia... dialog-dialog panjang dan monoton berkali-kali mendominasi sepanjang pementasan. Jalan ceritanya sendiri (maaf, untuk ukuran orang awan seperti diriku) belum bisa menunjukkan klimaks yang mengigit. Setting latar fokus pada ujung kapal, ditambah rentetan dialog panjang dan durasi yang lumayan lama membuat penonton kebosanan. Satu persatu bahkan ada beberapa yang berbondong-bondong meninggalkan venue... sayang banget pertunjukkan baru setengah jalan tapi sudah ditinggal hampir separuh penonton. Gagal..??!! akh, nggak juga kok, menurutku lumayan laah untuk seukuran teater sekolahan ^_^, selamat deh buat teater La Jose dan team Gatel-nya... semoga berlanjut terus tahun depan dan seterusnya...!!!
’Ereksi’ di atas Panggung
”Kenikmatan berteater itu ibarat lagi ereksi diatas panggung... Euphoria berproses ketika pentas berteater bisa terasa ampe berminggu-minggu, mba’..!!!”
begitu penjelasan mb’ Ita yang menjadi penjaga gawang anak-anak teater La Jose (waaah, gimana rasanya ereksi ditonton puluhan bahkan ratusan pasang mata yaaa, hehehe!). Untuk orang-orang sejenis mb’ Ita itu, melihat panggung rasanya ’gatel’ aja pengen pentas berteater. Ada suatu kenikmatan tersendiri yang sulit banget dilupakan selama ber’proses’ dengan lawan main kita di atas panggung. Ada sensasi yang tak bisa diungkapkan tatkala merasakan chemistri yang menyatukan saat ’proses’ di atas panggung. Semua itu terasa candu yang membuat ketagihan untuk terus - menerus berteater. Begitu kira-kira pendapat mb’ Ita dan beberapa kawan di teater Orok yang pada malam itu disela-sela persiapan Gatel untuk hari ketiga menyempatkan waktu berbincang denganku.
Sudah menjadi ’trend’ kali ya kalo teater itu identik dengan ketidakmapanan (hmm, itu terjadi pada sebagian besar seniman siy...). Pakaian kumel, jarang mandi, begadang hampir saban malam, makan berbagi, rokok sebatang dihisap bergantian, solidaritas tinggi dll deh... semua itu kembali lagi pada pribadi masing-masing siy, tapi itulah serunya hidup ‘komunal’…. ’Teater Miskin’, demikian sebut mb’ Ita untuk anak-anak teater di Bali. Yaaa sebuah teater yang harus memutar otak kreativitasnya untuk bisa mewujudkan ideologisnya dalam berkesenian. Mempersiapkan sebuah pertunjukkan teater membutuhkan biaya yang gak sedikit. Mereka yang berteater gak bisa hidup dari teater, bahkan lebih sering mereka harus merogoh kocek mereka sendiri untuk membiayai pementasan. Miris juga siy mendengarnya....
Kusuguhkan Gerak Kehidupan
Angin... ku torehkan garis dari liuk tubuhku
Bermain dalam remang cahaya
Gejolak jiwaku membuncah
Panggung ini milikku..!!
Puluhan pasang mata mengejar geliatku
Menjadi budak pada aksiku
Kaki tangan mata dan sital tubuhku
Mengisi ruang-ruang kosong yang tak kosong
Irama ada dalam jiwaku
Dendang terpancar melalui sorot mataku
Mimik menjadi saranaku berbincang
Tidak kah terbaca olehmu...?
Kenikmatan itu sudah diubun-ubun
Tidak kah terasa olehmu...?
Aku ingin berbagi denganmu
Berlarian dipanggung kecil ini
Bukan sebagai penonton
Kita didaulat sebagai pelaku
Kitalah pusat perhatian...
Kitalah pemberi pesan...
Yang mengantarkan malam pada siang
(Lindia)
.^_^.
No comments:
Post a Comment