Teater…??? Apaan siy, paling cuman gerak sana sini gak jelas. Ha hi hu ha hi hu… dapat tepuk tangan penonton. Muter-muter keliling panggung dibilang penuh makna. Lumpur belepotan sana sini dibilang seni banget. Mimik muka berlebihan dibilang berkarakter. Kain item disana-sini dibilang artistik. Cahaya remang-remang bahkan cuman dibantu sepotong lilin dibilang bisa menghidupkan suasana. Lengkingan dan cekikikan aneh dibilang brilian idea...
Anak muda nonton teater? Anak muda main teater? Buat apa?!! Mending sekalian masuk artis management minimal jadi pemain sinetron atau paling gak jadi figuran seratus ribu sehari udah lumayan laah & jelas. Teater...?! Keren karena rambut gondrong jarang keramas? Bisa gaya dengan baju dekil & full aksesoris? Bangga karena jarang mandi demi berkesenian dan idealisme? Senang dengan rasa kesetiakawanan & solidaritas sepenanggungan dan sependeritaan berteater?
Hehehe… itu umpatku sekitar tujuh tahun lalu pada dunia teater. Padahal aku sama sekali tak pernah bersentuhan dengan yang namanya teater, tapi udah ngasi cap yang jelek, hehehe. Dulu aku sekolah di SMAN 2 Denpasar (Resman) yang cukup ngetop juga teaternya. Saban ada event di sekolah, sering banget anak-anak teater tampil. Aku siy suka-suka aja, karena aku anggap mereka hiburan. Cowok-cowok memakai baju cewek menari-nari & membuat pertunjukkan hiburan disela-sela live band & dancer. Diajak teman-teman nonton pure teater, aku menolak mentah-mentah. Pernah ada festival teater di kampus Unud selama seminggu, aku bahkan gak menggubrisnya sama sekali. Aku malah lebih antusias kala diajak nonton drama gong di banjar desa, hehehe... ”Lebih seru lho nonton pertunjukkan tradisional tuh...” Kilahku untuk menampik ajakan temanku tiap kali diundang ke pertunjukkan teater, atau dengan alasan-alasan lainnya ^_^
Lingkungan itu berpengaruh banget ma lifestyle kita ya... ^_^. Jujur meski malu mengakuinya, pertama kali aku nonton pure teater & ngeh ma dunia teater baru sekitar setahun lalu (2007) ketika pertunjukkan teater Topeng di Resman (aku uda jadi almamater enam tahun...). Waktu itu juga karena diajakin ama Eka buat liputan Youth Corner. Untung Eka gak sadar kalo aku gak ngerti papun & gak terlalu peduli ma teater, hehehe (that’s why, selama pertunjukkan aku milih duduk di belakang aja, sedang si Eka duduk paling depan dekat panggung). Tapi, setelah malam itu, aku jadi menemukan pemikiran lain mengenai teater. Teater itu unik, seru, keren... setelah itu, diam-diam aku mulai memperhatikan dunia teater, mulai berdiskusi tentang teater, berkenalan dan bertukar pikiran dengan orang-orang di teater. Aku senang banget nonton teater, ada sensasi tersendiri tatkala kita harus khidmat dan memusatkan perhatian penuh pada pertunjukkan.
Mengumpulkan pendapat khalayak ramai yang masih menganggap teater adalah seni pertunjukkan idealis, sarat makna & simbolik. Diliputi oleh nilai-nilai social humanis politis rohanis sindiran hegemonis serta ideologis yang hidup di masyarakat. Menonjolkan ciri khas budaya local yang sarat tradisi-tradisi. Suguhan ekspresi jati diri, pemikiran dan perasaan yang tengah berkecamuk. Teater seolah-olah sebuah pertunjukkan yang identik dengan orang-orang intelektual.
Meruntut catatan sejarahnya, teater hidup & berkembang di Eropa yang mulai marak seiring berkembangnya revolusi industri & kemunculan para borjuis-borjuis. Teater menjadi pertunjukkan hiburan kaum bangsawan & intelektual dimasanya. Dari sanalah kemudian teater berkembang dan bergeser menjadi prestise bagi para kaum borjuis & intelektualis dalam menjalin keakraban dengan sesamanya. Tak sembarangn orang bisa menyaksikan pertunjukkan teater. Klaim eksklusifitas & prestige entertainment melekat & menjadi citra yang mengiringi perkembangan seni teater.
Meski teater mendapat embel-embel seni pertunjukkan “berat”, namun pada kenyataannnya teater menjadi trend anak muda dalam mengekspresikan dirinya. “Teater adalah peleburan diri dengan makna-makna yang ingin disampaikan kepada penonton”, begitu ungkap salah seorang pelaku teater muda di Bali yang sempat berdiskusi denganku. Teater adalah seni pertunjukkan… semua yang termasuk pertunjukkan bisa dikategorikan teater. Jenis-jenis atau aliran dalam teater cukup beragam, ada aliran naturalis/surealis, ekspresionis dan simbolis. Bahkan teater semakin berkembang dan melahirkan genre-genre teater yang semakin beragam. Perkawinan teater dengan bidang seni lainnya semakin memperkaya pertunjukkan. Seperti misalnya dance teater, music teater (operet) dll.
”Biarlah penonton yang memberi makna pada pertunjukkannya, biarlah penonton yang memberi kesimpulan pada apa yang ia lihat, dengar & saksikan sendiri... tafsiran penonton terkadang bisa lebih kaya daripada si seniman itu sendiri...”, ungkap seorang teman tatkala aku bertanya tentang pendapatnya mengenai pertunjukkan dance teater yang sama-sama kami nikmati di art centre. Teater adalah suatu karya seni, penilaian terhadap seni tak memiliki tolok ukur baku. Seni terlalu luas untuk dimaknai & dinilai dari satu sudut pandang. Meski ada misi visi dan makna yang ingin diungkap oleh seniman, namun tafsirannya tetaplah bersifat subyektifitas... disitulah seni hidup dan mempunyai dunianya sediri ^_^
Three Dance Maestros From Japan
Apa jadinya pabila tiga penari maestro menyajikan masterpiece-nya dalam satu panggung? Mereka memang tidak tampil dalam sebuah karya yang digarap bersama. Namun, malam itu panggung itu adalah milik mereka bertiga… pagelaran dance teater yang sangat memukau langsung dari sang maestro…!!
Guyuran hujan malam itu tak membuat surut antusias penonton untuk menyaksikan penampilan ketiga maestro yang namanya telah melegeda di dunia dance teater. Tampak para bue-bule berduyung-duyung bahkan rela meninggalkan mobil mereka parkir dipinggiran jalan dan memilih jalan kaki menuju lokasi pagelaran. Anak-anak muda yang rata-rata berasal dari ISI, anak-anak teater kampus dan sekolahan pun tak melewatkan pagelaran malam itu. Meski posisi duduk yang jauh dari layak untuk standar kenyamanan menonton, mereka termasuk pula aku sendiri tetap mengacungkan jempol untuk pertunjukkan dance teater itu. Keren... keren... keren...!!!
Berbekal niat tulus (hehehe), semangat nonton yang menggebu, selembar tiket yang kudapat dari Moch, sebuah mantel hujan yang melindungi tubuh dan ditemani sepeda motor tanpa lampu... aku melaju dari daerah Kuta menuju Singapadu yang memakan waktu sekitar satu jam lamanya untuk menyaksikan pertunjukkan ini. Aku tak mendapat informasi cukup sebagai bekal nonton. Aku hanya tau bahwa itu adalah pertunjukkan dance teater oleh sang maestro Jepang. Penjelasan nama sang maestro & karyanya pun aku ketahui dari selebaran kuning yang kudapatkan setelah pertunjukkan selesai.
7.45 pm, beberapa kendaraan memasuki sebuah gang yang hanya cukup dilalui satu buah mobil. Aku dengan sepeda motor hitam partner setiaku, berusaha menembus deretan mobil dan sepeda motor lainnya. Aku menyusup melalui celah-celah gang yang masih cukup dilalui sebuah sepeda motor. Sesekali tampak beberapa orang berpayung memilih turun dari kendaraannya dan berjalan kaki. Beberapa kendaraan juga sudah mulai mematikan mesin kendaraannya. Akupun memilih tempat aman untuk menambatkan eeh memarkir (emang kuda, hehe) sepeda motorku agar lebih aman. Nuansa kampung Bali terasa kental banget. Aku masih belum bisa membayangkan tempat penyelenggaraan acara, ini pertama kalinya aku mengunjungi tempat ini. Tertera di sebuah dinding papan nama bertuliskan ’GEOKS’ Geria Olah Kreativitas Seni.
Beberapa orang tampak bergerombol di meja registrasi. Rata-rata didominasi oleh para bule Jepang dan dari negara lain. Pengunjung lokal memilih untuk berteduh dahulu ketimbang menerobos antrian registrasi. Beberapa dari orang local tersebut ku-identifikasi sebagai anak-anak teater & seni yang beberapa diantaranya sudah tak asing lagi. Dadap, Lia dari teater Orok, Harris Lawera & Obe adalah wajah-wajah yang langsung aku kenali. Merekapun tersenyum & menyapa ramah diriku yang hanya datang sendirian, hix hix… T_T.
8.15 pm, aku udah tak tahan berdiri mematung nonton hujan yang tak kunjung reda. Aku memaksa ikut ngantri, paling gak biar bisa nyari posisi nyaman buat nonton. Ternyata dugaanku meleset, begitu aku memasuki venue pertunjukkan, kursi-kursi sudah terisi penuh. Meski hanya kursi plastik tapi pengunjung tampaknya sangat antusias berebut kursi-kursi yang tertata berbanjar... ketimbang gak dapat tempat duduk, hehehe. Di barisan paling depan, tepat didepan panggung pertunjukkan, beberapa orang duduk lesehan beralaskan tikar bambu. Ruangan penuh sesak, gemuruh orang-orang lalulalang membuatku pusing. Belum lagi suara hujan yang kian deras dan bajuku yang basah selama perjalanan tadi membuatku semakin tak nyaman. Akhirnya aku memilih turut serta duduk lesehan tepat didepan panggung.
Mengapa venue pertunjukkan tak diperhatikan kenyamanan, akses sirkulasi kendaraan & orang, dan juga tempat duduk penontonnya? Meski itu sebuah pusat seni, tapi kalo dibuat sebagai tempat pertunjukkan bukankah perlu dipertimbangkan pengaruhnya pada penonton?! GEOKS seperti wantilan atau bale banjar yang difungsikan sebagai gedung pertunjukan seni. Entah karena cuaca juga tak mendukung atau memang kurang matang persiapan, aku merasa pertunjukan malam itu cacat oleh hal-hal teknis. Microphone MC seringkali tak berfungsi. Soundsystem juga gak surrounding, suara jadi pecah. Apalagi aku dan beberapa penonton lain yang duduk lesehan tepat didepan panggung, amat sangat tak nyaman dengan bunyi dari speaker yang berada didepan panggung mengarah kehadapan kami! Beberapa kali tirai penutup panggung juga macet, untung dikerek secara manual, hehehe. Efek pencahayaan juga gak terlalu dramatis. Justru pada penampilan ketiga yang hanya memanfaatkan empat buah lilin serta tambahan dua lampu halogen, yang membuat suasana pertunjukan jadi benar-benar mencekam. Sisa pertunjukan lainnya, efek lampu gak terlalu membantu menghidupkan karakter. Ampun deh untuk sebuah pertunjukan besar (bahkan menurutku ini termasuk international event lho). Coba kalo dikelola dengan lebih baik lagi, pertunjukan malam itu bisa jadi festival international dance theatre perform yang gak kalah ama event kuta karnival deh, hehehe…
Satu hal lagi yang bikin seru, bahwa pementasan teater sama halnya pertujukan & event yang adalah kerja team. Kesuksesan pertunjukan teater adalah kesuksesan team secara keseluruhan. Bukan hanya karena si penari/performer yang keren memukau, tapi team yang turut terlibat didalamnya juga berperan penting. Bayangkan aja kalo dancer, pemain teater atau performer cuma kerja sendirian, dia yang geret-geret tirai panggung, dia yang men-setting panggung, dia yang ngurus registrasi tiket masuk, ngundang penonton, promosi & publikasi, nyusun scenario, make up, nyiapin property & kostum, nyiapin konsumsi, nata kursi-kursi penonton, masang poster, ngatur lighting panggung, ngatur soundsystem, dia juga yang nge-MC, bahkan nantinya dia juga yang ngasi karangan bungan buat dirinya sendiri setelah tampil... (asal jangan ampe penontonnya juga adalah dia...hehehe). wuuiiih kebayang kan ribetnya & pasti bakal kacau balau tuw. Makanya, team player yang mendukung suksesnya sebuah pertunjukkan patut diacungin jempol & dihargai...!!!
Ini niy para performer & karyanya yang ditampilkan pada Three Dance Maestros From Japan, 12 Desember 2008 di GEOKS (Geria Olah Kreativitas Seni) Br. Sengguan – Singapadu:
- Yuki (Snow); dance by Keiin Yoshimura, music by So Sugiura
- Kuu (Emptiness); dance by Yoshito Ohno, Light and sound by Toshio Mizohata
- Hakuyou (Whitemelt); dance by Saga Kobayashi, music by Raita Ishikawa
Aku salut banget ma Yoshito Ohno, sangat brilian sangat ekspresionis sangat sangat sangat sangat sangat keren keren abis deh… aku kehabisan kata. Karakter wajahnya tuh bener-bener hidup, aku ampe bergidik melihat pancaran matanya dan mimik wajahnya yang berubah-ubah sesuai karakter yang sedang dimainkan. Aku larut dalam sosok kesedihan yang diungkapkan dalam kesendirian & kepedihan, kematian & suicidal... begitu pula tatkala ia menjadi sosok yang penuh keriangan, kebahagiaan yang terpancar membuatku tersenyum... terasa bersemangat & penuh gejolak, KEREN..!!! he’s so enjoyfull with his body.. eventhought he do the monolog dance thetre.. he’s so rich with the character, banyak peran yang ia mainkan dalam satu pertunjukan. Ketika ia membungkuk memberi hormat pada penonton diakhir session, yaaa ampun... lembuuuut sekali, ada ‘kesopanan’ yang membuat kita jadi turut serta membungkuk, memberi hormat balik padanya. Aku ampe gak bisa bergerak untuk beranjak dari tempat dudukku meski acara udah selesai. Sosok tua-nya membuatku teringat pada hari tua... pada kematian.....
Saga Kobayashi juga gak kalah kerennya. Jepang identik dengan film horornya... naah Hokuyou atau Whitemelt ini benar-benar seperti nonton film The Ring live on the stage… seolah-olah Sodakoh si hantu sumur itu sedang menteror kami secara langsung. Gerakan yang seperti diadopsi dari film si Hantu Sumur keluar dari TV (tapi ini hanya gerakan simbolik yaa...) sangat nyata & benar-benar sempurna… Suasana mencekamnya membuat bulu kudukku berdiri. Pesan kematian... diiringi suara-suara seram... dibalut dalam keremangan lilin... sosok meyeramkan itu benar-benar nyata. Diakhir pertunjukkan, lilin dipadamkan satu per satu... bagian ini adalah favoritku... Prosesi memadamkan lilin itu memberikan sentuhan mistis. Sosok Kobayashi yang berubah kostum dari putih hingga ke kostum merah, dibalik lilin yang akan ia padamkan... ada kepedihan, ada kepasrahan, ada ketakutan, ada teror yang mengancam siapa saja...
Perfom pertama, aku kurang menikmati karena selain aku masih adaptasi dengan keadaan. Aku juga merasa pertunjukan pembuka itu sudah langsung berat, sedangkan penonton belum terlalu siap menerimanya, penonton masih sibuk mencari posisi duduk yang nyaman. Masih terdengar kegaduhan, padahal di pertunjukkan pertama itu, suara yang bersumber dari alunan kecapi adalah inti yang membangkitkan jiwa & ritme yang mengendalikan gerakan penari.
Maaf, sebenarnya aku gagal menangkap makna yang hendak disampaikan. Ketiga pertunjukkan itu hanya kunikmati sensasinya saja, gak ampe makna-makna yang hendak disampaikan (aku terlalu lelah & kedinginan untuk melakukan telaah).
No comments:
Post a Comment