Lalu, kelas 1 SD aku pindah ke Bali. Aku agak susah beradaptasi. Teman-teman baruku di SD itu juga gak membantuku beradaptasi. Aku masuk SD juga sudah menjelang ujian Cawu 1. Kondisi lingkungan Bali yang berbeda, bahasa dan budaya mereka, karakteristik karakter orang-orangnya dan banyak hal deh yang bikin aku sedikit shock. Aku ingat banget sewaktu diperkenalkan sebagai murid baru didepan kelas, banyak banget yang cuek ma aku. Bahkan aku gak kebagian tempat duduk karena bangku kelas sudah penuh terisi. Terpaksa aku duduk bertiga dalam satu bangku untuk beberapa hari. Aku merasa tersiksa banget, bukan karena duduk berdesakan, tapi karena teman sebangkuku itu tak menerimaku. Heee aku sering banget dicubitin, disenggol sewaktu menulis, bukuku dicoret-coret, hingga aku sering banget disuruh pindah aja. Duuuh nyebelin banget deh, tapi aku tetap bertahan aja. Ujian cawu 1 itu nilaiku jeblok, untuk pertamakalinya aku mendapat nilai 5 merah yang kontras banget untuk nilai Bahasa Bali. Aku ampe menangis dan bertekad untuk memperbaikinya. Terlebih-lebih karena teman-teman Bali-ku yang sedikit menyebalkan pada waktu itu, yang memulai permusuhan propinsialisme ma aku..
Lalu aku dapat bangku sendiri, eeh gak dink lagi lagi ma cowok. Aku duduk dibelakang banget. Aku gak tau siapa yang bisa ku jadikan sahabat. Aku bebas berpindah di suatu kelompok ke kelompok lainnya. Sewaktu SD mereka semua berkoloni seperti genk-genk gitu deh, kecuali aku. Tapi ternyata, bukan hanya aku yang gak suka berkumpul-kumpul gitu. Namanya Menik, dia sering banget jadi juara kelas. Dia energik banget, dia juga pernah jadi ketua kelas Karena bawel, tegas, dan tomboy-nya.
Kelas 4 aku akhirnya bebas memilih teman sebangku. Dan pada saat itu Menik mengajakku duduk bareng. Kemudian kami jadi sangat akrab. Aku jadi tau kalo dia itu sangat disiplin dan keras menempa dirinya. Dia smart tapi juga gak sombong. Aku ma dia jadi sering belajar bareng. Kami menghafalkan UUD ‘45 lengkap. Kami punya buku belajar pribadi. Isinya hafalan UUD ‘45, jawaban soal-soal, hafalan rumus-rumus, latihan membuat karangan. Kami saling mengoreksi buku tersebut dan berlomba-lomba jadi yang terbaik. Hahahaaa suatu tantangan yang sangat seru.
Pernah seumur hidupku selama aku sekolah aku mendapat nilai NOL sewaktu ulangan matematika. Yaaa aku sangat membenci angka dan hitung-hitungan. Meski aku suka banget memecahkan rumus-rumus, karena rasanya puas banget mendapatkan result-nya. Tapi ketika aku mendapat nilai Nol itu, aku benar-benar semakin membenci pelajaran itu. Tapi, Menik membesarkan hatiku. Dia memberiku semangat untuk pantang menyerah dan kami jadi banyak berlatih lagi. Dari Menik pula aku belajar banyak tentang budaya Bali. Aku juga mengikuti pelajaran agama Hindu di kelas. Dan aku jadi suka banget pelajaran Bahasa Bali.
Menik banyak musuhnya juga, abis dia tegas banget sih. Saat itu dia jadi ketua kelas, dan ada kelompok genk yang sangat nakal yang jadi preman di kelas kami. Dari Menik aku belajar untuk tegar dan menyembunyikan rasa takut pada siapapun. Karena orang-orang seperti mereka hanya menggertak pada kita, kalo kita tegar menghadapi mereka lah yang akan takut pada kita. Ya terbukti juga, aku ma Menik jadi orang yang cukup diperhitungkan kalo mu ngerjain kami berdua. Tapi Menik lebih frontal menghadapi mereka, dia akan melawan siapapun yang bertentangan dengannya. Wuiih, segitunya. Aku pun sempat dibela mati-matian ma dia ketika aku ditindas.
Aku ma Menik punya banyak kegemaran yang sama. Waktu itu, kami suka banget baca majalah Bobo dan Donal Bebek tapi uang kami gak cukup buat langganan. Makanya kami lalu patungan sehingga tiap bulan bisa beli majalah itu. Bonus-bonus dari majalah itu sering pula kami jual ma teman-teman buat nambahin beli majalah. Selain itu, majalah itu juga kami sewakan ma teman-teman dikelas, kami jadi punya perpustakaan kelas sendiri deh. Seru aja, abis sewaktu kelas 4 guru wali kelas kami sering banget sakit dan sibuk gak jelas sehingga banyak banget jam kosong.
Bukan hanya itu aja, kami juga buka usaha origami. Hahaaaa… Menik tau aku suka ngotak atik kertas bikin sesuatu, lalu aku ngajarin dia bikin origami macem-macem. Teman-teman sekelas jadi tertarik juga. Tapi Menik punya ide lain. Hahaaaa, aku disuruh jual origami itu dengan imbalan kertas-kertas juga. Aku ma Menik jadi semangat belajar bikin macem-macem yang unik-unik dari kertas. Mulai dari origami biasa seperti burung, bunga, kodok, kotak, keranjang, dompet hingga buat kotak pensil dan macem-macem deh. Imbalan kertas disesuaikan dengan tingkat kesulitan pesanan. Aku ma Menik jadi ngumpulin lembaran kertas-kertas buanyak banget. Kertas itu kami manfaatkan jadi buku corat-coret. Makanya kami jarang beli buku tulis buat selain buat sekolah. Hahahaaa, bahkan aku masih punya kertas-kertas itu hingga SMA buat corat-coret atau latihan soal-soal. Aku suka nulis-nulis di kertas lembaran sih daripada di buku utuh.
Aku ma Menik juga punya barang-barang koleksi masing-masing. Aku ma dia sering banget bersaing dalam banyak hal, seru sih, jadi semangat & tertantang. Kami suka berlomba juga dalam olahraga. Dia jago atletik, staminaku gak sekuat dia sih meski kami sama-sama bertubuh kecil waktu itu. Aku lebih menonjol berkreasi membuat sesuatu. aku suka alam. Yaa kami saling mengisi.
Buku Diary pertamaku adalah hadiah ulang tahun dari dia, sehingga aku jadi suka banget curhat disana tentang apa aja. Sampulnya lembut dengan gambar gedung biru yang didominasi ma awan langit dan hijau tumbuhan. Aku suka banget. Buku itu masih ada ampe sekarang. Apabila aku baca lagi tulisan-tulisan di diary itu, membuatku menitikkan air mata. Banyak banget kenangan tertulis disana.
Ampe kelas 6 aku ma Menik dekat banget. Kemudian, SMP kami harus berpisah. Dia sekolah di Denpasar dan aku harus di sekolah di Nusa Dua karena pilihan orang tuaku T_T. Tapi kami sering banget berkomunikasi melalui surat. Semenjak aku ma Menik berlangganan majalah Bobo dan Donal Bebek, kami punya sahabat-sahabat pena dan terbiasa menulis surat-surat. Karena itulah, aku ma Menik jadi bersahabat pena juga. Setiap minggu kami bertukar surat, isinya panjang dan berlembar-lembar. Namun, kemudian entah kenapa kami jadi jarang ketemu dan bertukar surat lagi. Dia dan aku dah sibuk masing-masing. Sekarang aku pun tak tau dia dimana, apa kabar ya dia….???
No comments:
Post a Comment