Tuesday, June 24, 2008

Friends_1

Entah kenapa aku jadi teringat sahabat-sahabatku dimasa lalu. Dan aku mulai berusaha untuk mengumpulkan kepingan kenangan yang tercecer. Pengen sih mengumpulkan juga sahabat-sahabatku itu yang juga tercecer entah dimana. Aku gak tau sekarang sedang berkecamuk perasaan apa sebenarnya.

Ya sahabat tuw merupakan harta yang tiada ternilai dech. Dia adalah orang yang takkan berjalan didepan kita untuk memimpin hidup kita. Dia pun takkan berjalan mengekor dibelakang kita untuk kita pimpin. Tapi dia akan berada disamping kita untuk mendengarkan kita dan menemani kita menapaki hidup bersama. Dia yang tatkala orang-orang meninggalkan kita atau sibuk dengan diri mereka masing masing… dia akan datang mendekat disamping kita hanya untuk saling bercerita tentang papun. Dia yang tak akan meninggalkan kita papun yang terjadi. Dia yang akan mendengarkan yang tak hanya yang kita ucapkan saja, tapi dia juga mendengarkan apa yang tak kita ucapkan. Andai dia hidup 100 tahun, aku ingin hidup 100 tahun kurang satu hari, karena aku akan kesepian pabila dia tak ada.

Entahlah… hingga saat ini aku masih merasakan arti seorang sahabat sangatlah penting daripada seorang pacar. Mungkin karena aku belum menemukan kekasih sejati. Untuk pacaran aku masih merasa adalah sebuah hubungan dengan suatu komitmen khusus untuk saling mengenal satu sama lainnya. Kalo emang gak bakal dibawa kearah pernikahan so it supposed to be fun. Untuk definisi pernikahan sendiri itu perlu kajian tersendiri. Yaa karena manusia makhluk sosial, kita selalu ingin hidup berdampingan dengan orang lain. Pabila harus ada komitmen ya kita bikin komitmen seperti apa yang akan disepakati bersama. Ini hanya menyangkut bagaimana menjalani hidup yang dirancang bersama, komitmen seperti apa yang dibentuk dan yaaa aku akui juga perasaan pun mempunyai andil dalam suatu hubungan.

Sahabat tak perlu komitmen khusus. Tak perlu ada kata putus ataupun kesepakatan-kesepakatan. Ada rasa sayang yang tak terlarang. Ada jalinan kebersamaan dalam waktu dan ruang yang tak terbatas. Ada chemistry yang melibatkan perasaan. Ada sedih, senang, kebersamaan, pertengkaran, petualangan, tantangan, dan many many of colorfull life… ^_^ yaa gitu dech, aku gak pandai merangkai kata-kata indah, aku gak terlalu melankolis untuk beromantis ria.

Tiba-tiba kelebatan kenangan akan sahabat-sahabatku mulai bermunculan di kepalaku yang telah penat dengan permasalahan-permasalahan hidup yang complex. Arti sahabat saat ini mulai sedikit rancu untukku… dimana para sahabatku ya..??? teman ya teman, sahabat beda dalam banyak hal…!!!

TK dulu… aku punya seorang sahabat. Sejak kecil aku emang tomboy yang teman-temanku kebanyakan cowok-cowok rame. Berangkat dan pulang sekolah aku lebih sering dengan teman-temanku yang rame itu. Hingga kemudian pada suatu waktu aku sedikit bosan dan memutuskan untuk berjalan pulang sekolah sendiri dan bertemu dengan Fitri (kalo gak salah nama ya, abis dah sejak TK bo’). Aku mulai suka melalui jalanan yang diperkenalkan oleh Fitri. Melalui persawahan yang sedikit sepi dan kadang menyeramkan karena beberapa kali aku memergoki ular-ular sawah melintas dihadapanku. Aku jarang bermain bersama dengannya baik di rumah maupun di TK, tapi dia memperkenalkanku akan banyak hal. Dia sering banget datang ke rumahku untuk mengajak ke masjid bersama, untuk mengaji, sholat bareng dan menghadiri acara-acara di masjid. Kemudian, entah kenapa dia tiba-tiba menghilang dan aku baru tahu kalo ternyata bapaknya dipindah tugaskan didaerah laen. Yaaa untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa kehilangan seseorang yang tadinya kuanggap teman biasa aja tapi, mengingat potongan kenangan bersamanya membuatku merindukan sosoknya yang sangat sederhana, lembut dan apa adanya.

Diantara teman-temanku yang kebanyakan cowok-cowok, aku menjadi anak bawang (hix hix…). Tapi aku senanag karena aku jadi merasa terlindungi. Sayangnya Fitri gak bisa dekat juga dengan teman-temanku, tapi Fitri tetap sahabatku yang berharga. Pernah suatu saat di TK, aku dikerjain ma segerombolan anak-anak nakal yang gak suka aku duduk sebangku dengan temannya dan aku jadi dekat dengan anak itu. Mereka merasa aku merebut teman mereka. Lantas, ketika aku bermain ayunan, mereka mendorong ayunanku hingga tinggi banget dan gak bisa berhenti. Aku panic hingga tak mampu berkata apapun apalagi berteriak. Guru-guru tak ada yang menghampiri taman bermain sehingga aku tak tau lagi harus berbuat apa. Gerombolan anak-anak itu meninggalkanku yang masih di ayunan yang tak mau melambat. Jam istirahat habis, hanya aku sendiri di ayunan dengan ketakutan. Tapi ternyata aku tak sendiri, Fitri menemaniku meski diapun tak tau harus berbuat apa. Tapi aku senang banget paling gak aku gak sendirian. Setalah ayunan melambat dan berhenti, jantungku langsung berdetak kencang. Rasanya mual banget. Semenjak itulah aku jadi phobia ketinggian hingga saat ini.

Fitri gak harus jadi pahlawan yang akan menyelamatkanku, dia cukup menemaniku. Fitri gak harus membelaku melawan gerombolan anak-anak itu, dia cukup diam dengan sabar menjagaku diayunan itu. Dan aku sangat menghargai itu semua.

Fitri anak yang pendiam dan penyendiri karena itulah ibunya sempat berpesan untuk menemaninya bermain. Aku ingat sewaktu dulu aku paling senang bermain-main peran. Menjadi dokter-dokteran, guru, insinyur, panari hingga penjahat. Aku suka bermain dengan benda-benda disekelilingku dan dengan sentuhan imajinasi menjadi benda yang kita inginkan. Fitri suka banget mainan jual-jualan, dia jago banget negosiasi harga, tawar menawar. Lagi-lagi aku belajar itu juga darinya. Heheee meski aku pada dasarnya gak bisa banget jualan apalagi tawar menawar. Fitri meski pendiam gitu ternyata punya bakat pedagang, diam-diam aku jadi pengen juga merasakan jadi penjual. Karena setiap maenan seperti itu aku seringkali memilih jadi produsennya aja ketimbang harus bernegosiasi jual beli.

Fitri termasuk anak yang pandai dikelas, kami sering belajar bareng. Jadi ingat kenangan dulu waktu kecil aku sering banget bermasalah dengan belajar, hehee bapak ibu dan bibiku yang getol banget ngajarin aku ampe teriak-teriak sendiri. Tapi sekarang aku maklum dan ternyata ajaran mereka yang kadang disertai hajaran (hehee) bermanfaat juga dalam hidupku. Aku suka belajar dengan caraku sendiri. Kadang aku suka belajar bareng ma teman-temanku. Kadang aku suka belajar ditempat-tempat yang membuatku nyaman. Aku sering banget lari ke rumah kakek neneku, Karena aku suka baca buku di belakang rumah mereka. Yaitu sebuah tempat yang sedikit seram, berupa kuburan. Tapi dulu aku tak merasakan takut, Karena kuburan itu juga sering dijadikan tempat istirahat orang-orang (yang masih hidup tentunya), aku ma keluargaku juga sering makan-makan & ngerujak bareng di sana. Tempatnya adem dan rindang. Tapi sekarang, aku jadi mikir panjang kenapa kuburan kok digituin ya…??!!!

Kemudian aku masih sempat sekolah SD di Surabaya. Fitri entah dimana dia berada. Aku berteman dekat dengan dua orang yang sedikit unik. Yang satu sangat macho meski dia cewek tulen, namanya Denok. Yang satu lagi sangat kalem dan keliatan rapuh banget dan dia merupakan tetangga sebelah rumahku, namanya Dian. Denok dan Dian merupakan dua orang yang bagaikan langit dan bumi. Kehidupan keluarga Dian sangat teratur dan disiplin tinggi sedangkan Denok sangat freedom deh istilahnya. Aku teringat sewaktu kami belajar tari bersama untuk pementasan sekolah, bernyanyi bersama untuk radio, banyak kejadian lucu deh. Aku dan Denok sering banget berselisih dan Dian selalu menangis melihat kami bertengkar. Hahahaa…!! Aku dan Denok sering banget rebutan apapun, mulai dari mainan, buku, pensil atau apapun deh. Semenjak TK hingga SD itu aku selalu duduk sebangku dengan cowok. Denok selalu ngerecokin aku ma teman sebangkuku itu. Denok sering datang ke bangkuku untuk pinjam ini itulah, atau malah sengaja banget duduk di bangkuku ampe aku gak kebagian duduk. Pulang sekolah kami bertiga sering Jalan bareng karena satu arah. Aku ma Denok sering kejar-kejaran dijalanan, lalu Dian lah jadi penengah. Kalo Dian dah nangis dan ngambek, aku ma Denok langsung pura-pura baekan lagi. Hahahaaaa…. Betapa aku kangen banget ma mereka semua. Aku gak pernah tau lagi kabar mereka.

No comments: