Friday, September 16, 2011

Pementasan Drama "Pesta Para Pencuri" Teater Bendrat, di Parade Teater Se Bali 2011

Pementasan_drama_pesta_para_pe

" Pesta Para Pencuri"
Saksikan Pementasan Drama "Pesta Para Pencuri" Teater Bendrat, di Parade Teater Se Bali :

Pada Hari : Senin, 19 September 2011
Jam : 19.30 WITA
Tempar : Gedung Kcirarnawa Art Centre Denpasat
HTM : hanya Rp. 5000,-


Sutradara : Yuanita Ramadhani
Aktor :
A.A Ayu Winda Sandra Devi
Komang Meilia In Diana
I Md Agus Rai Purbawa
Agung Bagus P
Ayu Putu Indah Yuniorika
Daniel Alexander
Boy Sandi Halim
Lim Chai Phen
Gracia
Febrian Niko

Musik :
Nyoman Randy – Gitar
Marcellius Etmon Dania – Bass
Grady Boanerges – Drum
Ricky Setiadi – Keyboard

Pimpinan Artistik : Yuanita Ramadhani
Tata Lampu: Iwan “Curex” Kurniawan
Tata Rias : Wayan Padmi
Tata Gerak : Ayu Putu Indah Yuniorika
Tata Busana : Tim Artistik Pesta Para Pencuri
Properti : Ruddy Kurniawan
Grafis : Komang “Totok” Parwata
Pimpinan dan Penanggung Jawab Produksi : Yuanita Ramadhani


Konsep Pementasan :
Drama ini diambil dari naskah asli berjudul “Le Bal Des Voleurs” karya seorang dramawan Jean Anoulih dari Perancis., dipentaskan pertama kali di Théâtre des Arts, Paris pada 17 Augustus 1938 lalu diterjemahkan kedalam teks Inggris oleh Lucienne Hills menjadi Thives’ Carnival (1952). Di Indonesia di terjemahkan oleh Asrul Sani (Pustaka Jaya, 1986) menjadi “Pesta Pencuri”.
Naskah ini menceritakan para pencuri yang selalu ingin mencuri bahkan mencuri dari sesama mereka.
Jika kembali keteks asli peristiwa dalam naskah adalah peristiwa tahun 1883, yang mana masa itu kaum borjuis di Perancis sangat mendominasi kekayaan atas tanah disebagian besar daratan Eropah. Sementara kaum proletar yang justru lebih banyak populasinya semakin mengalami kesusahan hidup. Kaum borjuis seakan tidak peduli dengan kondisi social masyarakat yang miskin, mereka seakan berlomba-lomba untuk menumpuk kekayaan guna kepentingan sendiri dan keluarganya. Bahkan menghalalkan segalanya, termasuk mencuri dari kaum borjuis sendiri.

Sungguh kebetulan Naskah ini sangat mirip dengan peristiwa yg sedang dialami oleh Negara kita saat ini. Seakan Jean Anoulih telah meramalkan peristiwa ini akan terjadi di Indonesia, sangat ironis memang. Penguasa tanpa malu seakan berlomba mempertontonkan keinginan mereka untuk mencuri guna memperkaya diri dan keluarganya. Korupsi seakan dibenarkan tanpa adanya hukuman yang setimpal bahkan dibebaskan jika tidak mau dibilang di lupakan.. juga peristiwa-peristiwa lain yang sama memalukannya dengan mudah kita tonton setiap saat dilingkungan kita.
Drama komedi saduran Rachman Sabur ini yang dalam bentuk aslinya adalah Balet Komedi, dipentaskan oleh Teater Bendrat dalam 4 babak.
Babak pertama, Rencana:
Tiga orang pencuri Piktor, Petbun dan Gusdul bertemu dengan keluarga Nyonya Molen yang kaya raya di sebuah Café, mereka bertingkah layaknya orang kaya, dan berhasil memikat keponakan-keponakan Nyonya Molen, Yeyet dan Lela. Pada saat itupula ternyata 2 orang Togar yakni Togar Tua dan Togar Muda, memiliki rencana yang sama untuk mencuri dari Nyonya Molen. Mereka pun berusaha memikat salah satu dari Lela dan Yeyet untuk dipersunting oleh Togar Muda. Namun sayang Togar-togar ini tak berhasil memikat mereka.
Nyonya Molen sangat terpesona dengan kehadiran Piktor, Petbun dan Gusdul. Bahkan mengira Petbun adalah Ahmad Fernando Gomez salah seorang kenalannya yang telah lama tidak berjumpa. Sangking terpesonanya, Nyonya Molen bahkan mengajak mereka untuk menginap di Villa miliknya, tanpa memperdulikan peringatan Tuan Bakpau, bahwa mereka adalah orang asing, bukan seperti yang diduga Nyonya Molen.
Babak Kedua, Kisah Cinta:
Nyonya Molen yang terkesan bahagia ternyata adalah seorang perempuan yang menjadi janda karena ditinggal suaminya. Dan hal tersebut sangat mengagetkan Lela, dan paham mengapa selama ini Tuan Bakpau begitu baik kepada tantenya Nyonya Molen.
Piktor berhasil memikat Lela, begitu pula Gusdul yang berhasil memikat Yeyet. Tapi ternyata Yeyet benar-benar jatuh cinta kepada Gusdul, demikian pula Gusdul jatuh cinta kepada Yeyet. Hal ini membuat Gusdul ingin segera pergi dari villa tersebut tanpa melanjutkan rencana mereka bertiga untuk mencuri di villa itu. Tentu saja hal ini menyebabkan pertengkaran diantara ketiga pencuri itu.
Tak diduga diam-diam Tuan Bakpau menyelidiki ketiga pencuri tersebut dan Tuan Bakpau berhasil mendapatkan bukti bahwa Petbun bukanlah Ahmad Fernando Gomez, sebab Ahmad Fernando Gomez yang asli telah meninggal. Mendengar hal itu Togar Tua dan Togar Muda mengambil peluang dengan memberikan kesan bahwa mereka sebenarnya adalah Intel dari kepolisian, yang sedang mengawasi gerak gerik Petbun, Piktor dan Gusdul padahal merekapun sebenarnya ingin mencuri dari villa tersebut.

Babak ketiga, Dilema;
Gusdul tak menyangka, saat melakukan pencurian di villa Nyonya Molen, ternyata Yeyet mengamati dan membututinya. Ditengah kemarahannya Gusdul terdiam ketika Yeyet mengatakan siap untuk menanggung resiko hidup bersamanya walau ia adalah seorang pencuri.

Babak Keempat, Rahasia Terbongkar:
Sepulang dari karnaval, Nyonya Molen mendapati Villa nya telah dimasuki pencuri. Togar Tua dan Togar Muda yg seolah-olah Intel dari kepolisian memaksa Petpun, Piktor dan Gusdul untuk menyerah. Namun tiba-tiba Polisi datang dan menodongkan senjata kearah Togar Tua dan Togar Muda.
Kisah ini berakhir dengan terkuaknya bahwa ternyata mereka semua adalah Para Pencuri hasil rancangan Tuan Bak Pau, Tuan Bakpau adalah justru orang yang paling tau, merekrut, mendidik dan selanjutnya membiarkan mereka untuk mencuri dari sesama pencuri.
Dalam drama empat babak tersebut sutradara membuat konsep pementasan dengan berdialog, menari dan bernyanyi dengan mengambil gesture-gestur kartun, gerakan-gerakan dansa Chacha, Waltz, dan Bogie Woggie. Dialog yang multikultur, lagu-lagu yang didendangkan berima Jazz, Bosanova, dangdut dan rock n’ roll. Semua terasa sangat menyenangkan dan menghibur juga menggelitik penonton seakan melihat situasi politik Indonesia saat ini. Mengunakan set Café dan halaman Villa pementasan ini mengingatkan kita bahwa sesungguhnya jika duduk dipusat kekuasaan, tidak perlu lagi menyoalkan kecerdasan dan hati nurani, tetapi bagaimana strategi disusun, didukung persiapan yang matang, lalu menemukan cara untuk menarik perhatian , tidak perlu elegan dan manis untuk mengumpulkan kepercayaan masyarakat agar jatuh hati kepada sebuah gerakan komunitas dan pemujaan terhadap sang bintang. Cukup dengan melemparkan seonggok lembaran rupiah, dan membiarkan jika mereka saling mencatut dari yang lainnya.

Sinopsis

Mereka adalah para pencuri. Pencuri yang sebenar-benarnya mencuri. Mereka sebenarnya orang yang jujur, yang mengerjakan pekerjaan tanpa banyak cincong dengan berbagai macam taktik dan daya, bahkan menggunakan cinta.
Mereka pencuri. Lalu kenapa? Lagi pula waktu Tuhan menciptkan pencuri, ia harus mempreteli beberapa milik-NYA, lalu ia ambil dari mereka rasa kehormatan manusia yang jujur. Rupanya mereka tidak banyak mengetahuinya dan merasa diri dikejar-kejar oleh keinginan dan topeng yang berubah-ubah atas nama peran guna mencuri. Dan, Hei….. !!! ini adalah pementasan sandiwara!!! Semua dari kita adalah pencuri karena kita dididik oleh pencuri untuk menjadi seorang pencuri!!!

Posted via email from youth corner bali

No comments: