'KEAJAIBAN’… Terlahir dari Ibu bernama ‘Kesulitan’ dan Ayah yang bernama ‘Upaya’Wiseword yang membuatku sejenak menghela nafas… berdiri diambang keyakinan bahwa akan selalu ada pintu-pintu lain yang masih terbuka tatkala beberapa pintu telah terkunci, asalkan kita tetap berupaya & berpantang untuk menyerah. Banyak hal yang terasa tak mungkin namun dunia telah membuktikan bahwa tak ada yang tak mungkin… dunia telah menggoreskan tinta emas untuk banyak keajaiban yang seolah diluar nalar manusia. Bahkan banyak keajaiban kecil yang seringkali luput untuk kita syukuri & telaah baik itu malah terjadi pada diri kita, semua itu seringkali adalah hal-hal yang untuk sebagian orang adalah sangkalan & sanggahan. Tapi itulah kebesaran Tuhan, cara Tuhan bekerja yang selalu misterius. Bila Tuhan telah berkehendak maka tak ada tak yang mungkin. Kita harus mengetuk hati Tuhan agar Tuhan berpihak pada kita & segala hal yang tak mungkin itu akan menjadi kemungkinan.. apapun itu, Maha Besar Allah...
(Mario Teguh)
Saat ini aku tengah mengetuk hati Tuhan untuk memberikanku & orang-orang yang tengah berjuang bersamaku sebentuk keajaibanNya, cukup keajaiban kecil... Keajaiban itu sering aku dapatkan sebelumnya, aku tau hanya Tuhan yang mampu memberikan keajaiban itu... keajaiban yang bisa datang melalui siapapun dengan cara apapun dalam bentuk apapun, hanya dengan bersyukurlah kita bisa menyadri bahwa itu adalah sebentuk keajaiban... Kesulitan itu bentuknya relatif, kadarnya berbeda-beda bagi tiap-tiap orang. Begitu pula dengan kebahagiaan, kesenangan, keajaiban, anugrah, kecantikan, kekayaan & banyak hal deh yang menurutku bersifat relative & subyektif…
Aku dan beberapa teman-temanku sedang berjuang melahirkan buku antologi bersama 21 penulis muda Bali, Buku Puisi bertajuk Keranda Emas… yang merupakan kumpulan puisi-puisi dari para penulis muda yang aktif melahirkan karya puisi namun karya-karyanya hanya tersimpan rapi dalam catatan kertas, file computer ataupun di template handphone ^_^. Para penulis itu berasal dari beragam latar belakang, mulai dari seniman, pujangga, penulis novel/cerpen/skenario, sutradara, movie maker, actor, pelaku jurnalistik, actor, pemain teater bahkan kalangan mahasiswa/i. yaa siapapun bisa membuat puisi & bisa menikmati puisi.
Puisi memang tak memiliki jarak... puisi milik siapapun tanpa terkecuali, puisi lahir dari hati pemikiran perasaan pengalaman melibatkan seluruh indra & kesadaran sepenuhnya untuk melahirkan sebuah karya puisi yang diwakilkan dalam rangkaian kata yang tak selalu indah namun yang terutama adalah ’Jiwa’ yang terdapat dalam puisi tersebut. Jiwa atau roh yang terkandung dalam sebuah puisi lah yang membuat puisi itu mempunyai denyut kehidupannya tersendiri. Melalui puisi pembaca/penikmat puisi tersebut diajak berinteraksi merasakan getaran denyut kehidupan itu. Entah kesedihan, kebahagiaan, kemarahan, perasaan & pemikiran kebebasan, rasa sakit, jatuh cinta, kenikmatan, gejolak jiwa, kegundahan hati, kerinduan...
Perbincangan perdanaku bersama mas Tomo yang merupakan tokoh teater & banyak berkecimpung didunia sastra dan juga merupakan sosok kritis yang seringkali diperbincangkan oleh Moch & beberapa temanku lainnya, memberiku pemikiran lain mengenai puisi. Semula aku yang hanya mengenal mas Tomo berdasarkan referensi dari beberapa karyanya & pendapat orang-orang, sedikit canggung mengemukakan pendapatku mengenai puisi. Melalui mas Tomo aku sadar bahwa puisi adalah hanyalah suatu karya Sastra yang berdasarkan asal katanya adalah berarti sekumpulan kata yang tersusun memberi pengertian & makna. Puisi adalah bentukan kata, sama halnya dengan karya sastra lainnya (semisal cerpen, novel, pantun, skenario teater dll) yang materialnya adalah kata atau lebih kecil lagi berupa komposisi huruf-huruf...!!!
Dengan gaya kocaknya yang teaterikal, mas Tomo mengoreksi opiniku bahwa puisi mempunyai jarak dengan pembacanya, dengan masyarakat. Menurut beliau (ce’ileh ’beliau.. kayak pejabat negara aja daah, hehee), puisi lahir ditengah-tengah masyarakat, berdasarkan kehidupan di masyarakat, pun puisi juga dipersembahkan untuk masyarakat... Puisi terlihat eksklusif identik milik para intelektual berpendidikan, pujangga, sastrawan atau hanya orang-orang tertentu yang memiliki kedalaman perasaan & pemikiran (misalnya orang yang tengah patah hati, jatuh cinta, kehilangan teramat sangat, menderita teramat pedih, orang-orang mencapai tahap pencerahan ketuhanan dll...), itu semua hanyalah ke-ego-an yang seringkali dimiliki oleh para pujangga/seniman (Yaaa banyak yang mengakui bahwa para seniman/sastrawan memilki ego yang tinggi, hal ini diakui dengan jujur oleh banyak sastrawan/seniman).
Apakah pedagang bakso tak bisa membuat puisi yang berbobot? Apakah anak berumur sembilan tahun tak mampu membuat puisi kritis yang mencengangkan? Apakah orang awam yang bahkan tak mengenyam pendidikan yang layak lantas diklaim tak bisa menciptakan puisi yang fenomenal? Kadar pengakuan diri sebagai seorang pujangga/sastrawan/penyair bisa dibilang relative juga, Karena sebenarnya puisi itu merupakan karya yang membutuhkan pengakuan atau penghargaan baik oleh si penciptanya maupun orang lain. Puisi itu ibarat seorang anak yang dilahirkan oleh seseorang yang telah melalui proses pengeraman/kepompongisasi/perenungan/pemahaman dengan diri sendiri/ pergelutan dengan semua indra hingga lahirnya komposisi huruf yang membentuk kata dan kemudian menjadi kalimat dalam bait-bait tertentu. Puisi itu anak… yang lahir dari rahim penulisnya, setelah lahir puisi itupun kembali mengalami proses. Proses pematangan, pemilihan kata, penyusunan kalimat, pengaturan tanda & bentuk, bahkan ada tahap proses kritikisasi ^_^.
Setelah dilahirkan, apakah puisi itu mau disimpan sebagai harta terpendam si penciptanya atau ingin dibagi bersama orang lain adalah hak si penciptanya. Untuk banyak kasus, para pujangga/penyair/sastrawan ingin menunjukkan eksistensinya dan ingin mendapat penilaian/pengakuan dari orang lain. Untuk itulah ada buku puisi atau media massa yang memuat puisi yang merupakan media yang paling logik untuk menjadi tempat bersarangnya puisi, karena puisi adalah karya sastra yang berbentuk tulisan tentunya. Kembali berdasarkan pemikiran mas Tomo bahwa puisi mempunyai posisinya sendiri, puisi telah lahir hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat sebagai bagian yang integral.. Masalah puisi yang mempunyai jarak dengan masyarakat, kembali pada bagaimana kita menempatkan puisi itu.
Buku puisi tak selaris buku novel/cerpen yang saat ini tengah naik daun? Itu kembali bagaimana kita mendekatkan puisi & strategi pemasarannya, kalaupun memungkinkan bekerjasama dengan pedagang bakso yang laris manis terutama ketika cuaca mendung-mendung gini, maka kenapa tak dilakukan?! Mungkin tekniknya beli bakso sekian kali mendapat bonus buku puisi gitu mungkin... hehehe
Masih berdasarkan telaah mas Tomo bahwa wujud puisi adalah tulisan, yaaa hanya tulisan...!!! Mengekspresikan puisi menjadi bentuk-bentuk lainnya hanya membuat kerancuan puisi itu sendiri dan juga mengburkan jiwa/roh/makna yang terkandung dalam puisi tersebut. Puisi bisa dikawinkan dengan bidang lainnya? Yaaa tentu aja bisa, tergantung kreativitas & ekspresi kita aja, itu sah-sah saja dilakukan. Sekarang kembali lagi bagaimana kita memaknai & menghayati puisi itu sendiri. Mengekspresikan puisi dengan berbagai cara (seperti misalnya musikalisasi puisi, teaterikalisasi/dramatisasi puisi, prosalisasi puisi, film-isasi puisi dan lain sebagainya) hanyalah bentukan-bentukan yang dibuat-buat atau menurut istilah mas Tomo ’mengada-ngada’, hanya meng-’isasi’-kan puisi.
Apa bisa puisi tetap dipertahankan jiwa/makna yang meyertai sebuah puisi apabila telah di-ejawantahkan dalam bentuk misalnya nyanyian? Apa puisi yang dikolaborasikan dengan musik lantas tetap disebut puisi? Bukankah itu lebih pantas disebut lagu? Meski pembacaan tetap seperti membaca puisi pada umumnya dilakukan, hanya bedanya diiringi musik kreatif, apakah masih bisa disebut puisi? Lantas bagimana dengan pembacaan karya puisi? Apa itu tetap disebut juga puisi? Atau lebih pantas juga disebut monolog? Puisi dijadikan teater/drama? Sedangkan teater atau drama adalah pertunjukkan, dan puisi adalah sastra (tulisan), yang meski unsurnya teater/drama adalah sastra (tulisan) dalam bentuk skenario, tapi bukankah itu berarti puisi bermetamorfosis menjadi skenario? Yang notabene sekenario mempunyai kaidah-kaidah lain donk.
Mengembalikan ke ’bentuk’ asalnya... bahwa puisi adalah wujud karya sastra, maka nikmati saja sebagai karya sastra. Toh, puisi tetap kaya dengan kelebihan dan kekurangannya sendiri. Siapa yang bilang puisi tak punya peminat?! Siapa bilang puisi tak punya penggemar?! Siapa bilang puisi statis?! Siapa bilang puisi dimiliki secara eksklusif oleh orang-orang tertentu saja? Siapa bilang puisi tak punya posisi?! Siapa bilang puisi membosankan?! Siapa bilang puisi monoton itu-itu & gitu-gitu saja?! Siapa bilang puisi hanya sebentuk kata-kata yang diindah-indahkan atau dilebih-lebihkan?! Siapa bilang buku puisi gak bakal laris?!!!!! Aku tetap optimis menerbitkan buku puisi ini adalah pilihan yang benar, hehehee ini bukan proyek idealis & egoisme semata. Ini sebuah tantangan & petualangan di rimba kesusastraan yang ternyata cukup menyenangkan ^_^
Seru seru seru.... aku semakin tertarik menjadi penerbit buku, ada banyak hal yang harus dipelajari & diperhatikan. Mulai dari mengumpulkan penulis, royalti & penghargaan buat penulis, penyuntingan karya penulis, orang-orang yang akan terlibat dalam proses penerbitan pencentakan, harga jual yang pantas termasuk diskon-diskon, merchandise/gimmick yang memberi daya tarik lain, hingga pemasaran buku, event-event launching & event pendukung (competiton, exhibiton, promo event, diskusi, bedah buku etc), trategi promosi & pubikasi dan banyak mritil lainnya deh.
Desain perwajahan buku juga medapat perhatian yang sangat penting, karena buku itu ibarat produk yang akan dipasarkan, oleh karenanya baik isinya, desain perwajahan dan mritil-mritilnya harus mempertimbangkan idealis desainer/layouter, penerbit juga yang paling penting selera pasar. Diskusi doak gak cukup, perlu dilakukan survey pasar, termasuk mengumpulkan referensi yang mendukung dan juga hunting ide dari sana sini... prosesnya rumit juga tapi seru banget kok... ^_^
Keranda Emas itu adalah sudah merupakan simbol maka (katanya...) tidak bisa digambarkan atau diwujudkan dalam bentuk simbol lagi, yaitu berupa ’seorang gadis kecil dijalan’ itu... aku yang sempat mngedit buku puisi itu menjadi dummy juga membaca isi karya-karyanya, yaaa seperti yang disimpulkan Eka lagi bahwa ada banyak puisi yang berkaitan dengan wanita (dalam hal ini diwakilkan oleh sosok seorang gadis kecil membawa boneka yang memberikan aura kesucian, kepolosan & apa adanya, yaaa seperli layaknya anak kecil yang masih murni...) serta puisi mengenai kepedihan, kesedihan, pemberontakan jiwa... suasana & sosok gadis kecil itu mapu menggambarkan & mewakili isi puisi-puisi didalamnya (menurutku siy....). aku lebih setuju dengan pemaparan ide dasar Eka dibandingkan pabila harus menggambarkan bentuk keranda pada umumnya ato mungkin gambar-gambar kuburan gitu... waaah, bisa jadi malah disangka buku misterinya Agatha Christie dunk atau buku serial Dendam Nyi Pelet, hehehe...
Menyitir kata-kata mb’ Gilda dalam SMS untuk menyemangati benih-benihnya ini, bahwa kita akan menuai yang telah kita tabur… kita akan memetik hasil seperti yang kita tanam… bahwa sebelumnya kita akan melalui proses bercocok tanam, mulai menebar benih, merawatnya dari penyakit hama cuaca dsb, mengairi memupuk dll.. semua itu proses yang memakan waktu & membutuhkan kesabaran, semua itu proses yang beruntun yang harus dilalui setahap demi setahap… hmmm, Smangaaaatttttttt…….!!!!!!!!!! ^_^
No comments:
Post a Comment