Yogurt
Erin Moniaga
Aku menerima semangkuk plastik yogurt yang disodorkan padaku dengan senyum.
Kukatakan terima kasih padanya yang berdiri di balik konter.
Hanya sebatas itu dan kulahap yogurtku sambil lalu.
Tak kuingat seberapa sering aku mengunjungi tempat itu
Hanya untuk membeli yogurt.
Tak kuingat seberapa sering dia bertugas di sana.
Saat itu, aku tak menggubrisnya sama sekali. Lambat laun kukira aku mengingatnya yang berdiri di balik konter.
Dan kurasa diapun begitu.
Tanpa kusebutkan namaku, dia telah merekamnya dalam memorinya.
Terucap secara refleks.
Dan kuterima mangkuk plastikku.
Ada yang janggal, apa ya?
Baru kusadari dia menambah topping-nya ketika yogurt sudah setengah jalan kuhabiskan.
Aku menoleh dan mendapatinya tersenyum.
Untukkukah?
Ah, dia hapal dengan topping favoritku.
Tercetus begitu saja dari bibirnya.
Aku pun tertawa pelan.
Kukatakan terima kasih.
Di balik kertas tissu alas mangkuk plastik baru kusadari ada pesan yang tertulis ketika aku hampir membuangnya.
Yang tertulis di sana membuatku tersenyum geli. Astaga, aku begitu ceroboh.
Terjatuh karena terburu-buru ingin kembali ke mejaku.
Yogurtku pun tumpah.
Sial sekali pikirku sebal.
Tak dinyana dia menghampiriku.
Memberiku selembar kertas tissu sembari membantuku berdiri.
Lagi-lagi, ada pesan di kertas itu.
Pipiku memerah seketika membacanya.
Kucari dia dan dia berdiri di balik konternya.
Mengulurkan semangkuk plastik yogurt dan tersenyum manis.
Untukkukah?
Yogurtku yang biasanya asam dan hambar terasa semanis gula.
Aku tersenyum sendiri.
Aku menoleh dan lagi mata kami bertemu.
No comments:
Post a Comment