Showing posts with label review kegiatan. Show all posts
Showing posts with label review kegiatan. Show all posts

Sunday, August 26, 2012

Ketika Sekolah, Petani, NGO, dan Pemerintah Bertemu

Pertemuan Sekolah dan Healthy Food Healthy Living


 

Selasa pagi, 14 Agustus 2012 Healthy Food Healthy Living (HFHL) bersama dengan Veco Indonesia, Tamiang Bali dan Gapoktan Simantri 031, Blahbatuh, Gianyar mengadakan pertemuan dengan sekolah SMA/SMK se-Denpasar, Badung, dan Gianyar. Pertemuan yang dilaksanakan di tengah persawahan, tepatnya di Subak Village Simantri 031 Blahbatuh ini dihadiri oleh 6 sekolah, perwakilan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Gianyar dan Bpk DPRD Komisi B Kab. Gianyar. Adapun perwakilan sekolah yang turut berpartisipasi pada pertemuan kali ini adalah SMK N 1 Sukawati, SMA N 1 Blahbatuh, SMA PGRI Blahbatuh, SMK Pariwisata Mengwitani, SMA Soverdi, dan SMK N 3 Denpasar.

 


Pertemuan bersama dengan sekolah ini betujuan untuk memperkenalkan  dan memperkuat kolaborasi strategis sekolah dan HFHL. Diawali dengan memperlihatkan keadaan persawahan yang terdapat di Subak Village, para peserta diajak mengenal lebih dekat keadaan pertanian dan sistem pertanian terintegrasi (simantri) di Subak Village ini. Para peserta dapat melihat secara langsung  proses pengembangan bakteri yang nantinya digunakan dalam pembuatan pupuk dan pestisida alami.


Dsc01154

 

Kegiatan yang dilakukan tidak sebatas melihat-lihat sawah, tetapi para peserta yang berjumlah 30 orang ini dapat langsung berdiskusi dengan petani mengenai berbagai hal terkait. Para Petani disana juga diberikan waktu untuk menjelaskan proses memanfaatkan kotoran sapi menjadi dan pestisida. Para peserta sangat tertarik untuk mengetahui lebih dalam mengenai proses tersebut. Hal ini dibuktikan dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang terlontar kepada pak petani.



 

Setelah berkeliling di Subak Village, para peserta disuguhkan teh rempah yang sangat nikmat, didampingi dengan jajan Bali. Acara berikutnya adalah duduk bersama untuk bediskusi.  Uniknya, diskusi ini diawali dengan perkenalan diri dan para peserta diminta menyebutkan benda kesukaan masing-masing orang. Mereka tampak bersemangat ketika menyebutkan beranekaragam benda kesukaan dan filosofinya, ada yang suka kacamata, kelapa, bambu, dan masih banyak lagi.


Dsc01180

 

Perbincangan dimulai.  Keadaan pertanian saat ini khususnya di Indonesia menjadi pilihan untuk dibahas. Banyak masukan dan pertanyaan yang terlontar. Setiap peserta mendapatkan peranan yang merata dalam berdiskusi. Hingga akhirnya terlontar pertanyaan mengenai peranan kaum muda untuk membantu pertanian di Indonesia. Pada saat itulah saatnya HFHL berksi. Tim HFHL menjelaskan program dan peranannya terhadap pertanian. Diharapkan juga agar setiap sekolah dapat ikut serta membantu dalam kampanye HFHL yang akan berdampak positif untuk posisi tawar yang lebih baik bagi petani. Ternyata, pihak sekolah sangat mendukung gerakan HFHL dan meminta untuk mensosialisasikannya di sekolah mereka. Ini merupakan kesempatan baik bagi HFHL untuk memperluas jangkauan.



Pertemuan yang cukup singkat namun memiliki kesan dan pesan yang luar biasa. Banyak sekali masalah yang terpecahkan dalam diskusi ini.  Hal itu ternjadi karena pada  pertemuan ini terjadi interaksi langsung antara petani, institusi pendidikan, NGO, Komunitas dan juga perwakilan pemerintah.

 

Semoga kedepannya pertanian Indonesia tetap lestari dan mendapatkan posisi tawar yang lebih baik di masyarakat

 


Estalita

Posted via email from youth corner bali

Sunday, August 12, 2012

Karena “Harmony In Diversity", Beliau Datang - #SeminarAmbientMedia @arttitudebali oleh @Iwanesjepe

Arttitude

Berikut ini tulisan yang cukup menarik dari Shuma yang merupakan mahasiswa DKV ISI Denpasar yang ikut sebuah seminar dalam perayaan Arttitude #2 bertajuk “Harmony In Diversity” tanggal 10 Agustus 2012 di Kutabex. Shuma merangkum beberapa point materi yang menarik dan inspiratif. Semoga bisa menginspirasi juga buat yang lainnya :)

---

Karena mengusung tema “Harmony In Diversity”, saya MAU datang kesini… _Iwan Esjepe­_

Itulah salam pembuka dari mas Iwan Esjepe dalam Seminar Ambient Media yang aku ikutin pada tanggal 10 Agustus 2012 lalu., Seminar ini adalah bagian dari Event yang diselenggarakan oleh anak-anak jurusan Desain Komunikasi Visual ISI Denpasar yaitu Arttitude #2 “Harmony In Diversity”. Iwan Esjepe adalah orang yang sangat hebat, peduli pada lingkungan dan bangsa ini lewat “INDONESIA BERTINDAK”.
 

Berikut ini beberapa diantara sharing dari Iwan Esjepe di seminar tersebut:

1.     “karena mengusung tema unity, saya MAU datang kesni...” 
ya.. ini adalah kata2 pembuka yang beliau katakan.. beliau mengatakan “kalo mau teori desain dan sebagainya saya gak akan mau kesini, lebih baik kalian mengundang orang-orang yang jauh lebih berkompeten dalam bidang itu dibanding saya.. tapi karena mngusung tema itu, saya datang…” setelah berkata seperti itu, beliau membuka seminar..

 
2.     “Percayakah anda desain mampu mengubah dunia..?” 
Beliau membuka dengan pengertian tentang apa itu Ambient Media.. kurang lebih yang disebut Ambient Media tersebut adalah media non-konvensional mmberikan kejutan pada khalayak melalui pemamfaatan lingkungan sbg media baru.. kemudian beliau melanjutkan dengan pertanyaan “percayakah anda desain mampu mengubah dunia..?” tentu semua percaya karena segala sesuatu di dunia ini “didesain” kan… dan hal ini diterapkan dengan luar biasa dalam gerakan beliau yaitu “Indonesia Bertindak”

 
3.     “Desain itu bagus karena desain itu jadi, kalo masih di otak, itu belum bagus...” 
Iya.., sehebat apapun ide itu, kalo gak direalisasikan, gak akan bagus… sering kali kita menunda-nunda perealisasian ide sampai akhirnya ide itu direalisaikan oleh orang lain.. ngenes banget kan..?? apa gunanya kalo habis itu kita mengatakan “aku dulu kepikiran loh, bikin yang spt itu” gak guna man…!

 
4.     “Jangan terlalu terpola untuk melihat hal besar, hal kecilpun penting..” 
Dalam gerakan Indonesia Bertindak beliau begitu memikirkan hal-hal kecil yang ternyata berdampak sangat besar.. seperti poster bertuliskan “Pakaian Dalam dari Hati yang Terdalam”., sederhana sekali, tapi ternyata sangat efektif, banyak penyumbang… karena menyadari pentingnya sesuatu seperti pakaian dalam bagi manusia.. hahahaha…

 
5.     “Domination dimulai dg DO..!”
Waktu seminar, beliau memutar sebuah video.. Belajar dari India.. dalam video tersebut Amitabachan mengatakan bahwa India adalah negara yang penduduknya terdiri dari 2 golongan, golongan pesimis dan optimis., golongan yang terpuruk dan golongan yang percaya dirinya bisa terbang… salah satu quote yang sangat aku suka dalam video itu adalah “Domination dimulai dengan DO..!”
Do..! do it..!! jangan hanya berpikir, berkata.. tapi berbuatlah.., do it..!!
Do for Domination…!!

 
6.     “Kita terlalu bangga dengan apa yang dibuat oleh orang tua kita..”
Saat kita lahir, kita melihat begitu banyak hal besar yang ditinggalkan oleh para pendahulu kita., karena saking bangganya, sampai-sampai kita berpikir untuk “gak perlu melakukan apa2 lagi”

 
7.     “Ingat, kasi sesuatu untuk anak-anak kita nanti.”
Lanjut dari point di atas..,  kalo kita gak melakukan apapun., apa yang bisa generasi kita kasi ke anak cucu kita nanti..?? ^__^

 
8.     “Kalo negri kita gak makmur dan sejahtera, gimana kita bisa berbisnis dengan baik..?”
Ya.., beliau meluncur pembicaraan ke arah bisnis., bisnis bagus.., sangat bagus., gak mungkin munafik mengatakan kita gak perlu berbisnis., mau makan apa..??? tapi kalo negeri kita gak damai, gak sejahtera juga.. gimana kita bisa berbisnis dg tenang..?? ^__^

 
9.     “10% saja dari hidupmu untuk peduli pada lingkunganmu, negrimu...”
Lanjut dari point 8 di atas, ya… sedikitnya 10% saja dari hidupmu utk peduli pada lingkunganmu dan negrimu.. mendengar kata2 beliau ini, aku jadi inget kata2 yang pernah aku denger di tipi, kata2 dari Guruh Soekarno Putra bahwa “ apalah artinya jika kamu hanya tau berkesenian tapi kamu gak ngerti keadaan bangsa dan negara”

 
10.  “Indonesia kaya loh.. Puas, dengan yang sekarang ada..??”
Aku gak tau menjelaskan apa., aku speechless denger kata-kata beliau ini.. :)

 
11.  “Hello...kita berada di pulau yang di’idam-idam’kan org loh,,”
Beliau bercerita saat istri beliau pergi ke Yunani (kalo gak slh).. orang2 Yunani begitu tercengang begitu mndengar kata “Bali” dari istri beliau tsb.. “what..?? u re from Bali..?? wow.. amazing..!” semacam itu… yaaaaa… Bali bagi orang luar adalah Surga.. dan kita tinggal dalam surga tersebut jadi…, c’mon guys…!! Apa yg kita lakukan..????
Itu menjadi penutup dari materi yang beliau bawakan.., :)

 
12.  “Gimana mempertajam konsep..? Mau gak mau u msti baca, u mesti bergaul...”
Masuk ke sesi tanya jawab., ada pertanyaan dari salah satu peserta kira2 bgini pertanyaannya:
“Bali memiliki budaya yang luar biasa dalam seni rupa, dengan segala macam ilustrasi ornamental yang mencengangkan., tapi kebanyakan seniman Bali tidak bisa mengkomunikasikan konsep yang mereka buat.. bagaimana mempertajam konsep agar efektif utk sarana komunikasi visual..?” 

Dan beliau menjawab.. pertama beliau mengamini tentang budaya “kerja tanpa komunikasi” yang dimiliki orang Bali., kemudian menjawab prtanyaan tentang mempertajam konsep.., ya.. utk mempertajam konsep mau gak mau u mesti baca., mau gak mau u mesti bergaul…karena mengkomunikasikan sebuah konsep itu sangat penting.., kalo gak, akan berakhir dengan “wah bagus, susah buatnya., begitu saja” :). Membaca gak harus dari buku., membaca alam semesta juga bisa dan sangat bermanfaat.. :)
 

ditulis oleh:
Ai Shuma

Posted via email from youth corner bali

Saturday, July 28, 2012

Ingat Hidup Sehat ? Ingat Lagi Sanur Community Market !

 

406172_171356186322715_1206034

 

Ada yang masih ingat apa yang istimewa di Sanur 22/07 lalu ? Yup! tepatnya di jalan Hang Tuah no 9 Denpasar, di depan toko produk organik Satvika Bhoga, digelar Sanur Community Market. Sebuah kegiatan yang ditujukan untuk masyarakat luas sebagai jembatan menuju hidup sehat.

Lihat saja posternya, seru … !
 

306688_170097419781925_7098084

Sekitar pukul 08.00 satu per satu stan mulai diisi. Pengunjung juga mulai berdatangan. Berhubung tempatnya ini ada di jalur yang biasa dilewati goweser Denpasar nih, jadi banyak pengunjung yang menyempatkan diri mampir kesini setelah setelah gowes. Bayangin aja, sudah memulai hidup sehat dengan bersepeda, pulangnya menikmati produk olahan sehat di Sanur Community Market. Hmmm ! Lengkap kan !

The first SCM (Sanur Commuity Market) merupakan kegiatan dari ide kreatif anak muda. Jadi, ada beberapa komunitas anak muda yang menjadi tonggak terselenggaranya kegiatan ini, seperti Healthy Food Healthy Living (HFHL), Gerilya Meja Kopi, Akar Rumput, dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu, acara ini juga didukung oleh Satvika Bhoga, Veco Indonesia, dan beberapa pihak lainnya lagi.

1st SCM ini dipandu oleh MC cantik, Kadek Ridoi Rahayu. Suasana juga semakin hangat karena ada beberapa pemusik yang tampil disini. Ada juga sesi open mic lo. Jadi, tidak perlu lolos Indonesian Idol, kita pasti dengarkan suaranya J

Tenang saja! Kisaran harga di SCM disesuaikan dengan kantong teman-teman gowes. Pengunjung bisa menikmati sarapan sehat dari salah satu stan makanan vegetarian dan salad buah di stan HFHL. Ada juga stan camilan, seperti  jamur crispy, lumpia, pudding, dan jajanan lain yang terjamin sehat.

Nah, para ibu-ibu juga cocok sekali datang kemari karena di SCM ini ada stan bahan makanan sehat dan organik. Mulai dari jamur, sayuran, bahkan sampai tanaman sayur dalam pot juga ada. Selain itu ada gado-gado sehat, berbagai olahan kopi yang menghangatkan pagi (ada yang FREE untuk dicoba), roti gandum, jajan Bali,  dan makanan lainnya. Selain itu, ada juga stan TBM (Tim Bantuan Medis) dari FK Universitas Udayana serta pemeriksaan kesehatan basis Iridologi lhoo. Jadi, pengunjung yang ingin periksa kesehata dan konsultasi, disilahkan dan GRATIS.

Bukan hanya produk organik dan sehat yang ada di SCM. Ada juga industri kreatif, seperti pembuatan lukisan dari pelepah daun pisang dan stan dari Biospirit yang menjual berbagai olahan barang bekas.  Nah, istmewanya lagi, ada doorprise lo, buat teman-teman yang datang ke SCM dengan bersepeda atau berjalan kaki.

Yup! Nantikan lagi Sanur Community Market berikutnya ya… Ada rencana untuk space buat arena bermain anak-anak. Nah, kalian juga bisa menjadi bagian dari keseruan SCM ini, hubungi saja komunitas-komunitas yang disebutkan di atas tadi, lewat fan page SCM juga bisa :)
 
 
 
318822_171356606322673_1522707
 

551254_171356076322726_2088382

Mau tau lebih lanjut tentang keseruan 1st SCM, klik disini
 
 
Tulisan : Putri Puspitaningrum (HFHL Bali)

251854_171356556322678_6439624

528932_171355746322759_1782602

Posted via email from youth corner bali

Tuesday, July 10, 2012

Warna Lain Akhir Juni di Bali

Festival Akulturasi Bali dan Jepang “1st Bali Japan Expo “

174669_376426155749299_1956274

 

 

Suasana berbeda mewarnai hari terakhir bulan Juni di halaman depan GOR Lila Buana, Denpasar, Bali. Sudah ada labirin-labirin untuk stand berbagai produk dan panggung dengan background “Bali Japan Expo”. Yup ! Benar sekali, Pada tanggal 30 Juni 2012 diselenggarakan sebuah acara seru, yaitu Festival Akulturasi Bali dan Jepang “Bali Japan Expo 1st “Acara Expo yang pertama dan terbesar di Bali, yang memadukan 2 budaya menjadi 1 dengan sangat luar biasa, dan pastinya memiliki tujuan luhur untuk Bali serta Indonesia tercinta.Acara Expo yang pertama dan terbesar di Bali, yang memadukan 2 budaya menjadi 1 dengan sangat luar biasa, dan pastinya memiliki tujuan luhur untuk Bali serta Indonesia tercinta. sebuah acara expo yang terbesar dan pertama di Bali. Acara ini memadukan dua budaya, Bali dan Jepang, sehingga menghasilkan harmoni yang sangat mengesankan.

 

Event ini diselenggarakan oleh komunitas anak-anak pecinta Jepang di Bali yang tergabung dalam ORGANISASI BALI-NIHON GENKI! melalui sebuah kepanitiaan dan didukung pula oleh PESEMETONAN DENPASAR-FUKUOKA. Tujuan dari kegiatan ini, yaitu sebagai wadah untuk menyalurkan kreatifitas anak-anak pecinta budaya dan bahasa Jepang di Bali, memperkenalkan komunitas pecinta budaya dan bahasa Jepang yang ada di Bali kepada masyarakat Bali, serta diharapkan melalui event ini dapat memperlihatkan betapa hubungan Jepang dan Bali begitu saling mempengaruhi sehingga secara tidak langsung menambah  jumlah wisatawan yang ingin datang ke Bali.

 

Sekitar pukul 09.00, acara dimulai. Sebuah tari Bali membuka acara yang juga dihadiri oleh Ketua Pasemetonan Fukuoka-Denpasar, perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Bali, Konsulat Jendral Jepang di Denpasar, dan perwakilan Walikota Denpasar.

523937_181584865306053_8356578

Setelah sesi pembacaan laporan dan penyampaian sambutan usai, dimulailah sebuah kompetisi yang ditunggu-tunggu, yaitu Lomba Pidato Bahasa Jepang kategori SMA dan umum.

 

Selain lomba pidato, ada juga pertandingan Yugi-Oh dan kameko. Di tengah acara berlangsung, satu per satu peserta cosplay berkeliling areal acara ini. Mereka siap difoto oleh peserta kameko. Seru sekali ! Ini nih pemenangnya :

 

483090_181117135352826_1500793
 Pemenang Kameko

482974_181117872019419_1111551
 Pemenang Yugi-Oh

Pemenang Lomba Pidato

531550_181056872025519_7991569

 
 
Bukan hanya lomba-lomba, di acara ini juga ada berbagai penampilan menarik yang tidak membiarkan panggung menjadi sunyi. Pembawa acaranya juga seru sekali. Ada penampilan girlband dan beberapa band lain, seperti Black Box band, Chevalier band, Keisora Band, dan Spirofelt Band. Acara semakin seru karena ada atraksi yoyo oleh beberapa teman di atas panggung.

Tak kalah dengan penampilan di panggung, stand-stand di acara ini pun menarik perhatian pengunjung. Ada jejeran makanan Jepang juga mengundang lidah untuk mencicipi, ada takoyaki, dan makanan lainnya. Disini juga ada stand tarot yang membuat antrean pengunjung. Selain itu, ada stand komunitas, stand games, stand foto, berbagai pernak-pernik Jepang, dan masih banyak lagi.

Semakin malam, acaranya semakin seru. Ada pemutaran tiga film yang mengundang pengunjung merapat ke dekat panggung.

545346_181119072019299_1990401

Setelah itu, masih ada penampilan beberapa band dengan gaya unik dan menyanyikan beberapa lagu berbahasa Jepang. Ada Fitrah Roses and The Wild Ones Band, Season Ticket Band, Band Tokidoki, Band D’provider, Band Rakuen.
Acara ini ditutup sekitar pukul 21.30 dengan sebuah tarian Jepang, yaitu Sakura-Sakuri yang mengisahkan tentang kehidupan nelayan. Selain itu ada juga penampilan terakhir Chaosmyth dari Rakuen, D’Provider, dan Toki Doki.

547634_182339398563933_1648916

Seperti kata salah satu pengunjung yang sempat terdengar, “Semoga tahun depan, acara ini ada lagi ya … ^_^”
 

553806_181055042025702_6556311

 
 
 
View More Photos : Event Bali Japan Expo

599408_181121238685749_1890689

309414_182339475230592_8580216

529617_182339451897261_3773783

313900_181587825305757_1559885

Posted via email from youth corner bali

Wednesday, July 04, 2012

Kita Punya Negeri di Bawah Kabut

Screening dan Diskusi Film "NEGERI DI BAWAH KABUT"
 

Sebuah kebanggaan bagi Youth Corner Bali karena mendapat kesempatan menjadi Local Partner wilayah Bali untuk acara

Screening dan Diskusi Film "NEGERI DI BAWAH KABUT" (THE LAND BENEATH THE FOG).  Acara ini diadakan pada tanggal 27 Juni 2012 bertempat di Griya Musik Irama Indah, Jl. Diponegoro 114, Denpasar. Sekitar 40 penonton hadir untuk mengikuti acara ini. Mereka datang dari berbagai lapisan profesi, seperti pelajar SMA, mahasiswa, filmmaker, penikmat film, komunitas muda, dan lain sebagainya.

 

Negeri di Bawah Kabut merupakan sebuah film dokumenter karya Shalahuddin Siregar  yang telah meraih berbagai prestasi membanggakan, seperti SPECIAL JURY PRIZE DUBAI INTERNATIONAL FILM FESTIVAL 2011 dan OFFICIAL SELECTION SINGAPORE SOUTH EAST ASIA FILM FESTIVAL 2012. Film dokumenter ini mengisahkan  sebuah desa di lereng gunung Merbabu, dimana sebuah komunitas diam-diam sedang menghadapi perubahan tanpa mengerti alasannya. Sebagai komunitas petani yang mengandalkan sistem kalender tradisional Jawa dalam membaca musim, mereka dibuat bingung oleh musim yang sedang berubah. Negeri di Bawah Kabut membawa kita melihat lebih dekat bagaimana perubahan musim, pendidikan dan kemiskinan saling berkaitan satu sama lain.

 

Dari pihak produksi memilih roadshow sebagai cara untuk memperkenalkan film documenter yang sangat menginspirasi ini. Film dokumenter ini diputar di 17 kota dan Denpasar adalah satu dari kota yang terpilih. Di Denpasar sendiri, acara ini didukung oleh beberapa sponsor, seperti FORD FOUNDATIOIN, GOETHE INSTITUTE, KOMUNITASFILM.ORG, Youth Corner Bali, Ubud Writers & Readers Festival, dan Griya Musik Irama Indah.

 

293846_440551122642248_5025734

 

Screening dan Diskusi Film "NEGERI DI BAWAH KABUT" dimulai sekitar pukul 19.00 Wita. Namun, penonton sudah setia berada di Minihall Griya Musik Irama Indah 30 menit sebelum film dimulai. Sebelum film dimulai, diadakan voting untuk memilih bahasa subtitle dari film dokumenter ini karena film aslinya menggunakan Bahasa Jawa. Ternyata, audience yang memilih English subtitle lebih banyak. Akhirnya, sekitar pukul 19.15 p.m lampu ruangan dipadamkan dan film pun diputar.

 

Film ini berdurasi cukup lama, yaitu 105 menit. Namun, penonton tampak antuasias mengikuti satu per satu scene dalam film. Film ini memiliki kualitas suara yang sangat baik, sehingga membuat penonton seakan-akan merasakan hujan dan dinginnya udara disana. Di tengah-tengah tontonan, juga terdengar selingan tawa dari penonton karena ada lelucon maupun kepolosan perilaku masyarakat di film documenter tersebut.

 

Akhirnya, film selesai diputar. Tepuk tangan meriah mengisi ruangan ini. Lampu pun dinyalakan dan tiba saatnya diskusi film bersama Shalahuddin Siregar. Diskusi ini diawali dengan pemaparan seputar pembuatan film yang menghabiskan waktu sekitar 3 tahun lamanya. Film documenter ini dibuat tanpa scenario. Namun, adegan yang ditayangkan sangat teratur layaknya artis profesional. Beginilah naturalisme sebuah perilaku.

 

Berbagai pertanyaan dan tanggapan pun mewarnai sesi diskusi ini. Berikut notulensi singkat dari beberapa penanya.

425461_440550799308947_8834343

 

 

206214_440551702642190_1396615
 
229874_440551522642208_2038787

 

1.      Frischa (Komunitas Sahaja)       : Ini film yang sangat bagus. Saya ingin bertanya, apakah ada bantuan dana untuk sekolah Arifin? atau memang dibiarkan berjalan seperti begitu?

 

Jawaban   : Kita memang membuat film ini apa adanya. Jadi, kita hanya mengambil gambar kehidupan dua keluarga itu. Memang pada saat itu tidak ada bantuan karena kita juga ingin kehidupan mereka berjalan apa adanya. Kita tidak ingin terjalin hubungan uang antara pembuatan film ini dengan masyarakat disana saat pembuatan. Namun, ketika ada royalty, kita memang memberikannya untuk mereka.

 

2.      Dista (mahasiswi) : Bagaimana cara memilih keluarga dalam pembuatan film itu ?

 

Jawaban   : Saya sudah kenal cukup lama. Sekitar tahun 1997 kenal desa tersebut dan tiap tahun saya kesana untuk mendaki. Misi awal saya sendiri, yaitu ingin mengenal penduduk yang sering saya temui disana lalu membuat potret mengenai mereka. Saya memulainya dengan mengobrol bersama. Ternyata, selama ini saya merasa mengenal pertanian tetapi kenyataannya tidak begitu. Lalu, saya melanjutkan misi ini dengan membuat film dengan handycam serta dana dari FORD FOUNDATIOIN dan GOETHE INSTITUTE. Selanjutnya, film ini saya bahas dengan dua orang mentor dari Inggris dan Finlandia. Sebenarnya, ada potongan cerita yaitu ketika kakak Arifin yang bekerja sebagai buruh. Namun, saya rasa itu akan terlalu luas apabila dimasukkan. Jadi, cerita itu untuk film kedua nantinya.

 

3.      Daniel (Movie maker) : Saya sangat suka film ini, apresiasi untuk film documenter dengan proses yang sangat kompleks seperti ini. Editingnya juga bagus. Pertanyaan saya, bagaimana cara pemilihan jalan ceritanya dan bisa ceritakan proses editingnya ?

 

Jawaban   : Untuk memilih jalan cerita atau bagian yang ingin ditayangkan, saya memilih bagian yang mengabungkan informasi dan emosi, misalnya kedekatan antara ibu dan anak. Sehingga, esensi filmnya dapat terlihat. Editing film ini juga memakan waktu sekitar 1 tahun karena ada banyak bagian yang mesti kita pilih dan dipadukan untuk memdapat jalan cerita yang baik.

 

4.      Tom-Tom (BMKG)          : Saya hanya ingin menanggapi, film ini sangat menarik, saya baru tahu ternyata informasi cuaca tidak sampai pada daerah-daerah disana. Saya merasa makan gaji buta. Saya harap, film ini dapat ditayangkan lagi di kantor saya. Hahaha

 

5.      Mala (mahasiswi)            : Saya dulu pernah ke daerah sana saat bergabung di Mapala Aceh. Jadi, saya penasaran dengan proses pembuatan, apakah ada perubahan perilaku masyarakat desa ini selama proses pembuatan sampai finishing film ini ?

 

Jawaban   : Pada tahun kedua pembuatan film ini, sudah ada penduduk yang kredit motor. Terkadang, suara motor itu cukup mengganggu apalagi dalam pembuatan film ini saya ingin natural soundnya jelas. Banyak juga mafia sejenis depkoleptor yang memanfaatkan kepolosan masyarakat disini, sampai sempat kami dari kru tidak terima karena merasa masyarakat disini tertipu. Selanjutnya, ada juga masyarakat yang membawa HP, namun belum bisa membaca. Terkadang saya bingung, bagaimaa mereka menggunakannya.

 

6.      Chika (Minikino)  : Mungkin karena saya terbiasa nonton film pendek ya. Jadi, ketika mendengar ada screening film dengan durasi 105 menit, saya agak terkejut. Tapi jujur, saya apresiasi sekali dengan film ini. Walaupun lama, tapi saya tidak bosan. Soundnya terutama sangat baik. Film ini baik dan harus lebih banyak orang Indonesia yang menonton film ini.

 

7.      Edo W. (Minikino)           : Tanggapan pertama dari saya, ini film documenter Indonesia dengan sound terbaik. Lalu, saya ingin bertanya, apa  distribusi film ini seain roadshow ? Bisa jelaskan mengenai Project 10tahun Setelah Reformasi? Bagaimana kelanjutan film ini atau karya berikutnya ? Bisa ceritakan peran Elida dalam film ini ?

 

Jawaban : Wah, ini pertanyaan yang berbeda dari kota-kota yang lain. Sampai saat ini, distribusi masih lewat roadshow ke berbagai kota dan kampus dan ada festival asing juga, ya itu dapat dikatakan bonus. Akhir Juli ini juga akan diputar di India. Tapi, kita juga berencana membuat DVD atau CD film ini, sekarang sedang dalam proses. Mengenai Project 10 tahun Setelah Reformasi ya itu headline untuk menambah daya tarik film ini dan tidak berpengaruh besar. Karya berikutnya masih ada, seperti cerita kakak Arifin, dan lainnya. Sedangkan tentang Elida, dia sangat berkontribusi besar dalam pembuatan film ini, ya Elida baru saja meninggal, tapi pasti tetap dikenal oleh kewan-kawan film di Indonesia.

 

8.      Cok Gung (Movart)         : Apakah film ini ada bagian behind the scenenya ? karena menurut saya, behind the scene itu dapat dijadikan bahan belajar membuat film untuk saya yang pemula dan dari kalangan arsitek, bukan film.

 

Jawaban   : Disini memang tidak ada. Tapi, kita ada beberapa foto saat proses pembuatan film ini, coba cek di Youtube. Jadi, untuk belajar film ya nonton film sebanyak-banyaknya. Saya juga dari kalangan akuntansi, bukan film. Sangat jauh sebenarnya.

 

9.      Erick (arsitek)      : Apa screening film ini akan ditayangkan ke pemerintah, kementrian, atau gedung MPR begitu ? Sepertinya mereka perlu tahu.

 

10.   Raka (Mahasiswa ilmu politik) : Saya merasa, terkadang kita dibuat untuk keadaan begaimana pun agar tetap pro pemerintah. Adegan menarik dalam film itu seperti pelaksanaan pemilu yang mereka mengikuti suruhan untuk memilih calon presiden yang mana. Menurut saya, jangan ke parlemen, nanti mereka memanfaatkan sumber suara dan kepolosan dari masyarakat ini. Lebih baik ke KPU, agar KPU dapat memberikan penyuluhan mengenai pemilu. Mungkin juga ke Mendiknas, agar ada beasiswa untuk kasus-kasus seperti itu.

 

Jawaban : Kita belum ada memikirkan untuk tayang ke pemerintah. Kita mulai dari masyarakat dengan roadshow. Kita perlu banyak orang Indonesia yang menonton film ini dan tahu keadaan di desa ini.

 

Sesi diskusi berakhir sekitar pukul 22.00  Wita. Acara ini pun ditutup dengan foto bersama.

 

528314_440551862642174_5605598

 

 

 

Eka Kusuma Rimayanti & Putri Puspitaningrum

482142_440551279308899_1452662

179191_440551072642253_5989719

Posted via email from youth corner bali

Kita Punya Negeri di Bawah Kabut

Screening dan Diskusi Film "NEGERI DI BAWAH KABUT"
 

Sebuah kebanggaan bagi Youth Corner Bali karena mendapat kesempatan menjadi Local Partner wilayah Bali untuk acara

Screening dan Diskusi Film "NEGERI DI BAWAH KABUT" (THE LAND BENEATH THE FOG).  Acara ini diadakan pada tanggal 27 Juni 2012 bertempat di Griya Musik Irama Indah, Jl. Diponegoro 114, Denpasar. Sekitar 40 penonton hadir untuk mengikuti acara ini. Mereka datang dari berbagai lapisan profesi, seperti pelajar SMA, mahasiswa, filmmaker, penikmat film, komunitas muda, dan lain sebagainya.

 

Negeri di Bawah Kabut merupakan sebuah film documenter karya Shalahuddin Siregar  yang telah meraih berbagai prestasi membanggakan, seperti SPECIAL JURY PRIZE DUBAI INTERNATIONAL FILM FESTIVAL 2011 dan OFFICIAL SELECTION SINGAPORE SOUTH EAST ASIA FILM FESTIVAL 2012. Film documenter ini mengisahkan  sebuah desa di lereng gunung Merbabu, dimana sebuah komunitas diam-diam sedang menghadapi perubahan tanpa mengerti alasannya. Sebagai komunitas petani yang mengandalkan sistem kalender tradisional Jawa dalam membaca musim, mereka dibuat bingung oleh musim yang sedang berubah. Negeri di Bawah Kabut membawa kita melihat lebih dekat bagaimana perubahan musim, pendidikan dan kemiskinan saling berkaitan satu sama lain.

 

Dari pihak produksi memilih road show sebagai cara untuk memperkenalkan film documenter yang sangat menginspirasi ini. Film documenter ini diputar di 17 kota dan Denpasar adalah satu dari kota yang terpilih. Di Denpasar sendiri, acara ini didukung oleh beberapa sponsor, seperti FORD FOUNDATIOIN, GOETHE INSTITUTE, KOMUNITASFILM.ORG, Youth Corner Bali, Ubud Writers & Readers Festival, dan Griya Musik Irama Indah.

 

293846_440551122642248_5025734

 

Screening dan Diskusi Film "NEGERI DI BAWAH KABUT" dimulai sekitar pukul 19.00 Wita. Namun, penonton sudah setia berada di Minihall Griya Musik Irama Indah 30 menit sebelum film dimulai. Sebelumnya film dimulai, diadakan voting untuk memilih bahasa subtitle dari film dokumenter ini karena film aslinya menggunakan Bahasa Jawa. Ternyata, audience yang memilih English subtitle lebih banyak. Akhirnya, sekitar pukul 19.15 p.m lampu ruangan dipadamkan dan film pun diputar.

 

Film ini berdurasi cukup lama, yaitu 105 menit. Namun, penonton tampak antuasias mengikuti satu per satu scene dalam film. Film ini memiliki kualitas suara yang sangat baik. Sehingga, membuat penonton seakan-akan merasakan hujan dan dinginnya udara disana. Di tengah-tengah tontonan, juga terdengar selingan tawa dari penonton karena ada lelucon maupun kepolosan perilaku masyarakat di film documenter tersebut.

Akhirnya, film selesai diputar. Tepuk tangan meriah mengisi ruangan ini. Lampu pun dinyalakan dan tiba saatnya diskusi film bersama Shalahuddin Siregar. Diskusi ini diawali dengan pemaparan seputar pembuatan film yang menghabiskan waktu sekitar 3 tahun lamanya. Film documenter ini dibuat tanpa scenario. Namun, adegan yang ditayangkan sangat teratur layaknya artis profesional. Beginilah naturalism sebuah perilaku.

 

Berbagai pertanyaan dan tanggapan pun mewarnai sesi diskusi ini. Berikut notulensi singkat dari beberapa penanya.

425461_440550799308947_8834343

 

 

206214_440551702642190_1396615
 
229874_440551522642208_2038787

 

1.      Frischa (Komunitas Sahaja)       : Ini film yang sangat bagus. Saya ingin bertanya, apakah ada bantuan dana untuk sekolah Arifin? atau memang dibiarkan berjalan seperti begitu?

 

Jawaban   : Kita memang membuat film ini apa adanya. Jadi, kita hanya mengambil gambar kehidupan dua keluarga itu. Memang pada saat itu tidak ada bantuan karena kita juga ingin kehidupan mereka berjalan apa adanya. Kita tidak ingin terjalin hubungan uang antara pembuatan film ini dengan masyarakat disana saat pembuatan. Namun, ketika ada royalty, kita memang memberikannya untuk mereka.

 

2.      Dista (mahasiswi) : Bagaimana cara memilih keluarga dalam pembuatan film itu ?

 

Jawaban   : Saya sudah kenal cukup lama. Sekitar tahun 1997 kenal desa tersebut dan tiap tahun saya kesana untuk mendaki. Misi awal saya sendiri, yaitu ingin mengenal penduduk yang sering saya temui disana lalu membuat potret mengenai mereka. Saya memulainya dengan mengobrol bersama. Ternyata, selama ini saya merasa mengenal pertanian tetapi kenyataannya tidak begitu. Lalu, saya melanjutkan misi ini dengan membuat film dengan handycam serta dana dari FORD FOUNDATIOIN dan GOETHE INSTITUTE. Selanjutnya, film ini saya bahas dengan dua orang mentor dari Inggris dan Finlandia. Sebenarnya, ada potongan cerita yaitu ketika kakak Arifin yang bekerja sebagai buruh. Namun, saya rasa itu akan terlalu luas apabila dimasukkan. Jadi, cerita itu untuk film kedua nantinya.

 

3.      Daniel (Movie maker) : Saya sangat suka film ini, apresiasi untuk film documenter dengan proses yang sangat kompleks seperti ini. Editingnya juga bagus. Pertanyaan saya, bagaimana cara pemilihan jalan ceritanya dan bisa ceritakan proses editingnya ?

Jawaban   : Untuk memilih jalan cerita atau bagian yang ingin ditayangkan, saya memilih bagian yang mengabungkan informasi dan emosi, misalnya kedekatan antara ibu dan anak. Sehingga, esensi filmnya dapat terlihat. Editing film ini juga memakan waktu sekitar 1 tahun karena ada banyak bagian yang mesti kita pilih dan dipadukan untuk memdapat jalan cerita yang baik.

 

4.      Tom-Tom (BMKG)          : Saya hanya ingin menanggapi, film ini sangat menarik, saya baru tahu ternyata informasi cuaca tidak sampai pada daerah-daerah disana. Saya merasa makan gaji buta. Saya harap, film ini dapat ditayangkan lagi di kantor saya. Hahaha

 

5.      Mala (mahasiswi)            : Saya dulu pernah ke daerah sana saat bergabung di Mapala Aceh. Jadi, saya penasaran dengan proses pembuatan, apakah ada perubahan perilaku masyarakat desa ini selama proses pembuatan sampai finishing film ini ?

 

Jawaban   : Pada tahun kedua pembuatan film ini, sudah ada penduduk yang kredit motor. Terkadang, suara motor itu cukup mengganggu apalagi dalam pembuatan film ini saya ingin natural soundnya jelas. Banyak juga mafia sejenis depkoleptor yang memanfaatkan kepolosan masyarakat disini, sampai sempat kami dari kru tidak terima karena merasa masyarakat disini tertipu. Selanjutnya, ada juga masyarakat yang membawa HP, namun belum bisa membaca. Terkadang saya bingung, bagaimaa mereka menggunakannya.

 

6.      Chika (Minikino)  : Mungkin karena saya terbiasa nonton film pendek ya. Jadi, ketika mendengar ada screening film dengan durasi 105 menit, saya agak terkejut. Tapi jujur, saya apresiasi sekali dengan film ini. Walaupun lama, tapi saya tidak bosan. Soundnya terutama sangat baik. Film ini baik dan harus lebih banyak orang Indonesia yang menonton film ini.

 

7.      Edo W. (Minikino)           : Tanggapan pertama dari saya, ini film documenter Indonesia dengan sound terbaik. Lalu, saya ingin bertanya, apa  distribusi film ini seain roadshow ? Bisa jelaskan mengenai Project 10tahun Setelah Reformasi? Bagaimana kelanjutan film ini atau karya berikutnya ? Bisa ceritakan peran Elida dalam film ini ?

 

Jawaban : Wah, ini pertanyaan yang berbeda dari kota-kota yang lain. Sampai saat ini, distribusi masih lewat roadshow ke berbagai kota dan kampus dan ada festival asing juga, ya itu dapat dikatakan bonus. Akhir Juli ini juga akan diputar di India. Tapi, kita juga berencana membuat DVD atau CD film ini, sekarang sedang dalam proses. Mengenai Project 10 tahun Setelah Reformasi ya itu headline untuk menambah daya tarik film ini dan tidak berpengaruh besar. Karya berikutnya masih ada, seperti cerita kakak Arifin, dan lainnya. Sedangkan tentang Elida, dia sangat berkontribusi besar dalam pembuatan film ini, ya Elida baru saja meninggal, tapi pasti tetap dikenal oleh kewan-kawan film di Indonesia.

 

8.      Cok Gung (Movart)         : Apakah film ini ada bagian behind the scenenya ? karena menurut saya, behind the scene itu dapat dijadikan bahan belajar membuat film untuk saya yang pemula dan dari kalangan arsitek, bukan film.

Jawaban   : Disini memang tidak ada. Tapi, kita ada beberapa foto saat proses pembuatan film ini, coba cek di Youtube. Jadi, untuk belajar film ya nonton film sebanyak-banyaknya. Saya juga dari kalangan akuntansi, bukan film. Sangat jauh sebenarnya.

 

9.      Erick (arsitek)      : Apa screening film ini akan ditayangkan ke pemerintah, kementrian, atau gedung MPR begitu ? Sepertinya mereka perlu tahu.

 

10.   Raka (Mahasiswa ilmu politik) : Saya merasa, terkadang kita dibuat untuk keadaan begaimana pun agar tetap pro pemerintah. Adegan menarik dalam film itu seperti pelaksanaan pemilu yang mereka mengikuti suruhan untuk memilih calon presiden yang mana. Menurut saya, jangan ke parlemen, nanti mereka memanfaatkan sumber suara dan kepolosan dari masyarakat ini. Lebih baik ke KPU, agar KPU dapat memberikan penyuluhan mengenai pemilu. Mungkin juga ke Mendiknas, agar ada beasiswa untuk kasus-kasus seperti itu.

 

Jawaban : Kita belum ada memikirkan untuk tayang ke pemerintah. Kita mulai dari masyarakat dengan roadshow. Kita perlu banyak orang Indonesia yang menonton film ini dan tahu keadaan di desa ini.

 

Sesi diskusi berakhir sekitar pukul 22.00  Wita. Acara ini pun ditutup dengan foto bersama.

 

528314_440551862642174_5605598

 

 

 

Eka Kusuma Rimayanti & Putri Puspitaningrum

Posted via email from youth corner bali

Tuesday, May 29, 2012

Hadiah Kecil untuk Movart

318220_3282644992541_146008621

Movart #5

Scrap Bersama Anak Tangguh

 

 

Guwang, 27 Mei 2012.

Suasana pagi yang dingin menyambut kami ketika sampai di Sanggar Anak Tangguh, Guwang, Gianyar, Bali. Hamparan sawah dan kebun di kanan-kiri jalan menemani perjalanan menyusuri gang menuju Sanggar Anak Tangguh.

 

Sampai disana, anak-anak Tangguh terlihat begitu antusias mengikuti pemberian materi tentang kesehatan. khususnya rokok. Wah, terdengar kalimat-kalimat manis :

“Jangan merokok dekat saya..

“Jangan mau membelikan bapak Rokok..

“Saya sayang bapak dan ibu

“Lindungi saya dari asap rokok..

Nah, tugas mereka adalah mengingatkan itu pada orang-orang sekitarnya yang sedang merokok.

 

Sekitar pukul 10.30 Wita, sesi pemberian materi kesehatan dan rokok telah selesai. Saatnya Movart #5 dimulai. Cok Gung mulai mengambil alih acara, menyapa anak-anak, dan menjelaskan mengenai apa saja yang akan kita lakukan. Pagi itu ada 3 bahasan utama, yaitu Kartun oleh Erik, dkk, Fashion Design oleh Dewi Estede, dkk, dan Pembuatan Film dari Trax Video. Selain interakter tersebut, Movart #5 ini juga dihadiri beberapa teman lain, misalnya Pak Yokasara bersama keluarga, Cok Arin yang juga memberikan pelatihan design aksesoris, dan beberapa teman lainnya.

 

Semua anak dipersilahkan memilih topik yang diinginkan. Nah, setelah anak-anak membagi diri, mulailah mereka menuju spot masing-masing topik.

Hmmmm..ngapain aja ya di spot ? Yuk ..kita tengok !

 

1# Fashion Design

 

Fashion itu universal…Kata siapa fashion cuma punya kaum elite ? Yaa…fashion itu milik kami juga.. Designer-designer muda dari Sanggar Anak Tangguh :D

 

_Dewi Estede_

 

Anak-anak          : Bikin apa kak ?

Dewi                     : Ayo bikin kolase

Anak-anak          : *bengong..*

Dewi                     : Itu loh yang ditempel-tempel..

Anak-anak          : Ooooo..

 

Yey.. Aksi diawali dengan bagi-bagi model (gambar baju di kertas). Lalu, dengan penuh semangat, anak-anak mulai memotong kain perca, menempelnya, dan menghias sesuka hati, hingga …

Tadaaaaaa… gambar yang awalnya tanpa warna pun, akhirnya berubah jadi cantik. Ada gaun pesta, gaun pelangi, gaun taman bunga, dan gaun pita. Waw..Mereka sangat kreatif !

Siapa saja sih anak-anak itu ?

Hmmm.. Yuk, kita absen :

Novia, Purnami, Neti, Nopik, Melati, Devi, Bintang, Mesya, Luh Nik. Budi, Devi, Erna, Monica, Sintya, Dewayu, Pradewi, Luh Gek, Arik, Kristina, Supratika, Esarianti, Cyntia Dewi, Avina, dan Ayu..

Wah..perempuan semua.. hihihihi :D

 

Nah, setelah model itu selesai ditempeli kain, mereka juga belajar design aksesoris lho.. Wah, mereka diajarin sama Kak Cok Arin membuat berbagi aksesoris sendiri, seperti gelang, dll. Hmm, hasilnya juga nggak kalah tuh sama yang dijual-jual ^-^

 

2# Film

 

Yups! Di spot ini ada Kak Oka, Agus W, Lutfi. Hehehe, spot ini yang peminatnya lumayan banyak lo..

Mula-mula, anak-anak diberikan materi tentang film itu sendiri. Eh ? waktu pemberian materi saja sudah terdengar lagu Cherrybelle .. #lho ?

Nah, ternyata setelah pemberian materi, mereka keluar sanggar.

 

Yeyippy.. syuting dimulai.. hihihi, mereka syuting video klip cherrybelle .. Judul lagunya Dilema.

 

*Sutradara          : Krisnawan (dipanggil lelut)

*Kameraman    : Dananjaya & Komang Gangga

*Editing               : Side & Dewa Niko

*Artis                    :Licia, Mika, Dita, Diantari, Riska, Erika, Pianita, Luh Ayu, Sakty, Manik, Yanti

 

Mereka kreatif sekali, sampai-sampai tempat sampah dan wantilan pura pun digunakan untuk tempat syuting. Hihihi…

 

Anak-anak yang seru, punya semangat dan rasa ingin tahu yang besar. Calon Riri Riza, Dwitra, Ariana, Stepen Spilberg masa depan..

 

_Oka_

 

3#Kartun

 

Wah-wah, disini peminatnya juga nggak kalah banyak lo.. Mereka juga antusias mengikuti tiap petunjuk yang diberikan kakak-kakak disini…

 

Scene 1                                : Errik dan Rizki menjelaskan komik. Anak-anak pada bengong (-_-)! toenggg..

Scene 2                                : Anak-anak mulai ngerti (^o^) ooooo…

Scene 3                                : Anak-anak mulai gambar komik.. Semangat   .. e(^_^)9

Scene 4                                : Anak-anak kok ngobrol ya ? Yang satu bengong di pojokan :O , gimana nih ? -.-“

Scene 5                                : Errik mencohtohkan gambar .. *begini lo dik… ^_^

Scene 6                                : Heniiiiinggggg…..

Scene 7                                : para cameramen beraksi ( ื▿ ืʃƪ)

Scene 8                                : Selesai gambar …

Scene 9                                : Anak-anak pindah tempat.. Mendekati Kak Monez

Scene 10                             : Waw.. mulai mewarnai gambar. Ada yang manual , ada yang dengan pen tablet.

 

Hasilnya.. Awesome…

 

Ingat ya adik-adik.. kartun itu nggak ada yang salah. Jadi jangan takut..

_Monez_

 

Yups ! Semua telah selesai dengan topiknya masing-masing. Sudah jam makan siang juga. Jadi kita makan bersama. Cihuyyy…

 

Nah, waktu makan ditemenin juga lo sama bintang tamu #aispeh… Ada 2 cowok ganteng yang nyanyi di depan. Hmm.. saudaranya Cok Gung tuh :D ..

Pertama , nyanyi lagu Sempurna

Kedua, nyanyi lagu Laskar Pelangi

*penonton bilang ,” Lagi..Lagi…”

Ketiga, nyanyi lagu I’m Yours

Keempat, (diminta Cok Gung) , nyanyi lagunya Jamrud yang Selamat Ulang Tahun (#semoga judulnya nggak salah ya :p)..Ini special untuk

 

Hari Ulang Tahun Movart yang Pertama, 29 Mei

 

Makan sudah… Dihibur juga sudah.. Saatnya, presentasi hasil karya !

Satu per satu perwakilan kelompok atau diri sendiri maju menceritakan masing-masing karyanya. Wah, semuanya pintar. Dilanjutkan dengan sesi foto-foto dan menonton film dari Sanggar Anak Tangguh dan Trax Video..

 

Pukul 14.30 , acara selesai…

Anak-anak pulang. Ada yang bersepeda, dijemput, dan berjalan kaki..

Terima kasih ya adik-adik. Semoga berkesan dan berguna J

 

Terima kasih untuk Bli Adiartha,  dkk dari Sanggar Anak Tangguh yang sudah banyak membantu sehingga acara ini dapat berjalan. Nah, terima kasih juga untuk semua interakter yang sudah datang dan berbagi bersama adik-adik:

 

Cok Gung, Cok Arin, Errik, Rizeky, Pak Yokasara dan keluarga, Pranitha Dewi, Monez, Dewi, Putri, Oka, Lutfi, Wiranata, Kiko, Agus, Krishna, Cok De Raka, Cok De Suprayogi,  Dewata TV (Gek Nanda & Daniel)

 

Karya anak-anak pun langsung dipamerkan di Bali Emerging Writers Festival 2012 di Serambi Art Antida :)

Putri Puspitaningrum

Posted via email from youth corner bali