Thursday, June 28, 2012
"bertemu filmmaker Shalahuddin Siregar ( @salahcetak )" ditulis oleh @cgpramanayogi
Saturday, June 02, 2012
Personal Branding at Social Media - interacZINE | by: @lindiapalupi
Monday, May 28, 2012
Komikalisasi Puisi KUNTO WIJOYO_JALAN TERBUKA by Ai Shuma
Ai Shuma's Simple Perspective... :)
Friday, May 11, 2012
zona asyik buat nambah pengetahuan, gabung yuk di ZINE CORNER
| |||||||||||||||||||||||||
Monday, April 16, 2012
Yang Mau Hemat dan Sehat , Yuk Baca
Makanan Sehat dan Hemat
*Penunda Lapar lho ^_^*
Setiap orang tentu punya kekawatiran menjadi gendut ketika mengkonsumsi makanan , padahal dengan memilih milih makanan sehat kita semua bisa makan kenyang tanpa ada resiko menjadi gendut. Nah, apalagi yang sedang diet… Wah, pasti berharap tidak lapar ya ? ^_^ Ya, pasti lapar, soalnya lapar itu manusiawi lho.. Tapi disini ada tips tentang makanan sehat penahan lapar plus murah lagi..Alternatif dari makanan penuh “karbo dan karbo”, hehe
Ini nih contohnya : ^_^
Apel
Pektik yang ada pada apel dapat menurunkan nafsu makan secara alami . Apel sebagai makanan sehat banyak sekali digunakan sebagai makanan pengganti untuk diet. Selain itu, kandungan serat yang ada pada apel pasti akan menjaga kita tetap kenyang dalam waktu yang lebih lama.
Ikan
Ikan, seperti halnya kacang kacangan juga sebagai salah satu makanan sehat sumber protein. Ikan seperti mackarel, hering, tuna, salmon mengandung asam lemak omega-3 , asam lemak ini akan membantu menurunkan kolesterol dan juga akan mempercepat metabolisme. Cara membuat makanan sehat dengan ikan pun ikut menentukan kualitas makan sehat itu sendiri ,secara umum dipanggang atau di kukus lebih baik daripada di goreng ataupun di bakar.
Kacang Kacangan
Protein memiliki index kenyang tertinggi dibanding bahan makanan lainnya dan Kacang adalah salah satu sumber protein nabati yang baik. Selain itu kacang juga mengandung serat yang tinggi pula. Untuk mencerna kacang tubuh memerlukan waktu yang lebih lama hasil akhirnya adalah anda akan merasakan kenyang yang lebih lama ketika mengkonsumsi makanan sehat ini.
Sayuran Hijau
Sayuran adalah makanan yang rendah kalori, selain itu sayuran seperti brokoli, asparagus, bayam memiliki efek termal dalam tubuh karena kalorinya telah habis digunakan dalam proses pencernaan. Sayuran hijau juga mengandung kadar serat yang tinggi, serat ini berfungsi sebagai anti oksidan,vitamin, mineral dalam jumlah yang minim dan yang pasti serat akan memberikan rasa kenyang.
Nah, makanan-makanan di atas udah sehat, enak juga kawan. Selain itu mudah di dapat lagi. Nah, faktor-faktor sehatnya udah dibahas kan, sekarang faktor hematnya nih. Harga apel, ikan, kacang-kacangan, sama sayuran hijau juga kan tidak terlalu mahal. Bisa beli di pasar tradisional sambil jalan-jalan pagi. Selain itu, efek *kenyang lebih lama* membuat kita lebih hemat, terutama buat yang suka ngemil. Okay, silahkan dicoba kawan.
Putri Puspitaningrum
source : http://doktersehat.com/makanan-sehat-penahan-lapar/ dan sumber-sumber lainnya
Puisi cantik belaian pantai
Negeri Berpasir
Mertasari sanur, 27-05-2011
Dan hanya binar lampion temani sunyi
Diantara deru ombak pesisir
Bisikan buih buih yang semakin memudar
Menghempas karam aku yang terdiam Kemana aku mencari bintang?
Ketika nelayan tak lagi tebarkan jala
Para burung camar hilang ke negeri antah berantah
Dan senja tak lagi berupa jingga Ketika awan bercertia tentang angin
Berhembus diantara pesisir berpasir rindu
Menyapa aku yang terdiam diantara binar lampion
Menunggumu,
membawakan aku sebuah kecupan
dan cerita tentang fajar yang esok kan menyapa pesisir Ini bukan sebuah istana yang terbuat dari pasir.
Tapi hanyalah sebuah istana, yang terbuat dari rindu yang mendesir seiring angin di pesisir.
Pande Parwata
SsSsssstttt, jangan ribut
“Hallo Selamat Siang, bisa bicara dengan Umi? ", aku menelepon ke rumahnya
"Lagi tidur Mas. Ini siapa ya?" jawab seorang wanita.
"Aku Bagas, tadi aku menelpon ke hp-nya tapi tidak diangkat. Dengan siapa ya aku bicara?"
"Ih ini si Mbok, iya Uminya dari pagi belum keluar kamar, seperti biasalah Mas, orangnya suka molor, nanti
mbok kabarin ya kalau dia sudah bangun" jawab si Mbok sambil cekikikan.
"Makasi ya Mbok. Kita janjian sarapan bareng tadi pagi tapi sampai jam makan siang aku tunggu, dia belum
datang juga" kataku sangat kesal.
***
Namaku Bagas. Aku masih kuliah di jurusan Ekonomi Manajemen, semester 6. Seperti anak muda yang kuliah lainnya, aktivitasku adalah kuliah dan bermain dengan teman - teman. Kelulusan tentu saja impian semua anak muda. Tetapi impianku selain itu adalah mempunyai pacar yang cantik. Tidak salah kan jika ingin mempunyai seorang pacar yang cantik apalagi yang baik hati. Mungkin itu adalah satu kebanggan bagi kaum lelaki. Boleh kan jika kita mempunyai mimpi seperti itu. Tapi, kata teman - temanku, mimpiku itu hanya sebuah mimpi rakyat jelata yang ingin menikahi seorang putri raja. Uh, sedikit membuat semangatku berkurang !
"Hai Gas, ingat ya nanti ikut rapat panitia penerimaan mahasiswa baru!" teriak Baharudin teman kampusku dari Fakultas MIPA.
Aku hampir lupa kalau tahun ini harus mengisi kekosongan dalam panitia, yaitu bidang P3K. Sebenarnya, sedikit kurang berkenan sih, karena aku dipaksa padahal tak ingin mengikuti kegiatan kampus lagi. Aku hanya ingin berkonsentrasi pada kuliah. Tapi tak apalah, sebentar lagi aku yakin aku lulus dari kampus ini. Akhirnya aku mengiakan dan siap menjadi Tim P3K untuk penerimaan mahasiswa baru.
Tugas hari pertama pun tiba dan sebalnya aku harus bangun pagi untuk mempersiapkan diri karena pukul 6 pagi harus sudah di kampus. Mataku masih belum terbuka lebar, kaki serasa melayang - layang. Ternyata para Maba alias mahasiswa baru sudah berkumpul sejak jam 5 pagi, mungkin karena begitu tegangnnya kepada para senior yang sok galak - galak itu. Mereka pun berbaris rapi di lapangan depan auditorium dengan wajah yang ketakutan. Aku hanya ketawa cekikikan melihatnya.
"Hahahaha, mereka mau saja ditipu sama lo ya Din?", bisiku ditelinga Baharudin, yang saat itu menjadi ketua panitia pelaksana.
"Eh kita juga dulu kan lebih disiksa, ini aja udah baik perlakuan kita", sahut Baharudin. Tiba - tiba Baharudin berteriak kencang, "DIAAAAAAAAAAAAMMM kalian semua, mau jadi apa kalian semua? mulutnya bisa diam tidak. Disuruh berbaris saja masih cerewet. Anak Pasar!"
Serentak anak - anak Maba diam dan tak bergerak. Semua hening. Satu persatu maju sambil dimaki - maki para kakak panitia. Aku hanya melihat barang kali ada yang sakit atau butuh bantuan P3K. Diam di barisan belakang. Aku menjaga para Maba andai kata ada yang sakit.
Hampir habis semua Maba di data dan masuk ruang auditorium. Tetapi ada yang aneh, ada satu Maba yang dipanggil hanya diam tak bergerak. Akhirnya para panitia mendatangi dia. Seorang wanita. Gdubraaaaaaaaaak, dia jatuh ke tanah. Semua panik. Aku pun menjadi panik, aku berlari mendatanginya. Tim P3K mengangkat dia dengan tandu dan dibawa ke pinggir lapangan. Entah kenapa aku sedikit tegang melihat orang pingsan seperti ini. Semua tim panik. Anak - anak Fakultas Kedokteran yang berada di tim ku sibuk memeriksanya.
"Huaaaaaem, ospeknya sudah selesai ya kak?”, kata Umi, si mahasiswa baru itu.
Putra Wira Adnyana
Cerpen menarik yang judulnya Yummy ^_^
Yogurt
Erin Moniaga
Aku menerima semangkuk plastik yogurt yang disodorkan padaku dengan senyum.
Kukatakan terima kasih padanya yang berdiri di balik konter.
Hanya sebatas itu dan kulahap yogurtku sambil lalu.
Tak kuingat seberapa sering aku mengunjungi tempat itu
Hanya untuk membeli yogurt.
Tak kuingat seberapa sering dia bertugas di sana.
Saat itu, aku tak menggubrisnya sama sekali. Lambat laun kukira aku mengingatnya yang berdiri di balik konter.
Dan kurasa diapun begitu.
Tanpa kusebutkan namaku, dia telah merekamnya dalam memorinya.
Terucap secara refleks.
Dan kuterima mangkuk plastikku.
Ada yang janggal, apa ya?
Baru kusadari dia menambah topping-nya ketika yogurt sudah setengah jalan kuhabiskan.
Aku menoleh dan mendapatinya tersenyum.
Untukkukah?
Ah, dia hapal dengan topping favoritku.
Tercetus begitu saja dari bibirnya.
Aku pun tertawa pelan.
Kukatakan terima kasih.
Di balik kertas tissu alas mangkuk plastik baru kusadari ada pesan yang tertulis ketika aku hampir membuangnya.
Yang tertulis di sana membuatku tersenyum geli. Astaga, aku begitu ceroboh.
Terjatuh karena terburu-buru ingin kembali ke mejaku.
Yogurtku pun tumpah.
Sial sekali pikirku sebal.
Tak dinyana dia menghampiriku.
Memberiku selembar kertas tissu sembari membantuku berdiri.
Lagi-lagi, ada pesan di kertas itu.
Pipiku memerah seketika membacanya.
Kucari dia dan dia berdiri di balik konternya.
Mengulurkan semangkuk plastik yogurt dan tersenyum manis.
Untukkukah?
Yogurtku yang biasanya asam dan hambar terasa semanis gula.
Aku tersenyum sendiri.
Aku menoleh dan lagi mata kami bertemu.
Friday, March 16, 2012
@worldsilentday - Merayakan Keheningan Demi Bumi, 21 Maret
Rekan-rekan penghuni bumi,
Pada 23 Maret 2012 Bali, pulau yang terkenal di seluruh dunia sebagai surga, akan hening dan gelap. Bandar Udara Internasional akan tutup 24 jam penuh; tidak ada orang atau kendaraan di jalan, di seluruh pulau. Listrik akan dipadamkan kecuali di rumah yang ada anak kecil, di kantor polisi dan di Rumah Sakit. Ini adalah kejadian tahunan untuk menyambut Tahun Baru Saka, dikenal sebagai Tapa Brata Penyepian. Saat Nyepi, pulau Bali mengurangi 20,000 ton karbon dioksida. Bila anda berpartisipasi maka lebih banyak lagi karbon dioksida yang berkurang.
Tim World Silent Day kembali mengajak anda meniti HENING UNTUK BUMI pada 21 Maret 2012. Mari bersama-masa berbuat hal kecil untuk Bumi.
Kami ingin mengingatkan langkah sederhana:
- Rabu 21 Maret 2012
- Hanya Empat jam: Pukul 10 pagi hingga 2 siang, atau pilih waktu anda.
- Matikan peralatan listrik, kurangi penggunaan kendaraan bermotor dan aktivitas boros sumberdaya lain, tanam pohon, bina hubungan dengan keluarga, rekan kerja, tetangga
- Tuliskan pengalaman hening anda ke mysilent@worldsilentday.org.
Langkah ini akan mengurangi pemanasan global dari gerakan individu dan kelompok. Apabila anda berhalangan pada 21 Maret, maka bisa melakukannya pad 23 Maret bersama Masyarakat Bali.
BERI SATU HARI UNTUK BUMI BERNAFAS
HARI HENING SEDUNIA – 21 MARET
Salam Hening
Tim Muda World Silent Day
Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim
Jl. Pengubengan Kauh no. 94
Kerobokan, Kuta, Bali
Email: bali.climatechange@gmail.com
Thursday, March 15, 2012
resensi film: The Artist “Kebisuan Versus Berbicara” (by: @sukma_arisanti )
The Artist
“Kebisuan Versus Berbicara”
Apa yang paling pertama kita pikirkan jika mendengar kata “film bisu?” Tanpa warna, hitam putih, tua, ketinggalan jaman,cinematography masih standar, scoring dengan orchestra dan pemainnya berwajah klasik, isi cerita sepanjang film hanya memperlihatkan aktivitas masyarakat jaman dulu yang monoton, bahkan ada yang berpendapat film bisu itu membosankan. Salah besar setelah kalian menonton film The Artist.
Film peraih penghargaan Academy Award sebagai film terbaik ini bercerita tentang kehidupan George Valentin (Jean Dujardin) sebagai seorang artis film bisu yang berjaya di era tahun 1929. Sebagaimana halnya seorang artis pastinya memiliki banyak pengemar wanita, salah satu pengemarnya adalah Peppy Miller (Berenice Bejo) seorang gadis biasa-biasa saja namun memiliki sebuah obsesi dan rasa ketertarikan yang tidak biasa kepada George Valentin. Pada suatu ketika di acara premiere film terbaru George Valentin, Peppy Miller secara tidak sengaja menjatuhkan bukunya dan spontan ia mengambil kesempatan untuk lebih berdekatan dengan laki-laki yang dipujanya tersebut. Alhasil tindakan spontanya mencium pipi artis pujaanya tersebut menjadi berita besar yang terbit di headline utama di koran Variety. Mengambil kesempatan emas tersebut, Peppy Miller yang memiliki obsesi sangat besar untuk semakin dekat dengan pujaanya itu mengikuti audisi yang sedang diadakan oleh perusahaan rumah produksi Kinograph, yakni rumah produksi yang banyak menghasilkan film bisu paling populer di eranya. Singkat cerita, Peppy Miller berhasil menjadi seorang artis terkenal menyamai ketenaranya dengan George Valentin. Prubahan pun terjadi seiring perkembangan jaman dimana masyarakat lbh menyukai sebuah terobosan baru yakni film “berbicara”. Akan tetapi justru ketenaran Peppy Miller dengan sikapnya yang tidak menghargai film bisu dibarengi dengan terobosan baru dalam dunia perfilman tersebut membuat kehidupan George Valentin semakin terpuruk. Disamping itu faktor minat masyarakat dalam menonton juga berangsur-angsur berubah, mereka lebih suka dengan “fresh meat” alias artis-artis muda yang bisa berbicara ketimbang artis tua yang hanya bermain dalam sebuah film bisu. Istilahnya bisa dibilang “masyarakat bosan hanya melihat, mereka lebih suka hal baru yaitu mendengar”. Disinilah idealisme seorang artis film dipertaruhkan dan pada akhirnya bukti bahwa bakat serta kreatifitas artislah yang membuat eksistensinya tetap bertahan. Seperti apa kreatifitas yang mengalahkan inovasi baru itu? Terjawab di akhir film J
(foto yang menjadi berita utama di koran Variety dengan headline “Who’s That Girl?”)
Menurut saya, salah satu aspek film bisa dikatakan sebagai film yang bagus atau bermutu itu adalah film yang dapat memberikan sebuah informasi baru atau membuat penontonnya mendapatkan pengalaman dalam hal baru yang belum pernah mereka dapatkan dari film lainnya. Hal inilah yang banyak saya dapatkan setelah ataupun saat sedang menonton film The Artist. Film ini sangat pintar mengambarkan bagaimana kehidupan artis bisa berubah hanya karena inovasi baru di teknologi perfilman yaitu “berbicara” (bahkan mungkin kita tak pernah berpikir sampai sejauh itu akibatnya).
Selain itu melalui film ini kita bisa mengerti bagaimana sebuah karya harus ikut berubah mengikuti perkembangan keinginan pasar (mungkin inilah penyebabnya film horror Indonesia yang bertemakan sex sempat marak). Tidak hanya itu, selama menonton secara tidak sengaja kita juga belajar bagaimana teknis perfilman jaman dulu, ketika hanya masih hitam putih, bagaimana teknis pembuatan filmnya yang masih memakai meteran untuk mengukur jarak kamera dengan pemain, dan bagaimana teknis mereka dalam pembuatan poster film. Wow..! bayangkan dalam 1 jam 36 menit itu saya belajar banyak hal!
Yeah..thats why I love this movie J Rate 9/10 (VERY RECOMMENDED buat kalian yang ingin menikmati film dengan cara baru)
-Shiho-
sajak: suara tiada makna (oleh: @pandeparwata )
cerpen: Elysium (by: @ErindaMoniaga )
Judul : Elysium
Keyword : rajah, salju, cerpelai, rasi, palung
Ra berlari sekencang-kencangnya menuju arena pertempuran. Isi pikirannya kini bercabang. Benar, memang, bahwa misi membunuh sang Phoenix Air masih berada di urutan teratas dalam daftarnya, namun perkataan si Phoenix Air sudah mengganggunya sedemikian rupa. Bahwa sesungguhnya Ras Manusialah yang bersalah. Bahwa para Makhluk Mistis hanyalah korban, kambing hitam semata dari cerita busuk yang dikarang-karang para petinggi Ras Manusia. Bahwa mereka sesungguhnya bersedia untuk tinggal berdampingan di Elysium. Di surga.
Semua itu terbalik dari apa yang dia ketahui, dari apa yang sudah dicamkan para penguasa di tanah kelahirannya. Mana sebenarnya kenyataannya?
Ra harus menemukan Varuna, si gadis penjelmaan Phoenix Air. Gadis itu berutang penjelasan lebih lanjut. Dan jika dia berdusta, tiada ampun lagi, dia harus mati. Mestinya sewaktu tadi Varuna menyembuhkan luka-lukanya, Ra tidak usah ragu. Kenapa dia tidak bisa membunuh gadis itu? Satu lagi hal yang mengusiknya, perkataan Varuna bahwa meskipun di masa ini lagi-lagi mereka tidak bisa bersatu, dia yakin mereka akan bersatu nanti, di suatu masa yang akan datang. Apa maksudnya? Mengapa dia berbicara seolah-olah sudah mengenalnya lama sekali, padahal ini kali pertama mereka bersua? Bagaimana gadis itu bisa mengetahui namanya? Dan, yang paling penting, kenapa musuhnya itu mau menyembuhkan luka-lukanya?
Ra harus menemukannya, tidak bisa ditunda-tunda lagi. Benang yang terlampau kusut ini harus diuraikan.
Suara-suara pedang yang saling bersilang terdengar nyaring saat Ra mencapai arena perang di tepi pantai. Rangkaian mantra sihir terucap bagai lagu kematian. Teriakan-teriakan haus kekuasaan para manusia. Makhluk mistis yang berusaha sesedikit mungkin untuk melukai para manusia dan sedapat mungkin hanya melakukan sihir pertahanan. Darah. Mayat-mayat bergelimpangan dengan luka-luka mengenaskan dan menganga. Mata-mata yang terbuka namun tidak lagi memandang.
Ra menjerit dalam hati, inikah perangai manusia? Manusia yang katanya adalah ciptaan paling mulia?
Dia berlari, giginya menggertak keras. Tinggi-tinggi diangkatnya pedangnya pada tangan kanannya dengan gerakan mengancam, tapi tidak menusuk siapa-siapa. Dia melihat ke segala arah, matanya mencari-cari Varuna.
Kemudian dari pusat medan tempur terjadilah ledakan cahaya biru. Sinarnya sangat menyilaukan, semua yang ada di sana sampai harus menutup mata sejenak. Terdengar teriakan Orion Ptolemaus, Jendral Ras Manusia, kakaknya, membahana, “Dasar Makhluk Mistis tolol! Saudaramu si Naga Api Hyperion setengah mati berusaha menyembunyikanmu, tapi kau sendiri datang ke mari! Sudah siap mati rupanya kau?“
Wajah Ra memucat ketika mendengar perkataan itu. Dia akhirnya sampai di sana, terengah-engah, melihat Varuna berdiri dengan tenang dan anggun. Gadis perwujudan Phoenix Air itu berambut cokelat madu dan bermata biru, ekspresinya begitu lemah lembut. Dengan nada tegas dia menyahuti ucapan Orion, “Perang konyol ini tidak perlu terjadi, wahai Manusia. Sudah kami katakan bahwa kami bersedia hidup bersama-sama. Kami bersedia membagi buah dari Pohon Kehidupan. Kami bersedia membagi Elysium, membagi surga. Mengapa kalian tidak mau?“
Orion tertawa terbahak-bahak, lalu menyeringai sadis serta dipenuhi hawa nafsu, “Berbagi katamu? Yang benar saja! Kami harus menjadi penguasa mutlak surga ini, tidak perlu dibagi-bagi! Makhluk seperti kalian tidak pantas hidup! Hanya kamilah,“ Orion memperlihatkan rajah dengan simbol-simbol kuno yang terlukis di lengan kanannya, penuh kebanggaan; rajah yang menandakan dia adalah keturunan manusia bukannya makhluk mistis, “Ras Manusia, yang pantas menghuni surga!“
Kernyitan pada dahi Varuna semakin dalam. Dia teringat Pohon Kehidupan yang bersemayam di pusat Elysium. Pohon Kehidupan yang menyokong surga ini dari dalam. Dia teringat padang yang mengelilingi Pohon Kehidupan, bunga-bunga sewarna lembayung sedang bersemi dengan cantiknya. Gunung-gunung dengan puncak salju putih menjulang di selatan pulau. Pantai dengan pasir putih yang begitu lembut terserak di utara pulau. Perkampungan para Makhluk Mistis berada di segala sisi Elysium, hidup saling berdampingan dengan damai. Hewan berbagai jenis hidup dengan tenang di hutan, singa dengan domba, cerpelai dengan ular, harimau dengan kelinci, tidak ada saling membunuh. Sebuah sungai yang berpusat dari tengah hutan Elysium terbagi menjadi empat, masing-masing mengaliri empat penjuru pulau, sisi utara, timur, selatan, dan barat.
Segalanya terproyeksikan dengan jelas dalam benak Varuna. Elysium yang indah dan damai. Hatinya merana dan bertanya-tanya, mengapa perang ini harus terjadi?
“Varuna!“ Ra mendongak, tidak jauh dari sana seorang laki-laki berjuang untuk mendekat. Ra bisa mengetahui bahwa laki-laki itu sangat khawatir dan ketakutan. Matanya yang sewarna langit senja kemerahan sudah bertutur segalanya. “Varuna, jangan, hentikan, kembalilah ke Pohon Kehidupan, hanya kau yang bisa menjaga¾ugh,” lalai tidak berkonsentrasi, sebuah pedang sukses menembus perutnya. Varuna seketika menjerit.
“Hyperion...“ lutut gadis itu goyah melihat sang Naga Api Hyperion terluka, ia terjatuh. Air mata dengan deras mengalir, “Kumohon, hentikan, jangan lukai saudara-saudaraku lebih dari ini!“
Kepuasan liar tergambar dengan jelas pada mata Orion. “Jadi?“
“Bunuh aku, bunuh saja aku, hentikan perang ini, jangan lukai saudara-saudaraku lagi, jangan ada lagi manusia yang mati sia-sia! “
Adegan yang terjadi di depan matanya membuat Ra muak. Tempat tanah kelahirannya sudah sangat sekarat. Banyak manusia yang keracunan. Mulanya Ra tidak tahu apa sebabnya, dia menerima segala cerita yang dijejalkan padanya, bahwa kehancuran dan kematian Ras Manusia disebabkan oleh para Makhluk Mistis, oleh karena itu Ras Manusia harus merebut Elysium, tempat tinggal Makhluk Mistis, sebagai ganjaran atas perbuatan jahat mereka. Namun setelah melihat bagaimana cara kakaknya memperlakukan Varuna serta sesama bangsa penghuni Elysium, Ra mulai tidak meyakini apa yang diceritakan padanya. Mungkin Varuna memang benar. Mungkin memang manusia yang telah merusak tanah kelahiran mereka sendiri dengan berusaha melakukan sihir-sihir terlarang, dan gagal total. Akibat tidak mampu mempertanggungjawabkan perbuatan mereka, akhirnya mereka membuat cerita seolah-olah para Makhluk Mistislah yang berbuat keji.
Ra merasa gamang.
Orion melihat sekelilingnya. Perang masih berlangsung, tapi sebagian pasukan yang berada di dekat-dekat sana terdiam akibat mendengar pembicaraan mereka. Kemudian dilihatnya Ra berdiri tidak jauh dari sisinya, “Wahai, Ra, adikku sang pemanah terbaik, kuberi kau kehormatan untuk membunuh si Phoenix Air ini. Phoenix yang daging dan darahnya mampu memberikan kesembuhan dan hidup abadi! Lakukan, adikku, demi saudara-saudara kita yang sekarat di tanah kelahiran kita!“
Varuna menoleh ke arah Ra. Tatapannya seolah-olah mengatakan ‘lakukan saja.’
Ra menelan ludah. Bukan situasi begini yang ia harapkan.
“Ayo, pasukanku, beri semangat pada pahlawan kita, Ra Ptolemaus!“ Orion meraung pada pasukannya sembari tertawa buas.
“Varuna!“ seekor serigala berbulu perak, sang Serigala Angin Zev, dan rusa jantan berbulu cokelat kemerahan, sang Rusa Tanah Jord, muncul. “Varuna, terbang ke sini, cepat!“
Ra tidak mengerti. Kenapa gadis itu justru menggeleng dan tersenyum? Kenapa dia pasrah? Kenapa dia tidak melawan, tidak membunuh pasukan manusia satu per satu? Dia Makhluk Mistis terkuat, penjaga Pohon Kehidupan, penjaga Elysium, penjaga surga!
“Ra, jangan biarkan kami menunggu terlalu lama!“ Orion berkata memperingatkan. “Lakukan segera!“
Pikiran Ra kosong.
Busur Ra terangkat. Panah saktinya, Silverataca, siap dilepaskan.
Jord dan Zev, yang telah berubah ke wujud manusia namun masih tetap melayang di langit, mengambil ancang-ancang akan membunuh Ra, tapi Varuna berkata, “Jangan lakukan apa-apa. Rasi bintang di langit sudah mengatakan ramalannya. Aku tidak mau itu terjadi, kalian mengerti kan?“
Pikiran Ra kosong.
Matanya menatap mata Varuna. Suara riuh hiruk-pikuk dari arena perang lenyap ditelan kesunyian, seakan-akan sekeliling mereka membelesak lenyap, dan hanya tersisa keheningan. Arus waktu membeku.
Lagi-lagi nuansa itu. Lembar-lembar lama dari suatu masa pelan-pelan menyeruak. Ada sesuatu yang sedari awal mengusiknya mengenai Varuna. Matanya, suaranya...
“Ra...“ bisik Varuna.
Ada suara-suara terdengar, Ra tidak tahu dari mana, tapi dia mendengarnya. Suara-suara itu memanggilnyakah?
Siapa... siapa itu yang memanggilnya?
Ra...
Pemahaman mendadak muncul.
Itu suara jiwa. Suara jiwanya yang memanggilnya dan membangunkan apa yang telah lama tertidur.
Itu suara paruhan jiwanya yang telah lama terpisah.
Segalanya menjadi jelas bagi Ra.
Mengapa Varuna tahu namanya. Mengapa Varuna berkata suatu saat nanti mereka akan bersatu, meskipun di masa lalu dan kini tiada mungkin.
Ya, segalanya menjadi jelas bagi Ra.
“Varuna...“ ganti Ra berbisik.
Anak panahnya dilepaskan.
Varuna tidak memejamkan matanya sama sekali, siap menerima kematiannya. Jord, Zev, Hyperion, dan segenap Makhluk Mistis yang berada di sekitar sana berteriak. Orion mengeluarkan tawa kemenangan sementara pasukannya bersorak-sorai.
Panah itu menancap di dahi salah satu perwira tinggi Ras Manusia yang berdiri di belakang Varuna.
Ra menurunkan busurnya, tersenyum pada Varuna.
Aku percaya padamu.
Sungguh?
Ya. Tidak akan kubiarkan siapapun mati lagi.
Terima kasih, Ra.
Varuna, aku sudah tahu...
Apa yang kauketahui?
Bahwa sesungguhnya kita adalah¾
Mata Ra membelalak ketakutan saat melihat Orion berseru murka, menarik pedangnya keluar dari sarungnya, membabi buta berlari ke arah Varuna, berniat menghabisinya. Mulutnya merapalkan mantra-mantra, membuat Varuna yang tidak siap untuk bertahan menjadi tidak bisa bergerak. Ra melolong.
Dia melempar badannya menjadi tameng antara Varuna dan kakaknya.
Tertusuk persis di jantung. Semua makhluk yang ada di sana terdiam. Darah muncrat, membasahi Varuna yang dilindungi oleh Ra.
Keheningan sungguh merayap di sekeliling tempat itu.
Varuna memandangi telapak tangannya yang basah oleh darah Ra. Gelombang demi gelombang emosi berkecamuk dalam palung hatinya, merangkak naik, siap muncul di permukaan untuk meledak.
Orion menarik pedangnya, matanya melebar dibanjiri keterkejutan yang amat sangat.
Ra terbatuk, gumpalan darah keluar, “Varuna...“ mata hitam dan mata biru bertemu, “maafkan...“ dia terjatuh menimpa si gadis.
Varuna menunduk, memandang pemuda yang ada dalam pelukannya. “Ra?“
Dia sudah tahu. Dia sudah tahu ini akan terjadi.
“Ra?“ katanya putus asa. Air mata bagaikan butir permata berjatuhan. “Ra, jawab aku,“ tangannya mengeluarkan sinar biru penyembuh, berusaha menyembuhkannnya. “Ra...“
Sia-sia, dia tahu ini sia-sia. Karena itu dia yang mestinya mati. Mestinya dia yang mati, dia saja, jangan orang lain. Sudah terlambat.
Namun Ra tak menjawab. Tidak lagi. Tidak akan.
Apa gunanya perang ini? Mengapa manusia-manusia itu begitu rakus? Mengapa harus mengorbankan begitu banyak nyawa? Mengapa mereka tidak bisa hidup berdampingan? Mengapa saudara-saudaranya, Jord, Zev, dan Hyperion mesti terluka? Mengapa dunia ini begitu rusak? Mengapa Ra harus mati? Mestinya dia saja. Cukup dia saja yang menanggungnya!
Ra sudah pergi.
Dan Varuna pun menjerit.
Kekuatannya yang tersegel terlepas.
Kiamat dunia pun terjadi.
Semuanya sesuai penglihatannya, Varuna, sang Phoenix Air. Si gadis jelmaan Phoenix penguasa air yang mampu melihat masa lalu dan masa depan. Gadis dengan kekuatan luar biasa. Gadis yang berusaha mati-matian untuk membelokkan kenyataan tapi tidak berdaya.
Dialah deus penghancur dunia.
resensi buku; 9 Summers 10 Autumns Dari Kota Apel ke The Big Apple (by: @gasgisgus )
Judul buku : 9 Summers 10 Autumns Dari Kota Apel ke The Big Apple
Penulis : Iwan Setyawan
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Halaman : 223
ISBN : 978-979-22-6766-2
Cetakan I : Februari 2011
“Bu, percaya nggak? Aku ditawari kerja di Amerika, di New York!”
9 Summers 10 Autumns, hal. 190
Ketika pendidikan, keluarga, dan kerja keras dapat membuka jalan menuju kesuksesan. Itulah salah satu gambaran dari novel 9 Summers 10 Autumns : Dari Kota Apel ke The Big Apple , sebuah novel karya Iwan Setyawan ini terinspirasi dari kisahnya sendiri. Lahir di kota Batu dalam keluarga kurang mampu tidak menciutkan nyalinya untuk terus menuntut ilmu. Hingga akhirnya ia pun mendobrak batas ke kota New York. Cerita diawali dengan kerasnya kota terpadat di Amerika Serikat itu dan munculnya bocah kecil berseragam merah putih, yang akhirnya menemani Iwan dalam kesepian jiwanya di kota itu. Membuka kembali kenangan masa kecilnya, mengingatkan selalu akan keluarganya di tanah air dan membuat cerita ini begitu menarik, sampai terus membuat kita melanjutkan lembar demi lembar novel ini. Siapakah bocah kecil berseragam merah putih itu? Dan apa kaitannya dengan hidup seorang anak sopir angkot yang berhasil menjadi Direktur, Internal Client Management di Nielsen Consumer Research, New York?
Penuturan dengan alur maju-mundur ini ditulis Iwan dengan jujur dan polos tetapi begitu bermakna. Seakan Iwan menciptakan flash back dalam hidupnya. Kata – kata yang begitu sederhana membuat siapa saja dapat hanyut dalam kisah ini. Terlihat jelas dalam novel ini, jerih payah dan semangatnya untuk merubah nasib keluarga dan hidupnya. Berlatar kota Batu dan New York yang begitu kontras memberikan imajinasi hidup seolah kita bisa meraih The Big Apple. Novel ini memberikan motivasi, kenyataan, kejujuran, keharusan dan kesederhanaan dalam hidup. Iwan Setyawan membuka mata hati kita tentang arti sebuah mimpi, keluarga , cinta dan hidup dengan cara yang sederhana.
Dengan Segala ketekunan, aku lalui masa SMP dengan gemilang. Aku selalu berada di rangking teratas di sekolah. Prestasiku dan kakak – kakakku, menjadikan rumah mungil kami “terangkat”.
9 Summers 10 Autumns, hal. 72
by: Gustra