Showing posts with label Travel Diary. Show all posts
Showing posts with label Travel Diary. Show all posts

Thursday, December 03, 2009

Seminar Script Writer Balinale ’09 - Event keren Peminatnya Segelintir

23/10/09, Jumat Siang hari yang terik, syukur2 aq dapat tumpangan, jadi rada adem selama perjalanan menuju ke Galeri 21 untuk mengikuti seminar film yang diadakan oleh BALINALE 2009. Tepat pukul 1 siang, peserta seminar sudah diijinkan untuk memasuki ruangan seminar yang ada di Studio 3 Galeria 21 Cineplex… salut dech buat ketepatan waktunya ^_^!

Berbekal info awal yang aq dapat sebelumnya bahwa materi seminar film yaitu mengenai “Introduction to Filmmaking”, bahwa seminar tersebut adalah bagian dari acara BALINALE 2009 yang merupakan International Film Festival dan bahwa seminar tersebut adalah seminar gratis, diselenggarakan di Galeria 21 Cineplex pula… meskipun kami (aq, nrt & nv) belum mengetahui siapa yang akan menjadi pembicara dalam seminar tersebut. Hmm, info itu sudah cukup membuat kami berasumsi bahwa seminar ini bakal penuh sesak dengan para sineas muda ataupun yang tertarik dengan dunia per-film-an.

Bali tetaplah Bali, hingar bingar acara berskala internasional pun belum cukup menjadi “gula” untuk dikerumuni oleh penonton/peserta acara. Hal ini juga berlaku pada acara seminar film yang kami hadiri siang ini. Ternyata, yang menjadi pembicara dalam seminar ini adalah seorang script writer dari film Laskar Pelangi, Salman Aristo. Woow, kebangetan dech kalo acara ini dianggap biasa-biasa aja. Penasaran juga sich kenapa kok pesertanya segelintir banget. Padahal, niy kalo ngundang beberapa skul2 aja pasti bakal bejibun dech. Nama acara, materi acara, pembicara, tempat dll cukup jadi alasan kuat buat dihadiri…!!!! Sayang, pas selesai acara meski aku sudah berusaha mencari tau dengan berusaha wawancara singkat dengan pihak penyelenggara, si Ibu Deborah, tapi sikap, bahasa tubuh & tutur katanya jelas banget menunjukkan keenganannya berbincang barang 3 menit aja dengan ku. Pa lagi sejak awal kusodorkan kartu nama & hendak nanya2 dikit ttg acara Balinale itu… uuuuuhh ;(

Q lanjut aja deh, beberapa menit setelah tampak gak ada tanda-tanda akan ada pertambahan peserta yang memasuki ruang bioskop itu. Acara dibuka dengan perkenalan singkat mengenai acara seminar hari itu & pembicaranya, lalu si pembicara tanpa basa-basi gak penting lagi langsung memberikan sharing mengenai kisah-kisah pribadinya dan latar belakang hingga ia terjun dalam profesinya tersebut. Acara selanjunya lebih banyak diisi oleh tanya jawab yang berlangsung seru selama seminar atau lebih tepatnya sharing mengenai dunia per-film-an khususnya mengenai penulisan skenario film.

Sejam berlalu dengan tanpa terasa… banyak wajah-wajah yang menunjukkan kekurang puasan karena minimnya waktu seminar itu. Gambling banget pak Salman berbicara mengenai geliat kehidupan penulisan scenario film di Indonesia. Lahannya masih basah, persaingan masih sedikit karena orang2 yang terjun dibidang itu amsih bisa dihitung dengan jari. Sedang kendala yang biasa dihadapi rata-rata bersifat teknis aja sih, mulai belum ada institusi yang mempelajari disiplin ilmu mengenai penulisan scenario, sehinggan mereka2 masih harus belajar secara otodidak. Serunya jadi penulis scenario adalah tantangannya untuk bisa membuat perencanaan mendetail dan berfikir komplex dari sudut pandang sutradara, editor sekaligus produser.

Selain itu… pak Salman juga banyak share mengenai gimana2 sih geliat perfilm-an Indonesia…. Adalah penjelasan yang aq suka dari beliau yaitu yang menjelaskan bahwa perkembangan film2 horor yang marak di Indonesia & membuat latah industri film untuk memproduksi lebih banyak lagi film2 horor picisan seperti itu, pada suatu saat akan mencapai titik jenuh… baik industrinya maupun penontonnya yang menjadi konsumen utama! Titik jenuh itu akan menjadi klimaks dan menggeser paradigma masyarakat pada genre film2 seperti itu. Pada saat itu tiba, maka industri film di Indonesia akan mulai diwarnai oleh genre-genre film lainnya…. Demikian seterusnya ^_^

Wednesday, December 02, 2009

Gatot Kaca Kinclonk

Suatu sore ketika melintasi pertigaan Tuban (bandara Ngurah Rai), aq menemukan disuatu sudut jalan sesuatu yang putih bersinar. Tampak menyolok bukan hanya dari ukuran dan bentuknya yang unik, tapi juga silau putihnya yang tampak cemerlang, seperti iklan-iklan pemutih pakaian yang tengah marak beriklan di layar kaca. “Patung Gatot Kaca” yang sudah bertahun-tahun menjadi landmark di bandara Ngurah Rai Tuban, baru-baru ini mulai di-maintenance. Akh paling project alokasi dana lebih pemerintah, selintas demikian pikirku. Masih mematut disisi jalan menanti lampu lalu lintas yang masih menyala merah… dari berbagai sudut, sosok patung Gatot Kaca itu benar-benar mencuri perhatian bagi siapapun yang melintas.

Sore itu, tampak beberapa warga sekitar yang duduk-duduk santai bergerombol bersama keluarga dan teman untuk sekedar nongkrong sore & bercengkerama. Seru juga, patung Gatot Kaca yang sudah molek lagi itu tak hanya menjadi penyambut tamu-tamu yang baru datang ke Bali melalui jalur udara, tapi juga bisa dinikmati oleh warga sebagai taman kota.

Sunday, March 22, 2009

Istana Kuta Galeria - memories

221208
Sore itu, mendung bergelantungan di langit Bali sedari pagi, sesekali rintik hujan bersentuhan dengan bumi, makhluk bumi menerimanya sebagai gejala alam rutin dan adalah peristiwa yang biasa. Namun, sore itu menjadi sore yang tak biasa bagiku setelah kupijakkan kaki untuk kesekian kalinya di Istana masyarakat Kuta ini. Mengapa istana masyarakat Kuta? yaa karena kemegahannya memang layak diberi gelar istana, dan berada di bilangan Kuta-Tuban. Mengapa tak biasa meski itu bukan pertama kalinya aku berkeliling di istana itu, bahkan daerah Kuta Galeria adalah tempat kantor YC berada? Itu terlebih karena feel yang kurasa beda aja, dan sudut-sudut istana kulihat dari perspektif yang berbeda... itu alasan yang muluk-muluknya, kalo alasan sejujurnya sih, karena sore itu aku merasa stagnan banget, penat sekali dengan rutinitas dan bebal pikiranku akan banyak hal yang berkecamuk. Sedang seharian itu aku merasa lumpuh diantara orang-orang yang aktif sekali..di kantor itu. Hehehe, yaa sore itu di istana itu aku menemukan diriku berada di suatu tempat asing yang tak asing, beda yang tak beda...

Sudut-sudut di Istana Kuta Galeria memberikan suatu perasaan yang berbeda. Aku merasa insting lokasiku kacau, aku berjalan tanpa peduli berada di koordinat titik berapa. Istana itu entah mengapa saat itu mengusik kehadiranku di Bali, aku merasa nyaman seperti pergi jauh dari daerah yang kutinggali sedari kecil. Namun begitu aku tersadar dan menemukan diriku masih tetap di lintang dan bujur derajat yang menandakan aku masih di Bali, aku merasa lebih lega. Bertemu dengan orang-orang yang kukenal..di lantai tiga itu, membuatku lebih lega, menemukan diriku berada bersama mereka. Suatu perjalan ke suatu daerah lain sangat menyenangkan, namun kembali pulang adalah suatu hal yang jauh melebihi dari sekedar perasaan menyenangkan itu.

Istana Kuta Galeria memang sangat indah. Berada didalam areal tersebut seolah membuat perasaan kecil, kemegahannya menenggelamkan diri sebagai manusia yang seringkali angkuh untuk hal-hal yang adalah kelemahan yang tak diakui. Bentuk-bentuk meluas, areal kosong yang dikelilingi bangunan berbagai bentuk tanpa pakem Bali, warna-warna bertabrakan, dan gaya arsitektural yang futuristik tradisional Eropa... tiang-tiang tinggi besar kokoh dan ritmis dinamis, hmm sangat indah, simbol ungkapan kebijaksanaan yang ingin dituangkan pada bangunan. Elemen dekoratif yang sebagian besar bertemakan flora dan fauna memberikan keharmonisan manusia dengan alam. Warna-warna serta teksture yang dipergunakan sebagai elemen pelengkap dan pembeda bangunan tetap konsisten pada ritme antar bangunan. Dalam suatu kompleks bangunan, akan ada suatu bangunan yang menjadi pembeda yang sangat mencolok dan kontras, berani menentang sekelilingnya. Disanalah letak kekuatan ritme kontras yang sengaja dibuat. Keseragaman monoton yang berulang dan teratur perlu dibuat hentakan, desain pembeda dan pemberontak yang meruntuhkan perulangan statis, menanggulangi kebosanan.

Pola tata bangunan Istana itu sangat menyenangkan. Pedestrian menjadi point utama, oleh karenanya kenyamanan penataan prana luar adalah prioritas terpenting. Kompleks bangunan yang difungsikan sebagai pertokoan, perkantoran dan juga fasilitas publik sangat arif dijaga seperti layaknya artis yang menjadi daya tarik massa. Namun, diluar dari itu elemen-elemen pendukung lingkungan tetap bisa menyumbangkan kesan tersendiri yang tak kalah mengangumkannya. Seperti misalnya dibeberapa titik terdapat taman mini lengkap dengan kolam dan air pancur yang memberikan kesegaran sekaligus sebagai elemen pelunak. Beberapa food court sengaja menata meja dan kursi di sepanjang jalan setapak, cukup ampuh menjai penyeimbang dan pengisi ruang luar. Sculpture, signed board, fire pomp, genset, garbage basket hingga manhole (penutup lubang selokan) didesain sedemikian rupa sehingga menjadi bagian dari desain. Bahkan disuatu sudut bangunan, instalasi pembuangn AC diberi penutup sekat-sekat kayu seperti pada ciri desain tropis, AC pun mendapat perlakuan spesifik.

Corak trace road diambil dari corak bebatuan padas, sangat teliti sekali pemilihan warna dan teksturenya. Terdapat beberapa corak berbeda dibeberapa lorong yang menjadi pedestrian. Coklat muda, coklat tua, abu-abu hingga hitam legam menjadi pilihan warna utama. Public toilet dibuat di suatu sudut terbuka yang sangat mencolok karena berada ditengah-tengah persimpangan jalan. Namun, toilet itu dibangun disemacam ruang basement, sedang dibagian atasnya dibuat taman dan kolam yang mengisi pranata ruang luar tersebut. Sangat unik, karena akses menuju ke dalam toilet yang langsung terpisah antara toilet pria dan wanita itu serasa menuju ruang bawah tanah yang akan menghadirkan kejutan tersendiri. Sayangnya, khususnya untuk toilet wanita.. dari kelima box toilet yang tersedia, tak satupun yang dapat terkunci. Pintu box tak dibuat rata untuk bisa dikunci, hingga pintu harus diganjal benda lain semisal tempat sampah/tissue bekas agar mau tertutup, hmmm... amat sangat disayangkan.

Ada suatu sudut ruangan yang menurutku sangat menyenangkan. Yaitu disekitar kompleks bangunan Hardrock Radio, yang letaknya cukup terpencil dan dari sejumlah bangunan yang ada baru beberapa saja difungsikan. Kantor dan studio radio Hardrock FM Bali berada tepat dipojokkan, terdiri atas tiga lantai. Dibagian luar terdapat taman kecil. Ada dua buah kursi dan meja taman lengkap dengan payung taman. Aaiiih menurutku disana adalah tempat yang sangat romantis untuk bercengkrama. Bisa banget dimafaatkan untuk pertemuan informal dengan anak-anak muda, gathering radio dsb.nya. tempatnya cukup tenang, jauh dari orang berlalu-lalang. Tinggal ditambah elemen kolam air mancur sebagai elemen air yang melembutkan horison sekelilingnya, dan beberapa titik lampu spotlight... klop banget deh buat event-event kecil semacam firewall party, garden party dll deh.. hehehe

Padahal, secara fisik desain bangunan yang meski sebagai pembangkakangan dari tata aturan IMB di Bali adalah merupakan bangunan yang sangat sempurna. Kompleks ruko yang elegan bergaya Eropa campuran (ada beberapa yang menonjolkan citra arsitekur Jepang dan Bali). Ruang-ruang luar yang cukup mendukung berbagai aktifitas semacam pertunjukkan, bazaar terbuka, garage sale bahkan kegiatan komunitas (panjat tebing, photography, syuting film, outbound games, dll). Areal parkir yang amat-amat-amat sangat luas yang memang disediakan sebagai central parkir di Kuta. Beberapa public facility yang mengakomodir kebutuhan pengunjung. Dan banyak lagi lainya deh. Namun, entah mengapa semenjak awal beroperasinya Istana Kuta Galeria ini dianggap gagal secara manajemen marketing, secara public design, marketing strategic, atau entah lah… sayang banget emang…

Thursday, November 13, 2008

Travel Diary to Kupang, the Texas Wannabe

Well, ini sebenarnya udah aku ketik cukup lama karena aku ke Kupang juga udah lumayan lama (sekitar 3 bulan lalu, bulan Agustus 2008), tapi baru sempet aku posting sekarang, heheee… ^_^

This is my first time to go to Kupang. Meski terkesan sangat mendadak bahkan untuk preparation pakaian dan segala macam termasuk booking tiket hingga aku harus berkejar-kejaran dengan waktu. Tapi pada akhirnya aku jadi juga ke Kupang. Hmm… antara senang dan sedih siy ^_^

Kesan pertama… menyebalkan!! aku gak dijemput di Bandara karena ternyata temanku, sebut saja Eman (memang nama sebenarnya siy, hahahaaa) yang seharusnya menjemputku kebetulan sedang ada acara mendadak. Aku disuruh langsung ke mal sendiri, aku gak tau mana-mana, gak dikasi tau nama mall-nya, gak kenal siapa-siapa. Bahkan aku belum tau nama bandara di kupang.

Tiba di Kupang ketika beranjak malam, keadaan bandara di Kupang membuatku sedikit bertanya-tanya, benarkah aku mendarat di bandara Kupang ataukah di terminal bus Kupang…? Karena bandara tersebut jauh dari layak, sangat kumuh tak terawat, kecil, suram, gersang, sangat tidak tertata dan jauh dari standar untuk sebuah bandara. Hmm, aku sedikit terkejut saja tapi yaaah inilah Kupang.

Karena hari sudah beranjak malam dan aku mulai merasa kurang enak badan maka aku memustuskan untuk bergegas mencari Taxi. Makelar Taxi bertebaran mencari mangsa, aku bergerak sedikit aja sudah langsung ditawari taxi, tanpa basa basi aku nurut aja. Ternyata taxi disana tidak menggunakan argo, aku diberi semacam karcis yang tertera langsung harga untuk taxi ke mall dan langsung diantar ke taxi bersangkutan. Aku malas lah tawar menawar harga, lagipula aku belum berani untuk cerewet karena aku belum tau typical orang-orang di Kupang. Syukurnya sopir taxi yang mengantarkanku cukup ramah dan perhatian.

Aku cukup heran melihat pemandangan sepanjang jalan menuju mall yang sangat pedesaan banget, meski ini ternyata adalah daerah kotanya. Rumah-rumah terkesan kumuh dan suram. Banyak banget lahan kosong. Tanaman mongering dan gersang. Penduduk banyak juga yang berlalulalang, namun tetap tak seramai di Bali. Mengingat Bali aku jadi rindu akan banyak hal di Bali… meski aku belum sejam di Kupang, hmm home sweet home yeach.

Bangunan di Kupang sangat old design, tak tertata, terkesan kumuh dan gersang. Lahan kosong sangat banyak. Namun sama sekali tak tertata dan terawat, hanya seperti tanah kosong tak bertuan. Sehingga banyak rumah-rumah yang letaknya saling berjauhan satu dengan yang lainnya. Halaman rumah-rumah penduduk pun yang meski punya pekarangan luas tapi tak ada tanaman sama sekali. Sepertinya di Kupang sedang musim kering. Semua tampak gersang. Hmmm… sempurna sekali untuk syuting film Cowboy ala Texas.

Akhirnya aku tiba di mall, dan lagi-lagi aku masih harus mencari-cari Eman. Susah sekali mencari dia, aku sampai harus menyusahkan banyak orang. Akhirnya aku ketemu juga ma orang item kecil kurus kering norak ngejreng banyak bicara banyak gerak…ya siapa lagi kalo gak c Eman. Finally aku nyampe di Kupang juga ketemu ma ulat bulu item juga, hahaaa….! Ternyata di Kupang ini nama tenarnya adalah Ka’El, alias Kak Elman, aiiihhh menyusahkan amat siy hanya karena nama Eman harus disisipi huruf “L”. Eman langsung mengajak keliling “mall” (kata mereka siy begitu… hehee). Kamipun makan Bakso yang katanya enak di Kupang. Kemudian kamipun ke tempat tinggal Eman, di suatu wilayah yang lagi-lagi katanya niy adalah gang paling ditakuti di Kupang paling terkenal kriminalitasnya, namanya Gang Danger tempat mangkal para preman.

Hingga malam menjelang kami berbincang-bincang terus di rumah Eman, malam itu aku gak tau harus tidur dmana, Eman bilang udah kemaleman mengantarkanku ke rumah Ka’ Rabiyah (ato panggilan keren mereka “mammy”), oleh karenanya malam itu akhirnya aku menginap di rumah Eman (ampun deh, dengan kekolotan orang-orang disini kami beresiko digrebek masyarakat, makasi Tuhan masi melindungi). Kerinduanku akan Eka muncul ketika Eman menanyakan kabarnya. Aku pun tiba-tiba merindukan Bali dan orang-orang disana terlebih keluargaku (busyet deh belon sehari udah homesick).

Jumat pagi, aku mengikuti Eman seharian. Ke kantor Telkomsel, ke sekolah-sekolah, ke pantai, ke mall, dan sering banget makan-makan. Hmmm.. Eman benar-benar guide yang baik, heheee. Aku terhibur siy, tapi entah kenapa ada ganjalan di hatiku yang ternyata aku tak benar-benar enjoy di Kupang sini. Separuh diriku ada di Bali. Mungkin karena aku belum menyelesaikan tugasku di Bali kali ya… aku harus segera selesaiin dulu.

Di Kupang ternyata banyak event. Mulai dari ENTEX (East Nusa Tenggara Expo) yang berlangsung selama lima hari mulai dari tanggal 31 Juli – 4 Agustus 2008. Eman nge-MC di Telkomsel (karena dia dikontrak kerja ma mereka, keren keren…). Hmmm, exhibition kebudayaan yang mnurutku sedikit aneh. Karena booth yang mengekspos tentang potensi daerah bisa dibilang sedikit dan kurang menonjol. Lebih banyak dan lebih eye cathing booth-booth sponsor. Acara di panggung utamapun sebagian besar adalah parade band dengan lagu-lagu yang acak adul, apalagi sexy dancer yang bikin mual deh (maaf), seni daerah sedikit banget porsinya. Ada pemilihan duta pariwisata Nusa Tenggara 2008 juga sih, tapi ampyuun deh gak berkualitas geto. Finalisnya masih kurang banget pengetahuan tentang Nusa Tenggara, banyak pertanyaan juri ati MC yang gak bisa dijawab. Walah-walah, apa mereka sekedar mejeng doang?

Malam ini aku menginap di tempatnya kak Rabyiah, kakaknya Majid yang dulu sempat singgah ke Bali liburan bersama Kiki anaknya & Heni adiknya Majid. Mereka baik banget, aku disambut ramah abis oleh mommy (panggilan untuk kak Rabiyah) dan suaminya yang kerap dipanggil papi oleh orang-orang disini (hmmm… jadi mami dan papi seluruh umat ya? hehehe). Anak-anak mereka pun lucu-lucu, hahaaa dalam sekejap aku merasakan punya keluarga baru, senangnya.

Aku tidur di lantai tiga, waaaahhh dari kecil aku selalu ingin banget punya kamar di loteng ^_^, senangnya. Entah mengapa, malam ini aku sedikit bersusah payah memaksakan mataku untuk mau terpejam. Padahal malam telah larut, semua orang sudah terlelap, esok mereka harus bangun pagi karena harus membuka toko kelontong di lantai bawah rumah ini sebagai rutinitas kegiatan sehari-hari. Yaa mereka ini orang Bugis yang notabene adalah pedagang sejati, hehee.

Masih tak bisa tidur, aku pun membuka laptop pinjaman yang (maaf) aku bawa dari Bali agar aku bisa sambil menyelesaikan kerjaanku. Alih-alih mengetik konsep acara Surf for Bali Kids, aku mendengarkan lagu JIKA yang dinyanyikan oleh Melly dan Ari Lasso, my favorite song. Lagu ini cukup ampuh untuk membuatku melarutkan diri dengan kenangan akan orang yang aku sayangi nun jauh dimata tapi dekat di hati, rasanya dekat di hati selalu. Tanpa sadar akhirnya aku malah ngetik curhatan deh, heheee…

Malam ini lagu ini entah kenapa membuatku ingat pada Eka, sobat kentalku sekaligus partner kerjaku di The YC yang entah mengapa kami emang ditakdirkan gak bisa akur kali ya, hahahaa. Aku kangen Bali dan aku kangen ma Eka, meski kami selalu cek cok tapi rasanya sepi juga gak bertengkar ma tu anak. Aku merasa bersalah banget ketika hari itu aku tiba-tiba membuat keputusasn sendiri dan langsung memilih untuk tidak mendegarkan sarannya agar berangkat ke Kupang hari jumat tanggal 1 Agustus saja, bukannya kamis sore yang waktunya sangat sempit banget untuk berkemas-kemas dsbnya.

Aku teringat kembali akan proses keberangkatanku yang cukup mendadak siy. Mulai dari kabar yang kuterima viaphone dari Eman yang kuterima 2 hari sebelum memintaku untuk sesegera mungkin berangkat ke Kupang. Aku mengiyakan saja karena aku sangat ingin pergi ke Kupang, karena dulu ini adalah impianku banget (setelah Eman cerita yang indah-indah dan seru di tanah kelahirannya ini). Namun, waktunya kurang tepat aja karena bertepatan dengan padatnya event dan tugas dibulan Agustus, namun syukurnya Eman hanya menawarkan selama dua minggu saja.

Kemudian, aku memberanikan diri meminta pendapat Eka. Aku terkejut karena ternyata Eka memperbolehkan aku berangkat ke Kupang… hmm pastinya dengan syarat-syarat tertentu (itu dah ciri khasnya Eka yang sangat kurindukan sekarang). Eka sebenarnya hanya mengingatkanku aja agar aku tetap bisa bertanggungjawab terhadap tugas-tugasku, memastikan semua bisa aku control, aku bisa berkoordinasi dengan Eka masalah gathering, koordinasi dengan Wiwik masalah event surf for charity, koordinasi masalah Bali Fashion Weeks, dan event-event yang akan diadakan oleh YC, serta meminta izin pada mb’ Gilda. Dan yang kemudian ditegaskan secara berulang-ulang adalah aku harus membalas SMS, menerima call, mengabari kalo ada apa-apa, memberitahu kalo punya nomor baru…. Yaaa masalah komunikasi gitu deh. Aku suka banget deh kalo Eka lagi kayak gitu, sok sok memvonisku paling bersalah & paling bermasalah heheee.. kesannya aku tuw tawanan yang berniat untuk kabur. Berkali-kali dia menegaskan tentang my HP’s problems. Aku kangen banget ma Eka, marah-marahnya yang gak jelas juntrungnya, muka lesu & rapuhnya karena dihempas masalah-masalah yang kerap menggoda kehidupannya.

Karena eka udah setuju aku pergi, mba’ Gilda juga, yang sedikit alot ngasi ijin siy orangtuaku tapi syukur akhirnya aku bisa membujuk mereka heheee, oleh karenanya aku memustuskan untuk pergi ke Kupang. Padahal sebenarnya siy aku juga bingung, banyak yang harus dikerjakan nok di Bali hehee. Kemudian, hari kamis datang hari dimana aku seharusnya berangkat ke Kupang. Namun karena aku sendiri belum percaya maka aku belum ingin prepare apapun hingga jam 2 siang. Aku masih ke kantor rencananya aku maw koordinasi ma Eka sbelum aku benar-benar pergi. Tapi yang terjadi malah kami cerita-cerita masalah keluarga, diskusi ngalor ngidul, tertawa bareng ma Jaka juga. Senangnya…... dan kemudian Eka tau aku masih bisa berangkat hari Jumat maka dia membujukku agar berangkat hari Jumat saja agar hari itu bisa berkoordinasi dengan Eka dan Wiwik dulu dan mempersiapkan segala sesuatunya dahulu. Dia dengan gaya yang lucu membujukku dan memaksaku. Entah kenapa kami sangat dekat waktu itu gak seperti sebelum-sebelumnya yang rasanya kami tuw musuh bebuyutan deh, sepertinya hari itu aku mempunyai firasat akan kehilangan dia selamanya. Lagi-lagi aku merasa sangat merindukannya.

Entah ada setan apa yang merasukiku, tiba-tiba ketika membeli tiket pesawat aku memutuskan untuk tetap berangkat sore itu, hahahahhaaa aku sendiri sering terkejut dengan keputusan-keputusan spontan yang aku ambil mendadak. Kamudian aku bergegas ke kos membawa barang-barang yang sekiranya perlu aku bawa. Rencananya aku akan mampir lagi ke kantor, koordinasi dan berpamitan, namun waktu sudah tak memungkinkan lagi. Akhirnya aku ke Nusa Dua dan meminta bapakku untuk mengantarkanku. Waktu sudah sangat mepet, aku melaju dari motor dengan kecepatan yang membuat bapakku berteriak-teriak sepanjang jalan.

Tiba di pesawat aku cek in dengan terburu-buru. Aku call Eka untuk mengabari keputusanku berangkat hari itu juga, dia menjawab dengan acuh dan langsung menutup telponku (ato mungkin sinyal low ato mungkin lowbatt kali). Tapi ternyata dia kemudian SMS aku, aku sediiiih banget. Seketika itu aku ingin menangis. Setelah dia akhirnya SMS terakhir karena aku sudah dipesawat, aku tak bisa menahan air mataku. Harusnya aku kembali untuk memeluknya dengan erat dulu.

Di pesawat dengan pemandangan yang sangat indah, aku mencoba meredam kesedihanku. Karena awan-awan, laut, daratan, sunset semua deh sangat indah sekali. Aku ada di langit-langit dan semua kelihatan berbeda dilihat dari atas sana. Meski kemudian aku mengalami kebosanan, andai tadi aku mempersiapkan peralatan menulisku. Cuaca dan tekanan angin seringkali berubah-ubah, hingga beberapa kali pesawat tampak oleng. Namun, syukurlah aku sampai dengan selamat di Kupang. Pada waktu itu Kupang sudah gelap sehingga aku tak bisa meperhatikan dengan detail.

Aku lupa persisnya berapa hari di Kupang, tapi kemudian beberapa hari kemudian aku ma Eman menuju So’E, desa tercinta yang sering banget diceritakan eman. Kami naik sepeda motor, hmmm ternyata lumayan jauh juga, tapi gapapa aku siy suka-suka aja karena emang banyak pemandangan keren disepanjang jalan. Eman lagi-lagi menjadi guide yang baik, bercerita sepanjang jalan tanpa henti-hentinya menjelaskan tiap detil tempat berikut rencana-rencana besarnya untuk memajukan NTT, hehheee...


…….. to be continued for the day at So’E……