“Hallo Selamat Siang, bisa bicara dengan Umi? ", aku menelepon ke rumahnya
"Lagi tidur Mas. Ini siapa ya?" jawab seorang wanita.
"Aku Bagas, tadi aku menelpon ke hp-nya tapi tidak diangkat. Dengan siapa ya aku bicara?"
"Ih ini si Mbok, iya Uminya dari pagi belum keluar kamar, seperti biasalah Mas, orangnya suka molor, nanti
mbok kabarin ya kalau dia sudah bangun" jawab si Mbok sambil cekikikan.
"Makasi ya Mbok. Kita janjian sarapan bareng tadi pagi tapi sampai jam makan siang aku tunggu, dia belum
datang juga" kataku sangat kesal.
***
Namaku Bagas. Aku masih kuliah di jurusan Ekonomi Manajemen, semester 6. Seperti anak muda yang kuliah lainnya, aktivitasku adalah kuliah dan bermain dengan teman - teman. Kelulusan tentu saja impian semua anak muda. Tetapi impianku selain itu adalah mempunyai pacar yang cantik. Tidak salah kan jika ingin mempunyai seorang pacar yang cantik apalagi yang baik hati. Mungkin itu adalah satu kebanggan bagi kaum lelaki. Boleh kan jika kita mempunyai mimpi seperti itu. Tapi, kata teman - temanku, mimpiku itu hanya sebuah mimpi rakyat jelata yang ingin menikahi seorang putri raja. Uh, sedikit membuat semangatku berkurang !
"Hai Gas, ingat ya nanti ikut rapat panitia penerimaan mahasiswa baru!" teriak Baharudin teman kampusku dari Fakultas MIPA.
Aku hampir lupa kalau tahun ini harus mengisi kekosongan dalam panitia, yaitu bidang P3K. Sebenarnya, sedikit kurang berkenan sih, karena aku dipaksa padahal tak ingin mengikuti kegiatan kampus lagi. Aku hanya ingin berkonsentrasi pada kuliah. Tapi tak apalah, sebentar lagi aku yakin aku lulus dari kampus ini. Akhirnya aku mengiakan dan siap menjadi Tim P3K untuk penerimaan mahasiswa baru.
Tugas hari pertama pun tiba dan sebalnya aku harus bangun pagi untuk mempersiapkan diri karena pukul 6 pagi harus sudah di kampus. Mataku masih belum terbuka lebar, kaki serasa melayang - layang. Ternyata para Maba alias mahasiswa baru sudah berkumpul sejak jam 5 pagi, mungkin karena begitu tegangnnya kepada para senior yang sok galak - galak itu. Mereka pun berbaris rapi di lapangan depan auditorium dengan wajah yang ketakutan. Aku hanya ketawa cekikikan melihatnya.
"Hahahaha, mereka mau saja ditipu sama lo ya Din?", bisiku ditelinga Baharudin, yang saat itu menjadi ketua panitia pelaksana.
"Eh kita juga dulu kan lebih disiksa, ini aja udah baik perlakuan kita", sahut Baharudin. Tiba - tiba Baharudin berteriak kencang, "DIAAAAAAAAAAAAMMM kalian semua, mau jadi apa kalian semua? mulutnya bisa diam tidak. Disuruh berbaris saja masih cerewet. Anak Pasar!"
Serentak anak - anak Maba diam dan tak bergerak. Semua hening. Satu persatu maju sambil dimaki - maki para kakak panitia. Aku hanya melihat barang kali ada yang sakit atau butuh bantuan P3K. Diam di barisan belakang. Aku menjaga para Maba andai kata ada yang sakit.
Hampir habis semua Maba di data dan masuk ruang auditorium. Tetapi ada yang aneh, ada satu Maba yang dipanggil hanya diam tak bergerak. Akhirnya para panitia mendatangi dia. Seorang wanita. Gdubraaaaaaaaaak, dia jatuh ke tanah. Semua panik. Aku pun menjadi panik, aku berlari mendatanginya. Tim P3K mengangkat dia dengan tandu dan dibawa ke pinggir lapangan. Entah kenapa aku sedikit tegang melihat orang pingsan seperti ini. Semua tim panik. Anak - anak Fakultas Kedokteran yang berada di tim ku sibuk memeriksanya.
"Huaaaaaem, ospeknya sudah selesai ya kak?”, kata Umi, si mahasiswa baru itu.
Putra Wira Adnyana