Showing posts with label puisiku. Show all posts
Showing posts with label puisiku. Show all posts

Friday, January 06, 2012

Cukup melihat perspektif yang berbeda

Beberapa hari lalu aku mendengar wawancara Raditya Dika, ada satu kalimat yang dia cetuskan dan menurutku menarik. kurang lebinya dia berkata seperti ini (dengan sedikit penambahan & pengurangan dari lindia, he he he), "menjadi komedian itu bukannya gak pernah sedih. Cukup melihat perspektif yang berbeda dari kesedihan & kesulitan/masalah yang tengah menimpa kita. Sadari & rasakan kalo ternyata ada sisi lain yang bisa kita tertawakan, yang lucu lhoo jadinya... jadi jangan fokus melihat/merasakan kesedihannya & permasalahannya mulu (bukan berati gak pernah sedih & gak punya masalah, lho!).

Siapa sih yang gak pernah sedih?! siapa sih yang gak pernah punya masalah?! nikmatin saja, itu cita rasanya kehidupan. Ada gigitan kesedihan yang menanti ketika bahagia & tawa bergulir. Ada sekian permasalahan tiap kali kita memutuskan untuk berjuang dan memenangkan sesuatu... nikmatin saja.

benar, teorinya mudah saja..nikmatin aja, prakteknya sulit bo'! tenang, tenang, tenang,,,itu semua proses saja kok. proses pada yang membaikkan. bukankah adanya siang karena ada malam, bukankah kita mengenal rasa bahagia karena tau gak enaknya rasa sedih. bukan kah banyak hal dualisme yang bertentangan namun kodrat nya selalu berdampingan? dan...seperti itulah hukum kehidupan berjalan...

Posted via email from Lindia Palupi

mengenai 'persahabatan'.

di suatu senja sore yang berwarna jingga keemasan..
terbesit di benak ku mengenai 'persahabatan'.
Sejenak aku teringat pada sebuah update status seorang kawan di fb yang kirakira seperti ini,
'..berikan aku satu teman yang baik, maka aku akan membuat iri semua orang..'
kalimat itu ku baca dan ku lewati begitu saja, namun entah mengapa pemikiran ku tergoda untuk merenungkan makna makna nya.
1 kawan yang baik akan sudah cukup membuat banyak hal berbeda, 1 kawan yang baik sangat sangat cukup untuk memberi perbedaan dalam hidup kita.
1 kawan yang baik cukup untuk memberi kita semangat.
memiliki 1 kawan yang baik sudah cukup untuk menjadikan diri kita sebagai sosok kaya (hahaha kalo 1 kawan itu milyuner, ya pastinya. *bercandaaa!)
1 kawan yang baik cukup untuk banyak hal... , banyak hal deh.

Persahabatan itu indah. Konon katanya adanya perseteruan itu bukan karena tak cukup nya rasa cinta, namun lemahnya rasa persahabatan diantara mereka yang tengah berseteru. Kalo di film Kuch Kuch Hota Hai, 'cinta itu persahabatan'.

seketika aku tak bisa meneruskan kalimat kalimat ku sendiri....
sudah banyak ku rancukan arti persahabatan. Segera ketik di google search kata 'persahabatan', temukan artinya di sana..sangat banyak disebutkan, banyak di sisipkan dalam sajak sajak. dan mereka mereka selalu bisa merangkaikan kalimat kalimat yang indah mengenai persahabatan.

bertanya lah... cinta atau persahabatan?
maka aku akan menjawab, dua dua nya! aku mencintai persahabatan.

kalimat tanya selanjutnya adalah siapa?
kamu! iya kamu. kamu bisa siapa saja. kamu bisa yang sedang membaca tulisan ini. kamu bisa adalah aku  yang akan membaca tulisan ku sendiri. aku itu kamu dia mereka, kamu ya kamu. kamu bisa jadi adalah sahabat ku.

pertanyaan berikutnya, bagaimana...?
Bagaimana mencari & menjalin persahabatan adalah satu hal. Bagaimana menjaga & mempertahankan persahabatan adalah satu hal yang lainnya. Yang lebih sulit adalah hal yang kedua.

sudah lah, tak perlu kita bergelut memperbincangkan pencarian makna persahabatan, segera lakukan saja, bersahabat lah. Persahabatan itu proses, prose alamiah. Seperti halnya proses proses pada umumnya, ada liukannya, ada belokannya, ada campuran rasa nya, dsb nya.

Posted via email from Lindia Palupi

tentang embun pagi, mentari pagi, rintik hujan dan seseorang.

Ini adalah tentang seseorang yang mencintai embun pagi.
bagi nya, embun pagi adalah perlambang dari kemurnian alam, anugerah alam terhadap kehidupan, bulir bulir nya yang jernih adalah berkah. seseorang ini selalu menunjukkan rasa cinta nya itu, embun pagi tetap saja datang dan pergi.

Ini adalah tentang embun pagi yang mencari seseorang untuk dicintai.
bagi embun pagi, kehadirannya terlampau singkat untuk bisa merasakan cinta. Dia memiliki batasan waktu untuk dapat menemukan cinta nya. Kadang mentari pagi terbit terlampau dini, dan siang segera merajai hari. Kadang hujan hadir tiba tiba melelapkan dunia mengaburkan embun dengan butiran air hujan.

Ini adalah tentang mentari pagi.
Sosok yang mencintai embun dari kejauhan, kehadirannya membuat embun menjadi titk titik uap yang melayang di udara. Embun pagi tak pernah menyadari itu.

Ini adalah tentang rintik hujan.
Dia sosok yang mencintai embun pagi, mencintai mentari pagi, mencintai seseorang yang mencintai embun  pagi.

tiada kisah, hanya elegi disuatu pagi.

Posted via email from Lindia Palupi

dua gadis kecil yang bercanda ria

tibatiba tampak dihadapanku dua gadis kecil yang tengah bercanda ria, riang sekali. Bahkan mereka tak sadar kalau aku sedang mengamati mereka.
Interaksi bahagia itu menjalarkan bahagia. Melihat mereka bercanda ria, sesekali tawa tawa kecil meledak meramaikan suasana. Sesekali si gadis berkuncir menggelitik gadis bertubuh mungil dan mereka mulai tertawa tawa bersama.
Bahagia itu sederhana. Bukan karena kamu, bukan karena dia, bukan karena mereka, bukan karena apa atau mengapa.
Bahagia itu keputusan terhadap pilihan... pilihan untuk berbahagia atau tidak. Dan keputusan itu ditentukan oleh diri kita. Bisa jadi saat saat ini awan kelabu menemani hari hari kita, pilihan untuk bahagia itu ada di tangan kita.
 
Aaah aku menggunakan kata 'kita' seolah aku mengikut sertakan dirimu dalam pernyataan personal ku ini. Tak mengapa jika engaku menolak untuk masuk dan menyetujui pemaknaan ku ini. Kita adalah apresiasi ku bahwa ada diri ku dan diri mu ada dalam suatu ruang dan waktu. Seolah aku hendak berkata...aku bersama mu, selalu bersama mu meski ruang dan waktu tak selalu sama. Untuk itulah kusebutkan 'kita', itu adalah aku dan kamu. Aku yang menghargai keberadaan mu, karenanya aku tak ingin membuat konteks bahwa kita adalah satu... aku tetap aku saja, kamu tetap kamu saja, karena diantaranya lah maka ada ''kita", suatu bentuk kebersamaan. atau setidaknya begitulah aku memaknainya...

Posted via email from Lindia Palupi

kembali hening.

dan, lampu pun padam...
Sayup sayup terdengar derai tepuk tangan yang kemudian semakin gegap gempita..., dan terus berlanjut semakin membahana dari segala penjuru.
Aku yang masih dalam penyadaran pada pekatnya ruang tanpa penerangan, lamat lamat merasakan energi yang menguatkan.
Dalam suatu bilangan waktu, tampak percikan cahaya yang menghujani bumi. 

kembali hening.

Posted via email from Lindia Palupi

Mengenai 'perpisahan'...

Mengenai 'perpisahan'...

Kuterjemahkan perpisahan dalam bahasaku, perpisahan untuk konteks apapun. Seperti halnya cinta, aku suka memaknai suatu hal secara universal, tanpa batasan ini adalah ini, itu adalah itu. Karena penglihatanku belum tentu adalah penglihatanmu. Rasa ku belum pasti serupa dengan rasa mu. Dunia ku dunia mu bisa jadi ada dalam dimensi yang sama, namun ada tirai tipis....sangat tipis sekali yang menyekat diri diri kita.
Aku bisa jadi adalah kamu kamu kamu dalam perspektif yang berbeda, dalam koridor ruang dan waktu dan zat pengantar di medium yang mungkin sama mungkin beda. Perspektif yang entah darimana dan siapa yang memandang nya.

aah, terlampau berat tatanan bahasaku seolah ego memuaskan diri terhadap pemahaman personal sudah menguasai, maka tak perlu kau lanjutkan baca. Cukupkan pada kesanggupanmu memaknai saja. Karena tiap kata dan karakter yang ku ketik disini sujatinya adalah persinggahan untuk diriku, untuk diri yang tengah berjalan di sabana di tengah hari. Tanpa alas kaki, tanpa tudung merah, dan dengan beberapa butir debu yang sudah tak bisa dibasuh lagi...

Mengenai 'perpisahan'...
kadang perpisahan itu cikal bakalnya pertemuan.
Perpisahan dan pertemuan tiada bedanya, sering sejalan, beriringan di lajur yang sama. Kadang senyum di sisi perpisahan, kadang tangis di sisi pertemuan, pun sebaliknya. Sama saja. Seperti halnya kita menangis kala dilahirkan untuk bertemu dunia baru, dan (semoga) tersenyum kala meninggalkan dunia fana ini.

Bentuk perpisahan tak selalu menyedihkan meski juga tak seringkali menyenangkan. Bisa saja perpisahan akan menyenangkan atau malah membaikkan. Ada beberapa permulaan perpisahan selalu diwarnai rasa sedih dan penyesalan. Andai bisa tarik garis maju kedepan, bisa jadi perpisahan itu adalah hal yang terbaik. Bisa jadi itu adalah tiket menuju jalan sebenarnya.

Kadang perpisahan adalah gerbang menuju pertemuan... pada bentukan pertemuan pertemuan yang baru. Yang pabila tiada perpisahan bisa jadi tak terjadi bentuk pertemuan pertemuan yang lainnya, karena terlajur adanya kebersamaan lama , yang terlanjur menyamankan.

kau tau....(jujur aku sendiri tak tau), kuketik ini untuk menipu diriku sendiri. Aku bermain tipu menipu. Aku tipu engkau dengan rangkaian kata membingungkan dan terkesan anggun. Itu semua tipuan kata, tipuan emosi yang secara tak sadar kutiupkan disetiap bait bait nya. Aku menipu mu dengan menipu diriku sendiri, tanyakan padaku apa itu perpisahan, maka tak satu huruf pun akan terlontar dari bibirku. Sekarang kau mulai marah padaku...? bagus itu artinya kau tertipu untuk kedua kalinya.
Mau kita lanjutkan?
jawabannya hanya dua...iya atau tidak. lanjut atau tidak.
Dan seperti halnya dua kalimat pilihan tadi..., sesederhana itulah perpisahan.

Klausa tipu menipu membuatku bimbang, masih kah kau bersama ku untuk melanjutkan perbincangan yang tak lagi sederhana ini? Aku masih punya banyak pilihan kata untuk ku ramu dan ku sajikan sebagai hidangan sore kita. Kadang meminta mu untuk tetap tinggal dan tetap disisiku menjadi tidak sederhana ketika hidangan sore hanya berupa wacana hambar tanpa ada jalinan rasa antara aku dan kamu.
suasana seketika senyap... sepoi angin enggan mengusik dedaunan.

Sore lamat lamat berlalu...
awan mega mega menjadi media perjumpaan antara mentari dan rembulan yang sama sama merajai langit di suatu waktu yang terpisah. Dan perpisahan pun menjadi hal yang kudus, khusyuk karena adanya aku dan kamu yang menyimpan harapan berjumpa kala fajar menyapa.

Posted via email from Lindia Palupi

bonus...

Mengetikan hal hal seperti ini adalah bonus untukku, rasa senangnya setara dengan kau sodorkan suatu bentuk liburan dimana terasa sebagai suatu kebebasan, suatu hal yang tak seperti biasa-biasanya, tak seperti hari-hari yang dilalui yang biasa biasa saja. Rasanya... seperti membebaskan sosok makhluk yang lama tersekap dalam palung palung jiwa.
Pernah mendengar tentang rasa yang tercampur baur? yah serupa dengan ingin marah namun juga sedih. Ingin menangis namun ada kelebatan bahagia.

Sayang nya aku sedang tak ingin berbincang tentang itu. Silakan saja ramu rasa mu, aku akan menikmati seduhan kopi hangat ku di suatu sudut ruangan, sembari memperhatikan diri mu yang tengah bergumul dengan paduan rasa.

Mengamati geliat manusia manusia adalah hiburan tersendiri buatku. Memandangimu dari suatu sudut yang tak kau sadari keberadaanku bahwa aku tengah memperhatikanmu, mencari tau apa apa yang kamu lakukan, menelisik suasana hati mu, mengukur kedalaman perasaanmu, menemukan susunan karakter karakter tentang mu adalah temuan berharga buat diri ku. Untuk apa? entah lah...itu sama halnya kamu yang memiliki timbunan emas atau berkas berkas saham yang menurut mu adalah hal paling benilai dan menjadikan mu kaya. Kaya ku adalah mengoleksi temuan temuan akan diri mu. Kaya ku adalah ketika mengenal mu lebih banyak, lebih dalam, dan mulai meletakkan mu di suatu ruang yang mengusik perhatian ku. Kaya ku adalah karena diri mu.

Posted via email from Lindia Palupi

kisah yang berlanjut...

Sebut saja aku peramu kata,  peracik makna.
Dan akan aku sebut kamu sebagaimana kamu ingin ku sebut.

Sebut saja aku rona pelangi di penggalan hari mu,
dan akan aku peluk erat diri mu.

Sebut saja aku... sebagaimana kau ingin menyebut ku.
Maka akan aku tempatkan diri mu di sudut istimewa di suatu ruang dalam benak ku.

Ketika aku aku memanggil mu sayang, itu semata karena memang rasa sayang yang ingin ku tunjukkan padamu. Ketika aku memberi mu senyum, itu adalah pengganti kata sayang.
Ketika kau tampiskan semua itu, maka aku akan berlalu dan mencari kamu yang lain selain kamu.

dan kisah berlanjut di lembar berikut nya...

Posted via email from Lindia Palupi

suatu siang....

disuatu siang, ditengah batas kesadaran tengah menggoda untuk berpindah kuadran pada rasa nyaman dalam kelelapan... seolah ada suatu bisikan yang mengusik nurani. suatu kata lirih yang membuatku terkesima dan tertegun beberapa saat untuk berusaha mengartikan maksud dari penyadaran ini.
lintasan kata kata, kejadian, dan perasaan yang membuatku sering merasa itu adalah dejavu. andai aku dapat memahami gejolak yang ada di dalam bawah sadarku.

namun aku terlampau sibuk bergerak dan melakukan suatu hal. sesekali sedih, sesekali senang, sesekali menangis, sesekali tertawa tawa, sesekali terhenti untuk mengistirahatkan raga. namun, sangat jarang sekali aku bercakap cakap dengan bawah sadarku dengan tenang, mencoba memahami perasaan terdalamnya, mencoba mengetahui apa apa yang terjadi padanya. Apa gerangan yang terjadi di dalam diri ini? baik baik kah engkau sobat?
yah, dulu aku suka berkawan dengan diriku sendiri. bukan bukan... aku punya banyak kawan kok, aku sangat takut ketika dalam suatu ruang dan waktu tiada satupun yang mengenalku. meski aku penyediri, namun perasaan takut sendiri itu selalu ada.

Aku hanya penyendiri yang tak ingin sendirian dan terlampau nyaman dengan perbincangan diri sendiri. aku yang selalu merasa tetap sendiri kala riuh reda keramaian pasar. Aku yang sulit berkisah panjang lebar tentang perasaan, seolah kata yang mewakili sebentuk perasaan itu tertawan di ujung lidah, kelu dan kemudian terlontar kalimat kalimat yang tak sesuai dengan pemikiran dan perasaanku.
aah Lindia kecil itu masih ada..

Posted via email from Lindia Palupi

Friday, July 29, 2011

Kidung angin...

...karena semua itu hanya pelarian, hanya topeng, hanya pengecoh, hanya asap tebal yang kemudian menipis dan hilang terbawa angin...

Kemana mncari?? Di lorong gelap? Di bawah dipan? Di balik cangkir? Di selipan sepatu? Di lipatan selimut? Aah kamu sudah tau apa yg kamu cari?

..kamu buka kamus, kamu search di internet, kamu telusur arti, rupa dan rasa nya, kamu tanya ke stiap orang, kamu cuplik kata2 manis ttg nya, termasuk pula quote2... Lalu kamu umpat semua itu.

..tiba saat mngumpat semua yang sepertinya mulai membebali diri mu. Kamu tuding mereka mereka satu per satu. Kamu sih, kamu sih, kamu sih... Kamu tak mengerti sih!

dan lalu satu per satu mulai pergi meninggalkan mu. Tinggal lah kamu sendiri, termenung, tertawa, sejurus kemudian menangis, lalu tertawa lagi..

dada sepertinya sesak. Penuh dg amarah. Penuh dg kebencian. Penuh dg kesal dan sesal. Meraung meraung dan meraung dalam lirih... Hanya kamu yg mendengar raunganmu

lalu setetes air mata pun sulit terlinang. Wajah itu kini menjadi beku, keras dan padas. Hanya diam kawan mu kini. Hanya sepi teman setiamu kini
siapa yang mengasihi mu kini? ..diri mu.. Mengapa diri mu? ..karena kamu masih memiliki diri mu.. Kemana rumput ilalang yang selalu berdendang lagu alam? Kemana kembang setaman yang selalu menawan kenangan? Kemana senja yang mmbuat rasa lara?

..Sepertinya tiada siapapun. Meski ternyata semua ada. Semua ada disana, disini, dimana mana. Bahkan di hati mu dan di hatinya..

...ia hanya bisa dilihat melalui hati mu.. Sayup sayup sepotong suara terdengar diantarkan sang angin.

Posted via email from Lindia Palupi

Sunday, January 10, 2010

Waktu Pamit sudah Berlalu

Besok bunga itu sudah tak wangi lagi…
Ronanya pun tak bisa diingat
Besok rintik hujan tak lagi riuh…
Halilintar menggelegar pun tak bisa terdengar
Besok nasi sudah tak berasa…
Warnanya entah putih entah kuning
Besok ayam jago akan membangunkan para malaikat
Fajar pagi akan mengetuk pintu-pintu kayu mereka
Istirahatlah malam ini…

Meja kursi lemari sepeda TV kulkas
Rumah tanah taman kuburan…
Akh sudah tak usah berfikir papun
Kau hanya punya malam ini
Waktu berpamitan sudah berlalu
Jangan mengharap mereka mengantarkanmu
Kepedihan akan membunuh mereka
Kerinduan akan menggerogoti hidup mereka
Pergilah… kau sudah memilki hidupmu

Sunday, January 03, 2010

Pada Rintik Hujan yang Mengantarkan Malam pada Fajar

Tuhan, aq mau cerita…
Bukan dalam barisan huruf yang terangkai yang kupersembahkan sebagai doa
Bukan melalui ritme kidung mendayu yang kudendangkan untuk merayumu
Bukan diatas sajadah putih yang kubentangkan untuk menyambutmu
Aq… hanyalah jiwa papa yang menati tetesan welas kasihmu
Untuk sejenak mendengar lantun kisahku…

Beberapa kisah sudah kutitip tutur pada sobatku…
Adakah dia memberitahukanmu Tuhan?
Dia terlampau kupercayai, apakah dia mempercayaimu untuk menyimpankan rahasia yang kukisahkan padamu..?
Pabila dia mendahuluiku untuk bertutur padamu… semoga hanya engkau yang ia titip percaya
Karena manusia harus diseleksi ketat untuk bisa benar-benar dipercayai,
Akh, bukan ku ingin mendiktemu, Tuhan…
Aq mulai resah pabila telah mempercayai seseorang… kekhawatiran tolol yang menguras energi
Namun, aq nyaman bisa sedikit membagi kisahku padanya
Aq bisa bertutur tanpa mengenakan topeng berlapis
Bertingkah tanpa pemanis buatan, yang nantinya kan terasa pahit dan menyakitkan
Tuhan, betapa menyenangkannya bisa sedikit memindahkan isi hati dan perasaan
Begini sujatinya manusia…?

Tuhan, untuk banyak hal aku menemukan rangkaian berulang kehidupanku
Kata suatu kepercayaan yang lain…, mereka mengenal adanya reinkarnasi
Kelahiran kembali… suatu bentuk kehidupan yang baru untuk melaksanakan hutang masa lalu
Tapi ini bukan tentang masa lalu… masa yang sangat lalu
Seolah engkau seringkali menunjukkan padaku pertanda-pertanda pada suatu..sesuatu
Seolah engkau ingin aq peka untuk bisa membaca dan mengartikan symbol itu
Symbol yan engkau kirim terlampau tak terduga, Tuhan
Pertanda yang hampir biasa aja
Apa yang engkau ingin aq lakukan disini, Tuhan..?

Tuhan, ini tentang buku
Entah mengapa seolah buku menganggap aq memiliki banyak uang
Seperi teman2ku dulu, yang aq bisa mudah memberikan simpananku
Yang bahkan tak tersisa untuk diriku sendiri…
Untuk alasan kasihan, pertemanan, kepercayaan
Yang sebernernya aq gak dapat apa-apa dari pertemanan itu
Hanya dimanfaatkan… seringkali!
Kala aq memiliki sesuatu, saat itu
Hingga aq selalu berusaha untuk selalu bisa memiliki sesuatu, jaga-jaga buat mereka
Kali ini sama…, hanya saja buku bukan temanku
Tapi, aq gak bisa menolak pabila buku membutuhkan uang
Aq harus punya, Tuhan
Bukan buku yang memaksa aq untuk punya uang, selalu tersedia
Tapi, diriku yang kemudian memaksa diri untuk bisa menyediakan itu
Untuk menyenangkan mereka
Aq sadar, aq tolol…. Meski aq cukup rasional untuk mengetahui bukan seperti ini seharusnya
Tapi aq bahagia, melakukan ini….
Dan bahagia itu bukan ketololan, kan Tuhan…?

Tuhan, ini tentang paku
Dia baik banget, perhatian banget padaku… pada kehidupanku
Lagi-lagi aq harus mengalah untuk memberinya kepercayaan
Kepercayaan atas kehidupanku mendatang… pada kebahagiaanku
Akh, semenjak awal perjodohan ini adalah hal yang tolol
Hal tolol yang kuiyakan karena alasan kepraktisan, coba-coba
Aq tak main-main, Tuhan
Hanya saja bantu aq membuat keyakinan pada keputusanku ini
Sebaris kalimat pertanyaan seorang sobat membuatku tersentak, pertanyaan sederhana yang biasa aja sih
“kamu yakin mau menikah..? dengan orang yang gak kamu kenal..?”
Sengaja kujawab dengan enteng, Tuhan
Sungguh saat itu terjadi pergulatan hebat dalam diriku, bukan tentang pernikahan, bukan tentang orang asing itu yang akan kunikahi
Tapi, tentang betapa aq masih kanak-kanak
Bermain dengan hati, dengan coba-coba, keinginan semu…
Iya, keinginan semu…. Bahagia semu, percapaian semu, sukses semu…
Aq hanya berfikir, pernikahan akan menyelesaikan bayak hal yang selama ini mengejarku, seolah!
Hingga konteksnya bukan, bahagia lagi…. Kata itu kukurung dalam-dalam untuk saat ini
Tuhan, aq masih saja selalu resah
Suka disukai, cinta dicintai, sayang disayangi, memiliki dan dimiliki… akh, frase apa kah ini?!
Engkau memberikan pertanda-pertandanya padaku… kadang jelas, seringkali samar
Bukan tak terbaca olehku, bukan tak dimengerti olehku
Pelarian diri pada kehidupan, membuatku resah menurut sertakan orang lain

Tuhan, sudah malam… terimakasih untuk malam ini

Wednesday, December 16, 2009

Pada pertiwiku

cinta cintaku bertebaran..
1 1 rebah dalam semayam keabadian
Dukaku mengalir pada pertiwi
Air mataku luluh terbawa arus ngarai
Sepi jadi teman sejati
6 milyar jiwa-jiwa membuat benderang bumi..

Daun merah...

Daun merah diatas pasir disapu angin terhempas terjatuh digenangan air...
2 3 kali berulang, dan terus berulang..
aku bukan daun, aku bukan merah, aku bukan pasir, aku bukan angin, aku bukan air..
aku.. kamu yang mendengarkan penuturan ini.

Malam saudaraku,
istirahatkan jiwamu, rebahkan hatimu, kosongkan pikiranmu..

Hal-hal baik akan menyusupi tepi-tepi bibirmu yang tersenyum kecil pada bahagia kecil pada kesenangan kecil pada pencapaian kecil..
Akan ku jaga dian ini hingga kau kembali..

Monday, March 23, 2009

Kusuguhkan Gerak Kehidupan

Angin... ku torehkan garis dari liuk tubuhku
Bermain dalam remang cahaya
Gejolak jiwaku membuncah
Panggung ini milikku..!!
Puluhan pasang mata mengejar geliatku
Menjadi budak pada aksiku

Kaki tangan mata dan sital tubuhku
Mengisi ruang-ruang kosong yang tak kosong
Irama ada dalam jiwaku
Dendang terpancar melalui sorot mataku
Mimik menjadi saranaku berbincang
Tidak kah terbaca olehmu...?
Kenikmatan itu sudah diubun-ubun
Tidak kah terasa olehmu...?
Aku ingin berbagi denganmu
Berlarian dipanggung kecil ini
Bukan sebagai penonton
Kita didaulat sebagai pelaku
Kitalah pusat perhatian...
Kitalah pemberi pesan...
Yang mengantarkan malam pada siang

Sunday, March 22, 2009

Gula – Gula Ekor Kuda

Bajunya kuning terang… diterpa angin
Renda-rendanya berterbangan
Sambil memegang tali rambut berlarian kecil
Menghampiriku yang tengah larut
dalam lamunan masa kecil

ku kepang rambutnya
laksana ekor kuda
dengan senyum ceria
memberiku gula-gula
‘tanda terimakasih’
Ucapnya lugu padaku…

Gadis kecil itu kembali menghampiriku
Kali ini dia sodorkan boneka kaki panjang
Tanpa ia minta aku mengerti maksudnya
Rambut boneka itu kujalin dua
Kembali kulihat senyum cerianya
Gula-gula dari sakunya
Kembali ia sodorkan padaku
‘tanda terimakasih’
Bisiknya di telingaku…

Dua bungkus gula-gula
Dalam genggaman tanganku
Hadiah ketulusan hati
Ingin kusimpan saja…
Nanti kuberikan untukmu
yang mengepang rambutku…

Seplastik Juwet dan Si Pemanjat

Itu pohonku
Pohonmu disebelah sana
Juwet ini milikku…!!!
Siang kemarin sudah kupanjat duluan
Kalo mau…
Nanti aku sisihkan beberapa untukmu
Tapi biar aku saja yang memanjatnya…

Hey kamu yang berbaju coklat
Jaga dibawah sini saja
Biar sandalku tak hilang
Pasti ‘kan ku sisihkan beberapa juwet untukmu
Biar aku saja yang memanjatnya

Hey kamu… sini…!!
Iya kamu yang sedari tadi bengong
Pernah memanjat pohon?
Cari pohonmu sendiri ya…!
Atau mau titip saja?
Plastik ini akan aku penuhi dengan juwet ranum
Yang hitam mengkilap
Tunggu aku dibawah pohon
Aku akan memanjat sekarang…

Hey kalian…
Lihat, tas plastik sudah penuh juwet
Ku penuhi janjiku…
Sekarang Bantu aku turun dari pohon ini
Aku tak tahu caranya…..

Wednesday, February 25, 2009

Dalam Botol Kaca

kapan aku akan menemukan persinggahanku, kapan pula waktu ku mencapai batas yang sudah ditentukan…
kapan aku bisa menikmati kebebasan tanpa batas..
lepas dari belenggu masalah-masalah rutin yang sangat sangat sangat menjemukan. Namun, kadang aku anggap Dia sedang mempermainkan kita,

sakit memang…
pedih memang…
tak mengenakkan memang..
penuh luka dan rintangan memang…
tak ada yang mudah untuk mencapai titian kehidupan

waktu terlalu cepat berlalu sbelum qta mnyadari apa yang terjadi…
Waktu tak p’nah sama, waktu tak p’nah berulang,waktu tak pernah b’putar balik,waktu tak kan mnanti...
bila qta masi terus mematut diri, waktu adalah pilihan…
masa depan adalah pilihan, cinta adalah pilihan, kebahagiaan adalah pilihan….!!
qta gak bisa menghindar dari memilih dan dari pilihan2X itu sendiri. Slama qta punya sisa waktu di dunia ini…
pilihan akan selalu membawa qta mendekati ato malah menjauhi
akan masa depan yang entah seperti apa…..
karenanya, b’bahagialah hari ini. Karenanya, syukurilah hari ini. Karenanya, tersenyumlah hari ini. Karenanya, jangan tunda apapun untuk esok.. b’buatlah saat ini juga.
Karena esok adalah hari ini dan kmaren adalah juga hari ini……

apa yang sudah kita lakukan hari ini ??