Pameran Ragam Budaya Sumba PESONA KUDA PASOLA
Pembukaan: Jumat, 24 Agustus 2012 pukul 18.00 wita
Pameran berlangsung : 25 Agustus-7 September 2012, pukul 10.00 – 18.00 wita
Sumba adalah salah satu pulau di wilayah Indonesia Timur dengan tradisi yang sangat orisinal, hal mana disebabkan posisi historisnya yang terbilang marjinal di dalam sirkulasi ide serta di dalam jaringan niaga tradisional Nusantara. Meski masyarakatnya sudah memeluk kepercayaan agama, Sumba masih memiliki tanda hadirnya kultus leluhur yang disebut Marapu. Sumba juga dikenal karena capaian arsitektur dan seni tenunnya. Sejak beberapa abad, Sumba juga tersohor sebagai pulau para penunggang kuda. Kuda menjadi tema utama seni dekoratif Sumba.
Terkait kekayaan kultural warisan leluhur Sumba inilah, Bentara Budaya Bali bekerjasama dengan kurator Georges Breguet akan menghadirkan ragam budaya Sumba. Selain pameran artefak-artefak yang terkait dengan tradisi Marapu dan kehidupan adat tradisi masyarakat setempat, dihadirkan pula foto-foto karya Andre Graff yang telah lama bermukim dan memiliki ikatan erat dengan penduduk pulau tersebut. Di samping itu akan ditayangkan film-film dokumenter, termasuk sinema karya Garin Nugroho yang mengambil latar daerah Sumba. Secara khusus acara yang didukung oleh Museum Pasifika ini akan menampilkan pula koleksi-koleksi patung dari kayu dan batu bertema kuda dan ritual Pasola, kain-kain langka berteknik ikat, termasuk hinggi (sarung pria) dan lau (sarung wanita), disertai presentasi dan demonstrasi seni tenun Sumba.
Pameran ragam budaya Sumba ini diwarnai oleh rangkaian diskusi membahas kebudayaan dan kehidupan sosial masyarakat Sumba dalam berbagai perspektifnya, termasuk sesi pembahasan khusus mengenai sosok dan karya penyair legendaris Umbu Landu Paranggi, asal pulau ini, yang terdepankan sebagai guru dan motivator dunia perpuisian di Indonesia, khususnya Yogyakarta (tahun 1970-an) dan Bali (kurun 1980 hingga kini). Puisi-puisinya kental dengan warna lokal, merefleksikan kedalaman filosofi Sumba. Karya-karya itu akan turut dipamerkan dalam bentuk tulisan tangan langsung Umbu, berikut film dokumenter tentang dirinya.
Georges Breguet, ahli biologi dan antropolog dari Universitas Geneva, Swiss. Ia pertama kali ke Indonesia pada tahun 1972, tinggal di Swiss dan Bali, di mana ia melakukan beberapa penelitian ilmiah. Ia juga menjadi konsultan pada beberapa museum dan kolektor, termasuk kurator tamu bagi aneka pameran tentang budaya dan seni Indonesia, khususnya tekstil, yang pernah diselenggarakan di Perancis dan Swiss. Penulis beberapa buku ini adalah korator tamu Museum Pasifika, Nusa Dua, Bali.
Andre Graff adalah seorang mantan pilot yang selama bertahun-tahun memimpin perusahan balon udara di Perancis Timur. Ia kemudian menetap di Lamboya, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Di situ pengetahuan teknisnya didedikasikan untuk membuat sumur bagi penduduk setempat. Kini dia berhasil membantu masyarakat mendapat air dengan mempergunakan tenaga surya. Pada 2005-2007, dia berhasil membuat 25 sumur gali bagi 1.250 keluarga yang tersebar di tiga desa. Pada 2007-2011, sebanyak 35 sumur berhasil dikerjakan Graff bersama GGWW (Gorong-gorong Waru Wora), dari Kampung Waru Wora, Desa Patijala Bawa, Lamboya. Sebelumnya ia telah menjelajahi beberapa pulau di Nusa Tenggara Timur (NTT), seperti Sabu Raijua, Sumba, Solor, Lembata, Alor, dan Kepulauan Riung dan memotret sejumlah aktivitas masyarakat, budaya, dan tradisi lokal, mencapai 3.547 lembar foto, seberat 25 kilogram. Foto-foto tersebut, terutama dengan obyek sosok manusia, dalam kunjungan napak tilas, secara langsung diserahkan oleh Andre Graff kepada yang bersangkutan.
Umbu Landu Paranggi pada tahun 1970-an membentuk komunitas penyair Malioboro di Yogyakarta, atau PERSADA. Dikenal sebagai mentor berbagai sastrawan terkemuka Indonesia antara lain Emha Ainun Nadjib dan Linus Suryadi AG, serta lain-lain. Di samping menumbuhkan kehidupan kreatif di Yogyakarta, di mana ia juga mengelola halaman puisi di surat kabar Pelopor, Umbu juga mendorong lahirnya komunitas-komunitas sastra di Bali sedari tahun 1980-an. Sering melakukan apresiasi sastra keliling Bali. Kini Umbu Landu Paranggi mengasuh halaman puisi di Bali Post Minggu.
Jadwal rinci dapat disimak di
No comments:
Post a Comment