SANDYAKALA SASTRA #24 : Sekali Lagi, Musikalisasi Puisi
Sabtu, 4 Agustus 2012
mulai jam 6pm
Musikalisasi puisi menjadi salah satu kegiatan kesenian yang diminati di Indonesia, termasuk di Bali. Tercermin dari banyaknya lomba-lomba musikalisasi puisi yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga, komunitas seni maupun instansi pemerintah.
Namun eksplorasi musikalisasi puisi di Bali sejauh ini masih sangat terbatas, terutama dalam pemilihan “jenis musik” yang masih kerap berkutat pada warna Balada. Hal inilah yang kemudian memunculkan kesan bahwa musikalisasi puisi cenderung stagnan dan membosankan,serta masih sulit diterima oleh masyarakat luas. Padahal, salah satu gagasan di dalam musikalisai puisi adalah untuk lebih mendekatkan puisi kepada masyarakat yang lebih luas melalui “bahasa musik” yang lebih variatif dan menyuguhkan hal-hal yang original.
Benarkah anggapan seperti itu? Bagaimanakah sesungguhnya pencapaian musikalisasi puisi di Bali? Bagaimana dengan hal-hal kreatif yang ditawarkan oleh komunitas Bali Puisi Musik yang menyuguhkan musikalisasi puisi dengan sentuhan blues, atau oleh komunitas-komunitas lainnya?
Sandyakala Sastra kali ini akan mengulas perihal musikalisasi puisi, menghadirkan Nanoq da Kansas, seorang sastrawan serta penggiat teater dan musikalisasi puisi. Diskusi akan diperkaya dengan pementasan dari Komunitas Kertas Budaya yang menawarkan suatu bentuk-bentuk baru musikalisasi puisi.
Nanoq da Kansas adalah seniman yang aktif bergiat di Jembrana, Negara. Tahun 1998 Nanoq memprakarsai penerbitan jurnal Kertas Budaya. Dari jurnal tersebut Nanoq kemudian mendirikan sebuah komunitas bernama Komunitas Kertas Budaya yang didedikasikannya sebagai rumah baca, rumah diskusi serta penerbit buku alternatif. Ia juga telah memiliki sejumlah album musikalisasi puisi, menerbitkan buku kumpulan cerpen dan puisi, serta kerap bertindak sebagai sutradara teater.
No comments:
Post a Comment