This is my first time to go to Kupang. Meski terkesan sangat mendadak bahkan untuk preparation pakaian dan segala macam termasuk booking tiket hingga aku harus berkejar-kejaran dengan waktu. Tapi pada akhirnya aku jadi juga ke Kupang. Hmm… antara senang dan sedih siy ^_^
Kesan pertama… menyebalkan!! aku gak dijemput di Bandara karena ternyata temanku, sebut saja Eman (memang nama sebenarnya siy, hahahaaa) yang seharusnya menjemputku kebetulan sedang ada acara mendadak. Aku disuruh langsung ke mal sendiri, aku gak tau mana-mana, gak dikasi tau nama mall-nya, gak kenal siapa-siapa. Bahkan aku belum tau nama bandara di kupang.
Tiba di Kupang ketika beranjak malam, keadaan bandara di Kupang membuatku sedikit bertanya-tanya, benarkah aku mendarat di bandara Kupang ataukah di terminal bus Kupang…? Karena bandara tersebut jauh dari layak, sangat kumuh tak terawat, kecil, suram, gersang, sangat tidak tertata dan jauh dari standar untuk sebuah bandara. Hmm, aku sedikit terkejut saja tapi yaaah inilah Kupang.
Karena hari sudah beranjak malam dan aku mulai merasa kurang enak badan maka aku memustuskan untuk bergegas mencari Taxi. Makelar Taxi bertebaran mencari mangsa, aku bergerak sedikit aja sudah langsung ditawari taxi, tanpa basa basi aku nurut aja. Ternyata taxi disana tidak menggunakan argo, aku diberi semacam karcis yang tertera langsung harga untuk taxi ke mall dan langsung diantar ke taxi bersangkutan. Aku malas lah tawar menawar harga, lagipula aku belum berani untuk cerewet karena aku belum tau typical orang-orang di Kupang. Syukurnya sopir taxi yang mengantarkanku cukup ramah dan perhatian.
Aku cukup heran melihat pemandangan sepanjang jalan menuju mall yang sangat pedesaan banget, meski ini ternyata adalah daerah kotanya. Rumah-rumah terkesan kumuh dan suram. Banyak banget lahan kosong. Tanaman mongering dan gersang. Penduduk banyak juga yang berlalulalang, namun tetap tak seramai di Bali. Mengingat Bali aku jadi rindu akan banyak hal di Bali… meski aku belum sejam di Kupang, hmm home sweet home yeach.
Bangunan di Kupang sangat old design, tak tertata, terkesan kumuh dan gersang. Lahan kosong sangat banyak. Namun sama sekali tak tertata dan terawat, hanya seperti tanah kosong tak bertuan. Sehingga banyak rumah-rumah yang letaknya saling berjauhan satu dengan yang lainnya. Halaman rumah-rumah penduduk pun yang meski punya pekarangan luas tapi tak ada tanaman sama sekali. Sepertinya di Kupang sedang musim kering. Semua tampak gersang. Hmmm… sempurna sekali untuk syuting film Cowboy ala Texas.
Akhirnya aku tiba di mall, dan lagi-lagi aku masih harus mencari-cari Eman. Susah sekali mencari dia, aku sampai harus menyusahkan banyak orang. Akhirnya aku ketemu juga ma orang item kecil kurus kering norak ngejreng banyak bicara banyak gerak…ya siapa lagi kalo gak c Eman. Finally aku nyampe di Kupang juga ketemu ma ulat bulu item juga, hahaaa….! Ternyata di Kupang ini nama tenarnya adalah Ka’El, alias Kak Elman, aiiihhh menyusahkan amat siy hanya karena nama Eman harus disisipi huruf “L”. Eman langsung mengajak keliling “mall” (kata mereka siy begitu… hehee). Kamipun makan Bakso yang katanya enak di Kupang. Kemudian kamipun ke tempat tinggal Eman, di suatu wilayah yang lagi-lagi katanya niy adalah gang paling ditakuti di Kupang paling terkenal kriminalitasnya, namanya Gang Danger tempat mangkal para preman.
Hingga malam menjelang kami berbincang-bincang terus di rumah Eman, malam itu aku gak tau harus tidur dmana, Eman bilang udah kemaleman mengantarkanku ke rumah Ka’ Rabiyah (ato panggilan keren mereka “mammy”), oleh karenanya malam itu akhirnya aku menginap di rumah Eman (ampun deh, dengan kekolotan orang-orang disini kami beresiko digrebek masyarakat, makasi Tuhan masi melindungi). Kerinduanku akan Eka muncul ketika Eman menanyakan kabarnya. Aku pun tiba-tiba merindukan Bali dan orang-orang disana terlebih keluargaku (busyet deh belon sehari udah homesick).
Jumat pagi, aku mengikuti Eman seharian. Ke kantor Telkomsel, ke sekolah-sekolah, ke pantai, ke mall, dan sering banget makan-makan. Hmmm.. Eman benar-benar guide yang baik, heheee. Aku terhibur siy, tapi entah kenapa ada ganjalan di hatiku yang ternyata aku tak benar-benar enjoy di Kupang sini. Separuh diriku ada di Bali. Mungkin karena aku belum menyelesaikan tugasku di Bali kali ya… aku harus segera selesaiin dulu.
Di Kupang ternyata banyak event. Mulai dari ENTEX (East Nusa Tenggara Expo) yang berlangsung selama lima hari mulai dari tanggal 31 Juli – 4 Agustus 2008. Eman nge-MC di Telkomsel (karena dia dikontrak kerja ma mereka, keren keren…). Hmmm, exhibition kebudayaan yang mnurutku sedikit aneh. Karena booth yang mengekspos tentang potensi daerah bisa dibilang sedikit dan kurang menonjol. Lebih banyak dan lebih eye cathing booth-booth sponsor. Acara di panggung utamapun sebagian besar adalah parade band dengan lagu-lagu yang acak adul, apalagi sexy dancer yang bikin mual deh (maaf), seni daerah sedikit banget porsinya. Ada pemilihan duta pariwisata Nusa Tenggara 2008 juga sih, tapi ampyuun deh gak berkualitas geto. Finalisnya masih kurang banget pengetahuan tentang Nusa Tenggara, banyak pertanyaan juri ati MC yang gak bisa dijawab. Walah-walah, apa mereka sekedar mejeng doang?
Malam ini aku menginap di tempatnya kak Rabyiah, kakaknya Majid yang dulu sempat singgah ke Bali liburan bersama Kiki anaknya & Heni adiknya Majid. Mereka baik banget, aku disambut ramah abis oleh mommy (panggilan untuk kak Rabiyah) dan suaminya yang kerap dipanggil papi oleh orang-orang disini (hmmm… jadi mami dan papi seluruh umat ya? hehehe). Anak-anak mereka pun lucu-lucu, hahaaa dalam sekejap aku merasakan punya keluarga baru, senangnya.
Aku tidur di lantai tiga, waaaahhh dari kecil aku selalu ingin banget punya kamar di loteng ^_^, senangnya. Entah mengapa, malam ini aku sedikit bersusah payah memaksakan mataku untuk mau terpejam. Padahal malam telah larut, semua orang sudah terlelap, esok mereka harus bangun pagi karena harus membuka toko kelontong di lantai bawah rumah ini sebagai rutinitas kegiatan sehari-hari. Yaa mereka ini orang Bugis yang notabene adalah pedagang sejati, hehee.
Masih tak bisa tidur, aku pun membuka laptop pinjaman yang (maaf) aku bawa dari Bali agar aku bisa sambil menyelesaikan kerjaanku. Alih-alih mengetik konsep acara Surf for Bali Kids, aku mendengarkan lagu JIKA yang dinyanyikan oleh Melly dan Ari Lasso, my favorite song. Lagu ini cukup ampuh untuk membuatku melarutkan diri dengan kenangan akan orang yang aku sayangi nun jauh dimata tapi dekat di hati, rasanya dekat di hati selalu. Tanpa sadar akhirnya aku malah ngetik curhatan deh, heheee…
Malam ini lagu ini entah kenapa membuatku ingat pada Eka, sobat kentalku sekaligus partner kerjaku di The YC yang entah mengapa kami emang ditakdirkan gak bisa akur kali ya, hahahaa. Aku kangen Bali dan aku kangen ma Eka, meski kami selalu cek cok tapi rasanya sepi juga gak bertengkar ma tu anak. Aku merasa bersalah banget ketika hari itu aku tiba-tiba membuat keputusasn sendiri dan langsung memilih untuk tidak mendegarkan sarannya agar berangkat ke Kupang hari jumat tanggal 1 Agustus saja, bukannya kamis sore yang waktunya sangat sempit banget untuk berkemas-kemas dsbnya.
Aku teringat kembali akan proses keberangkatanku yang cukup mendadak siy. Mulai dari kabar yang kuterima viaphone dari Eman yang kuterima 2 hari sebelum memintaku untuk sesegera mungkin berangkat ke Kupang. Aku mengiyakan saja karena aku sangat ingin pergi ke Kupang, karena dulu ini adalah impianku banget (setelah Eman cerita yang indah-indah dan seru di tanah kelahirannya ini). Namun, waktunya kurang tepat aja karena bertepatan dengan padatnya event dan tugas dibulan Agustus, namun syukurnya Eman hanya menawarkan selama dua minggu saja.
Kemudian, aku memberanikan diri meminta pendapat Eka. Aku terkejut karena ternyata Eka memperbolehkan aku berangkat ke Kupang… hmm pastinya dengan syarat-syarat tertentu (itu dah ciri khasnya Eka yang sangat kurindukan sekarang). Eka sebenarnya hanya mengingatkanku aja agar aku tetap bisa bertanggungjawab terhadap tugas-tugasku, memastikan semua bisa aku control, aku bisa berkoordinasi dengan Eka masalah gathering, koordinasi dengan Wiwik masalah event surf for charity, koordinasi masalah Bali Fashion Weeks, dan event-event yang akan diadakan oleh YC, serta meminta izin pada mb’ Gilda. Dan yang kemudian ditegaskan secara berulang-ulang adalah aku harus membalas SMS, menerima call, mengabari kalo ada apa-apa, memberitahu kalo punya nomor baru…. Yaaa masalah komunikasi gitu deh. Aku suka banget deh kalo Eka lagi kayak gitu, sok sok memvonisku paling bersalah & paling bermasalah heheee.. kesannya aku tuw tawanan yang berniat untuk kabur. Berkali-kali dia menegaskan tentang my HP’s problems. Aku kangen banget ma Eka, marah-marahnya yang gak jelas juntrungnya, muka lesu & rapuhnya karena dihempas masalah-masalah yang kerap menggoda kehidupannya.
Karena eka udah setuju aku pergi, mba’ Gilda juga, yang sedikit alot ngasi ijin siy orangtuaku tapi syukur akhirnya aku bisa membujuk mereka heheee, oleh karenanya aku memustuskan untuk pergi ke Kupang. Padahal sebenarnya siy aku juga bingung, banyak yang harus dikerjakan nok di Bali hehee. Kemudian, hari kamis datang hari dimana aku seharusnya berangkat ke Kupang. Namun karena aku sendiri belum percaya maka aku belum ingin prepare apapun hingga jam 2 siang. Aku masih ke kantor rencananya aku maw koordinasi ma Eka sbelum aku benar-benar pergi. Tapi yang terjadi malah kami cerita-cerita masalah keluarga, diskusi ngalor ngidul, tertawa bareng ma Jaka juga. Senangnya…... dan kemudian Eka tau aku masih bisa berangkat hari Jumat maka dia membujukku agar berangkat hari Jumat saja agar hari itu bisa berkoordinasi dengan Eka dan Wiwik dulu dan mempersiapkan segala sesuatunya dahulu. Dia dengan gaya yang lucu membujukku dan memaksaku. Entah kenapa kami sangat dekat waktu itu gak seperti sebelum-sebelumnya yang rasanya kami tuw musuh bebuyutan deh, sepertinya hari itu aku mempunyai firasat akan kehilangan dia selamanya. Lagi-lagi aku merasa sangat merindukannya.
Entah ada setan apa yang merasukiku, tiba-tiba ketika membeli tiket pesawat aku memutuskan untuk tetap berangkat sore itu, hahahahhaaa aku sendiri sering terkejut dengan keputusan-keputusan spontan yang aku ambil mendadak. Kamudian aku bergegas ke kos membawa barang-barang yang sekiranya perlu aku bawa. Rencananya aku akan mampir lagi ke kantor, koordinasi dan berpamitan, namun waktu sudah tak memungkinkan lagi. Akhirnya aku ke Nusa Dua dan meminta bapakku untuk mengantarkanku. Waktu sudah sangat mepet, aku melaju dari motor dengan kecepatan yang membuat bapakku berteriak-teriak sepanjang jalan.
Tiba di pesawat aku cek in dengan terburu-buru. Aku call Eka untuk mengabari keputusanku berangkat hari itu juga, dia menjawab dengan acuh dan langsung menutup telponku (ato mungkin sinyal low ato mungkin lowbatt kali). Tapi ternyata dia kemudian SMS aku, aku sediiiih banget. Seketika itu aku ingin menangis. Setelah dia akhirnya SMS terakhir karena aku sudah dipesawat, aku tak bisa menahan air mataku. Harusnya aku kembali untuk memeluknya dengan erat dulu.
Di pesawat dengan pemandangan yang sangat indah, aku mencoba meredam kesedihanku. Karena awan-awan, laut, daratan, sunset semua deh sangat indah sekali. Aku ada di langit-langit dan semua kelihatan berbeda dilihat dari atas sana. Meski kemudian aku mengalami kebosanan, andai tadi aku mempersiapkan peralatan menulisku. Cuaca dan tekanan angin seringkali berubah-ubah, hingga beberapa kali pesawat tampak oleng. Namun, syukurlah aku sampai dengan selamat di Kupang. Pada waktu itu Kupang sudah gelap sehingga aku tak bisa meperhatikan dengan detail.
Aku lupa persisnya berapa hari di Kupang, tapi kemudian beberapa hari kemudian aku ma Eman menuju So’E, desa tercinta yang sering banget diceritakan eman. Kami naik sepeda motor, hmmm ternyata lumayan jauh juga, tapi gapapa aku siy suka-suka aja karena emang banyak pemandangan keren disepanjang jalan. Eman lagi-lagi menjadi guide yang baik, bercerita sepanjang jalan tanpa henti-hentinya menjelaskan tiap detil tempat berikut rencana-rencana besarnya untuk memajukan NTT, hehheee...
…….. to be continued for the day at So’E……
No comments:
Post a Comment