Monday, July 21, 2008

My Lovely Things

Disaat kita berada dikondisi yang tak seperti biasanya, barulah kita menyadari betapa sesuatu itu sangat berharga. Seringkali kita meremehkan atau cuek bebek dengan sesuatu yang kita miliki. Seperti diriku yang mesti menyadari betapa berharganya memiliki sepeda motor, namun seringkali aku hanya menempatkannya sebagai kendaraan sebagaimana mestinya yang memang bermanfaat untuk sarana transportasiku sehari-hari. Hingga pada suatu hari (tepatnya beberapa hari belakangan ini), aku meminjamkan (hmmm… lebih tepatnya lagi “menyewakan”, hix.. dengan beberapa alasan tertentu tentunya) sepeda motorku kepada temanku yang baru datang dari Jakarta dan sangat membutuhkan kendaraan. Dengan berat hati aku pinjamkan sepeda motorku, dengan pertimbangan aku masih bisa beraktivitas sebagaimana mestinya meski harus berpisah untuk beberapa hari dengan sepeda motorku satu-satunya. Aku masih memiliki teman-teman yang masih bisa kuandalkan untuk mengantarkanku. Paling tidak, aku masih memiliki kaki sendiri yang masih bisa banget aku pergunakan untuk berjalan kaki dengan normal. Namun, kenyataan berkata lain. Dalam beberapa hari ini banyak hal yang terjadi dan menjadi pelajaran untukku.

Pertama, aku menjadi lebih bisa menghargai sepeda motorku yang selama bertahun-tahun telah setia menemaniku, mengantarkanku kemanapun aku mau dan mempunyai andil besar dalam membantuku menghasilkan uang. Karena, selama ini aku benar-benar bertumpu pada sepeda motorku untuk berangkat bekerja dan kemanapun deh. Yaaa… kita semua mengerti lah betapa pentingnya kendaraan untuk mendukung aktivitas kita. Makanya, kenaikan BBM berperan sangat krusial dalam kehidupan kita, jaringan infrastruktur seperti misalnya Jalan, jembatan dll menjadi penting, dan lain sebagainya. Bahkan di sepeda motor ketika sedang melakukan perjalanan aku sering banget dapat inspirasi dan ide-ide. Aku suka merenung dan berfikir akan banyak hal di jalanan dan aku suka Jalan-jalan. Kedua hal tersebut aku lakukan selama perjalanan disepeda motor, mesti sebenarnya hal tersebut cukup berbahaya. Karena seringkali aku lebih bisa berfikir segar ketika berjalan-jalan. Bahkan, pabila sedang bersedih dan ingin menangis, aku lebih suka menangis diatas sepeda motor sambil berjalan-jalan gak jelas. Rasanya lega sekali bisa menangis dibalik helm gelap, orang-orang disekelilingpun gak ada yang peduli.

Karena sepeda motorku tersebut aku bisa kemanapun yang aku mau. Sekali lagi, aku suka banget Jalan-jalan, dan aku gak bisa mengandalkan orang-orang disekitarku untuk mengantarkanku kemanapun aku mau. Aku bisa kemanapun yang aku mau hanya dengan sepeda motor buntut hitam yang seringkali malas aku bersihkan dan aku rawat (hix hix..). Bersama sepeda motor itu aku mempunyai banyak kenangan. Aku suka bermain-main dengan kecepatan, dulu aku sering banget terjatuh dan menabrak. Syukurnya beberapa tahun ini aku hampir tidak pernah mengalami kecelakaan lagi. Namun, aku tetap menyukai sensasi bermain-main dengan kecepatan dan tantangan di Jalan raya. Hmmm… ugal-ugalan ya istilahnya? Hahaa, aku gak jago main games sih, makanya aku lebih suka ngebut sambil sesekali menikung melalui kendaraan lain yang tengah melintas. Bermain-main dengan nyawa sih. Makanya jangan ditiru yaa…!!!! Aku bukan contoh orang yang berkendaraan dengan baik dan benar…!!! terutama untuk para wanita… aku bukan contoh yang untuk ditiru, wanita gak seharusnya ugal-ugalan, wanita tuh kudu naik sepeda motor dengan lemah lembut dan penuh kehati-hatian, pokoknya kudu tetap menonjolkan sisi kewanitaan deh.

Di Bali sendiri, sepeda motor merupakan alat transportasi utama yang sepertinya wajib dimiliki setiap orang. Kendaraan umum di Bali kurang pamornya, masyarakat lebih suka menggunakan kendaraan pribadi mereka. Kendaraan umum di Bali masih langka dan belum cukup mengakomodir kebutuhan dan tujuan masyarakat. Sedangkan mobil pribadi, hmm… di Bali cukup banyak juga sih pemilik mobil. Tapi aku tetap bangga kok meski hanya memiliki sepeda motor, lebih praktis, murah, efisien, gak ribet dan bisa nyumpil-nyumpil dijalan kecil dan macet. Dulu (sekarang juga sih, kadang…) aku sempat berpendapat orang-orang yang mengendarai mobil akan tampak keren abis karena mobilnya. Mobil bisa sedikit memperbaiki performance. Dulu waktu SMA ada salah seorang temanku yang tampak biasa-biasa banget penampilannya sehari-hari dan gak ada eye cathing sama sekali deh. Namun, pada suatu ketika begitu aku melihat dia sedang mengendarai mobil yang cukup keren… wooooww, he look so cool..!!! Seketika penampilannya jadi jauh lebih ber-aura. Hahaaa… tapi sekarang kita tidak sedang membahas soal mobil ya. Oke kembali ke topic pembicaraan lagi. (Insyaf ya Liinn, heheee ^_^)

Kedua, aku mendapat pelajaran bahwa aku harusnya lebih bisa menghargai teman-temanku. Betapa tidak memiliki kendaraan itu sangat menyiksa (terutama diriku), namun tidak memiliki teman jauh akan lebih menyiksa, ya nggak...?! Disaat-saat seperti inilah kesetiakawanan teruji, hahahaaa. Bener banget bahwa, Friend in need is a friend indeed, teman disaat dibutuhkan adalah teman sebenarnya. Aku orang yang akan berfikir berkali-kali dahulu untuk kemudian meminta tolong sesuatu pada orang lain. Tapi, kalo disaat genting aku dah gak mikir macem-macem lagi deh. Makanya, disaat aku gak ada kendaraan dan aku berada di kondisi harus pergi ke suatu tempat yang penting banget, namun aku tak memiliki cukup uang untuk ngojek atau naik kendaraan umum. Menghubungi teman yang punya kendaraan untuk meminta tolong mengantarkanku adalah yang bisa aku pikirkan. Namun, ternyata gak mudah ya untuk meminta tolong. Disaat diperlukan.. ada aja halangan, teman-temanku pada sibuk lah, waktu aku minta tolong lagi gak tepat lah dll. Yaaa tak mengapalah aku harus mengerti kesibukan teman-temanku. Paling tidak aku jadi lebih bisa memahami suatu hal dari teman-temanku. Tapi, thanks for eka (eeh bole sebut nama gak ya?!) yang memang memiliki hati emas. Teman yang sebenar-benarnya teman, semoga dijaga deh sikap seperti itu. Thanks ya, aku promosikan deh c eka biar teman-temannya tambah banyak dan lekang oleh waktu. Yaaa kalo c eka mah semua juga pada tau kalo eka “baik”.

Ketiga, pelajaran selanjutnya yang bisa ku camkan baik-baik adalah bahwa aku masih memiliki kaki yang sehat, tubuh yang bugar, stamina yang baik dan pokonya semua komplit deh. Aku harus lebih bisa menghargai diriku sendiri. Rasanya sudah lama sekali kakiku tak terbiasa digunakan sebagaimana mestinya. Hingga untuk beberapa hari ini aku harus kembali membiasakan diri, hmm lebih tepatnya memaksakan diri untuk kembali berjalan kaki, down to erth lah. Pertama-tama berjalan kaki sangatlah menyiksa. Belum lagi aku harus membawa beban dipunggungku, laptop dalam tasku cukup berat untuk seukuran diriku. Apalagi tujuan yang aku lalui cukup jauh, paling tidak membutuhkan sejam perjalanan. Aku jadi teringat sewaktu di SMP tatkala aku mengikuti gerak Jalan Puputan Margarana, hhmmm latihannya benar-benar menggemblengan fisik dan mental.

Dan dulu ketika aku SD pun aku harus berjalan kaki pergi pulang sekolah. Aku tinggal di Nusa Dua, di perbukitannya dan sekolah SD ku berada di kaki bukitnya. Meski pada waktu itu Jalan sudah bagus dan tertata, namun berjalan kaki setiap hari turun naik bukit kapur selama sejam lebih cukup menguras energi. Belum lagi apabila pulang dari sekolah pada tengah hari tatkala sinar matahari sedang terik-teriknya ditambah udara panas yang dipancarkan dari batu-batu kapur membuat tiap langkahku menjadi gontai dan serasa tak sadarkan diri. Bertahun-tahun aku berjalan kaki, aku tidak sendirian karena banyak juga teman-temanku yang satu sekolah maupun lain sekolah yang juga harus berjalan kaki pergi pulang sekolah. Bahkan rumah mereka banyak yang jauh lebih jauh daripada aku. Kami berjalan kaki bersama-sama bergerombol sambil sesekali bercanda dan bersenandung untuk melupakan jarak dan kondisi perjalanan kami. Sesekali ada orang-orang baik yang akan memberikan tumpangan pada kami. Namun, rasanya tidak tega apabila masih ada teman-teman yang harus berjalan kaki sedang aku menerima tawaran tumpangan dari orang yang berbaik hati tersebut. Seru aja sih, siang-siang Jalan kaki bareng-bareng, lelah, haus, lapar, panas, gosong terpanggang terik matahari… hingga sekarang aku masih terharu tiap kali pulang ke Nusa Dua dan melihat anak-anak sekolah berjalan kaki. Sungguh perjuangan berat dalam menuntut ilmu.

Sewaktu berangkat kesekolah dipagi hari pun aku harus berjalan kaki. Suasana dipagi hari jauh lebih menyenangkan. Aku senang sekali menikmati sinar mentari pagi yang masih malu-malu untuk beranjak dari peraduannya untuk menyinari bumi. Seringkali uadara dingin menghalangi mentari pagi, hingga sinarnya berusaha menyeruak menembus tebalnya kabut pagi. Pemandangan yang sangat indah terutama dari bukit itu dapat melihat birunya lautan yang tenang dan pulau Nusa Penida dari kejauhan. Sewaktu berangkat ke sekolah aku melalui jalanan menuruni bukit sehingga sedikit lebih mudah daripada sewaktu pulang yang harus mendaki bukit. Meski hingga sekarang aku sedikit mempunyai masalah dengan bangun pagi, namun saat-saat yang sangat menyenangkan dan kusukai adalah suasana dipagi hari. Udara segar, mentari yang hangat, tetesan embun di dedaunan, nyanyi menyambut pagi oleh burung-burung, desiran angin, bau tanah dan bebatuan yang lembab karena menyerap suhu di malam hari yang dingin. Mengamati aktivitas orang-orang yang tampak bersemangat dipagi hari membuat aura semangatku pun bangkit kembali… J

Kembali lagi mengenai Jalan kaki, beberapa kali berjalan kaki dalam beberapa hari ini membuatku serasa hidup kembali sebagai manusia sebagaimana mestinya. Yaa aku merasa benar-benar termanjakan dengan sepeda motor. Intensitasku berjalan kaki dan menapakkan kakiku ke bumi cukup sedikit. Karena aku anak jalanan yang senang berkeliling dengan sepeda motorku atau duduk manis didepan computer dsb. Padahal dengan berjalan kaki aku bisa mendapatkan banyak hal, diantaranya sebagai berikut:

* Untuk otot-otot kaki akan menjadi terlatih untuk kuat

* Bahkan bukan hanya otot kaki, dengan berjalan kaki bisa menggerakkan seluruh bagian tubuh.

* Aliran udara akan cepat terganti dengan pengaturan nafas yang menjadi teratur ketika berjalan kaki

* Gerakan kaki yang tadinya kaku akan menjadi lentur sehingga kita bisa sekaligus melatih koordinasi langkah kaki, ayunan tangan dan posisi tubuh yang bisa membuat kita nyaman dengan diri kita sendiri terutama ketika berjalan kaki

* Bisa sekaligus cuci mata dan mengamati sekeliling dengan lebih seksama, melihat banyak hal disekeliling dengan lebih detail karena apabila mengendarai kendaraan maka hanya mampu melihatnya sekilas

* Bisa mendapat kenalan baru, karena kemungkinan untuk disapa dan dikenali oleh orang-orang disepanjang perjalanan lebih besar dan intens, so kudu pintar-pintar bergaul aja

* Bisa jadi, kita bakal menjadi selebriti dadakan, maksudnya akan ada orang-orang yang bakal mengenal kita dengn familiar karena sering melihat kita berjalan kaki

* Bisa mendapatkan inspirasi baru, karena selama perjalanan sambil merenung dan berfikir sembari menyaksikan banyak hal disekeliling kita

Kalau ada baiknya dan gak ada ruginya, kenapa gak kita lakukan saja, ya kan..? Untukku beberapa hari dan beberapa kali berjalan kaki mungkin bukan masalah besar. Namun, walau bagaimanapun aku tetap membutuhkan sepeda motorku sebagai kendaraan utama…

No comments: