Monday, July 21, 2008

Money Management

Malam ini, aku terpaku pada bilangan angka pada rekening saldo tabunganku. Angka-angka dikolom kredit jauh lebih sedikit terisi dibandingkan dikolom debet. Yaa aku bisa maklumi itu, karena intensitasku ke ATM untuk menarik uang jauh lebih sering ketimbang ke bank untuk menabung. Hehee, fenomena yang kuanggap wajar untuk masa-masa sepertiku. Namun, aku menyadari bahwa keadaan seperti ini tak bisa dipertahankan lebih lama lagi. Aku ingin maju dan terlebih lagi aku ingin kaya dalam artian yang sangat luas. Tiap-tiap orang punya definisi masing-masing tentang “kaya”. Kaya dalam artian luas yang kumaksud adalah “wealth”, kekayaan tanpa batas yang menyangkut segala aspek dan pengembangannya.
Untuk itulah aku berusaha mencari mentor yang tepat untuk membimbingku dalam mencapai wealth tersebut. Mentor yang tak sekedar mengajarkan bagaimana mencari uang dan menjadi kaya semata. Inilah saatnya untuk mengembangkan diriku dan melakukan re-settle pada kehidupanku, terutama pada kehidupan finansialku. So, visi telah ditetapkan maka saatnya beraksi. Mengulik kalimat yang aku tulis di agendaku yang entah kudapatkan darimana, pabila murid telah siap maka guru akan akan datang… *_*

Uang merupakan salah satu penyebab dasar dari kemiskinan. Dan masalah kemiskinan tidak dapat diatasi hanya dengan uang. Yang menjadi masalah dengan penggunaan uang dalam kaitannya dengan kemiskinan adalah bahwa uang hanya menciptakan lebih banyak orang miskin dan membuat orang menjadi miskin lebih lama. Salah satu solusi yang cukup efektif dalam mengatasi permasalahan kemiskinan adalah dengan memberikan lebih banyak “Pendidikan Keuangan”.

Mengutip kalimat bijak dari pepatah yang mengatakan bahwa apabila kita memberikan ikan ada seseorang maka kita hanya memberinya makan selama sehari saja, namun pabila kita mengajarinya memancing maka kita akan memberinya makan seumur hidup. Rangkainan kalimat tersebut menyiratkan makna yang teramat dalam bagi kehidupan finansial kita. Bahwa masalah kemiskinan tak dapat diatasi dengan pemberian uang secara langsung atau istilah populernya pada masa kini disebut dengan BLT (Bantuan Langsung Tunai), sedangkan di tingkat kampus disebut dengan Dana Bantuan Mahasiswa. Entah apapun istilahnya intinya adalah memberikan ikan segar atau lebih tepatnya uang tunai secara langsung kepada masyarakat miskin, atau yang tergolong miskin, atau merasa miskin atau mungkin hanya pura-pura miskin….? (hmmm…???)

Pendidikan keuangan ibarat teknik memancing yang membuat kita menjadi produktif dan mengoptimalkan potensi diri agar memberikan value atau nilai. Ada sebuah kalimat bijak mengenai uang, bahwa permasalahan terbesar tentang uang hanya ada dua, yaitu kekurangan uang dan kelebihan uang. Dua permasalahan mengenai uang itu sama-sama sukar diatasi, believed it or not. Kekurangan uang akan membuat kita stress dan bingung memenuhi kebutuhan hidup dan melunasi hutang-hutang yang menumpuk. Kelebihan uang pun akan membuat kita stress dan bingung mencari cara untuk semakin banyak menimbunnya dan menyimpannya. Pada dasarnya perbedaan stress dan bingung itu terletak pada pengaturan/manajemen keuangan itu sendiri.


Aku teringat mengenai pelajaran money management yang bijak oleh mba’ GLS. Bahwa permasalahan pengaturan atau manajemen keuangan bukan hanya bagaimana mengumpulkan dan mencari uang. Namun juga pada bagaimana mengatur pengeluaran keuangan kita. Seberapapun nominal uang yang bisa kita kumpulkan dari kerja keras kita ataupun sumber uang lainnya, apabila kita tidak pandai-pandai dalam mengatur jumlah uang yang akan kita keluarkan karena memang harus kita keluarkan dan mengatur pengeluaran uang lainnya yang seringkali bukan Karena kebutuhan tetapi karena keinginan. Maka, bersiap-siap sajalah untuk akan selalu terjepit dengan masalah kekurangan uang. Yang kemudian akan membuat kita kian stress dan semakin membabi buta mengumpulkan uang dengan bekerja mati-matian. Kita harus jeli dalam mengatur arus keuangan kita, baik sumber uang yang kita dapat maupun arus uang yang harus dikeluarkan dan disimpan serta uang yang dapat menghasilkan tambahan uang lagi buat kita. Istilah kerennya, money attract money. Sedangkan, untuk uang yang telah kita dapatkan pun perlu kita atur dengan pembagian sedemikian rupa (lihat diagram “pie chart pembagian uang”).

Siapapun kita memiliki potensi untuk kaya maupun miskin. Banyak orang-orang kaya atau yang tampaknya kaya, namun sebenarnya miskin karena bentuk kekayaan yang tak lekang. Contoh kecilnya seperti misalnya begitu kita sakit atau ada keluarga kita yang sakit sehingga kita harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar maka kondisi keuangan kitapun ikut tidak sehat atau bahkan kita bisa saja langsung jatuh miskin. Banyak sekali kemungkinan yang dapat menyebabkan keuangan kita diposisi labil.

Dukungan Lingkungan

Banyak faktor yang mendukung untuk meraih kesuksesan. Beberapa diantaranya yaitu kedisiplinan, tekun/ulet, pantang menyerah, intuisi, pengalaman, kemauan, sikap, kebiasaan, keberanian, terbuka menerima perubahan & pelajaran, visi & misi yang kuat, focus pada tujuan, dan lain sebagainya. Kesemua faktor-faktor pendukung untuk meraih kesuksesan tersebut banyak dibahas oleh pakar-pakar motivator ulung. Banyak pula kukutip dari buku-buku pengembangan diri atau buku nasehat finansial.

Dari semua faktor tersebut yang cukup menarik adalah bahwa faktor lingkungan memegang peranan yang sangat penting terhadap diri kita. Lingkungan menjadi medium yang sangat menentukan bentukan diri kita, cara pandang, pola pikir, karakteristik diri, orang-orang disekitar kita yang cukup berpengaruh pada kehidupan kita. Banyak orang yang ingin menjadi kaya namun terhambat bahkan malah gagal menjadi kaya hanya karena berada di lingkungan yang miskin. Faktor lingkungan menjadi sangat penting dalam memberikan dukungan bagi kita. Lingkungan yang tepat dapat mendukung potensi diri kita. Atau malah hanya karena faktor lingkungan dapat menyebabkan terhambatnya kesuksesan kita.

Misalkan saja disuatu kebun, yang ditumbuhi oleh beragam tanaman baik pepohonan, tanaman bunga, rerumputan dan lain sebagianya yang memiliki keunikan tersendiri. Seorang tukang kebun yang mampu memahami keunikan setiap tanaman akan memperlakukan setiap tanaman dengan berbeda-beda. Ada tanaman yang membutuhkan air lebih banyak dan pupuk lebih sedikit, ada pula yang sebaliknya dan lain sebagainya. Kebutuhan akan sinar matahari, suhu, jenis tanah dan lain sebagainya harus diperhatikan sedemikian rupa kepada tiap-tiap tanaman. Meskipun semua tanaman itu hidup dalam satu areal kebun yang sama, namun tak semua tanaman dapat hidup, tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi masing-masing di lingkungan yang sama.

Demikian pula dengan diri kita, kita tinggal dan hidup di lingkungan yang seperti apa? Kondisi lingkungan yang bagaimana? Orang-orang yang seperti apa? Semua itu sangat menentukan kehidupan kita. Pertanyaannya sekarang, apa yang bisa kita lakukan dengan lingkungan kita sekarang? Apakah kita harus mengubah lingkungan agar sesuai dengan yang kita inginkan? Atau mengubah diri kita sesuai dengan lingkungan kita?

Dalam kasus mengenai money management, hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah menemukan lingkungan yang kondusif untuk mendukung tujuan yang ingin kita raih. Seperti misalnya untuk kasus diriku yang sangat ingin wealth, sehat secara finansial namun tetap bisa idealis. Lingkungan keluargaku bukan lingkungan yang tepat untuk mendukungku dalam mengembangkan keinginanku tersebut. Latar belakang pendidikanku pun belum cukup untuk mewujudkan tujuanku. Sedari kecil aku diajarkan untuk berhemat, pandai-pandai dalam mengatur pengeluaran dan bekerja keras untuk mengumpulkan uang. Aku diharapkan untuk menjalani profesi yang bisa menghasilkan cukup uang dan sekaligus menjaga prestise. Keluargaku hingga saat ini masih menerapkan management keuangan tradisional. Meski demikian, aku tetap bersyukur karena bisa membuat perbandingan dengan management keuangan orang-orang kaya.

Kita perlu mencari mentor dan sosok inspirational untuk diri kita. Dan juga, kita harus menemukan lingkungan yang tepat untuk mendukung tujuan kita. Biasanya apabila kita sudah menemukan lingkungannya maka orang-rang yang kita butuhkan pun ada disana. Dan kita akan belajar banyak hal disana. Kita harus menemukan lingkungan yang bisa membuat kita termotivasi untuk berkembangkan…!!

Masih ingat kan tentang burung elang yang hidup di lingkungan ayam? Kira-kira kisah singkatnya seperti ini, ada seekor ayam betina yang secara tidak sengaja menemukan sebutir telur elang yang tercecer. Ayam betina tersebut lantas mengerami telur elang tersebut beserta telur-telur miliknya. Ketika telur elang menetas dan tampak berbeda dari anak ayam lainnya, elang kecil berusaha keras menjadi seperti ayam pada umumnya. Syukurlah pada akhirnya anak elang tersebut menemukan jatidirinya yang sesungguhnya yaitu sebagai elang yang bisa terbang bebas diangkasa, bukan sebagai anak ayam tak berdaya. Maka elang kecil itu mulai belajar terbang dari kumpulan para elang lainnya. Yaa.. disanalah tempatnya seharusnya, di lingkungan elang. Dan seperti itulah dirinya seharusnya… menjadi seekor elang.i

Ada lima pertanyaan menarik dan cukup menyentil yang kukutip dari buku Why We Want You to be Rich, karya pebisnis nomor satu Donald J. Trump dan penulis keuangan nomor satu Robert T. Kiyosaki:

  1. Apakah rumah dan kehidupan keluarga Anda adalah lingkungan yang bisa mengembangkan kejeniusan Anda? Ya atau Tidak?
  2. Apakah tempat kerja Anda adalah lingkungan yang mendorong perkembangan kejeniusan finansial Anda? Ya atau Tidak?
  3. Apakah Anda tahu dimana letak kejeniusan Anda? Ya atau Tidak?
  4. Apakah Anda bekerja dengan orang yang ingin Anda mengembangkan kejeniusan Anda? Ya atau Tidak?
  5. Jika Anda menemukan lingkungan Anda, apakah Anda bersedia bekerja keras untuk mengembangkan kejeniusan Anda? Ya atau Tidak?
Setelah menjawab kelima pertanyaan tersebut, renungkan kembali bagaiamana kehidupan kita saat ini mengacu pada jawaban kita pada kelima pertanyaan tersebut.

No comments: