Thursday, November 13, 2008

Pria & Wanita

Wanita identik dengan kepekaan perasaannya, sudah dari kodratnya seperti itu. Sedangkan pria identik dengan logika dan rasionalitas mereka yang menelaah segala sesuatunya dengan rasio/realita/logika. Sedari kecil aku lebih banyak berteman dengan para pria, aku jarang berhasil bersahabat dekat dengan wanita (dengan langgeng), entahlah…..

Aku sendiri juga sering gak bisa ngertiin pola pikir pria, banyak banget pola pikir mereka yang aneh buatku, termasuk pula dalam bertindak, menganalisa, mengambil kesimpulan, mengomentari, mengambil keputusan, mengolah kata, menghadapi masalah, dan banyak hal deh unik aja buatku. Tapi aku suka kok ^_^. Bersahabat dengan pria membuatku lebih hidup, pola pikir mereka yang rasional membuatku lebih real menyingkapi kehidupan yang ada didepan mata. pria itu unik sama dengan wanita yang misterius.

Dalam bekerja pun aku lebih senang bekerja dengan pria, karena pria banyak melihat hal dari sudut pandang yang penuh nalar & analitik. Meski itu semua tergantung pria-nya sih, gak semua pria bisa ku puji-puji gini kok. Karena banyak pula pria-pria yang amat sangat labil bahkan sangat tak pantas dibalut dalam tubuh pria. Aku bukan orang yang otoriter, bahkan sebenarnya aku orang yang amat sangat penurut (aslinya, heheee).

Aku punya partner kerja pria, aku kagum banget padanya. Banyak hal yang diluar jangkauan pemikiranku, dialah penyempurna, dialah sumber ide gila (diluar banyak hal lain yang menjadi kekurangannya juga ya, hehehee). aku percaya banget deh ma ide-idenya yang keren-keren, pemikirannya tuh dinamis seolah otaknya gak pernah kering dilalui oleh nerit dendrit yang berebut mengelilingi selaput abu-abu diotaknya. Kadang aku jadi kesel ngeliat banyak hal yang dikuasainya, aku sampe gemes sendiri kok bisa ada ensiklopedia berjalan (kita tak sedang berbicara tentag “destiny” yaa). Sering banget aku jadi ketakutan kalo diajak ngobrol, heheheee abis dia tuw menguasai segala topic secara mendalam belum lagi analisanya yang kritis. Ngobrol sejam bikin lemes menguras otak, hahahaa. Kalo ada yang belum dia mengerti, cepet banget adaptasinya & pinter banget mengkait-kaitkan dengan hal lain yang relevan. Untungnya dia bukan hanya partnerku tapi juga temenku yang emang pada dasarnya bisa ngertiin orang & pandai menjaga perasaan orang lain. Kita akan merasa kaya banget setelah bicara ma dia, gak akan pernah rugi ngobrol ma dia karena bahan pembicaraannya berkualitas. Daripada harus langganan Kompas yang berat banget topic-topiknya, aku lebih milih ngobrol ma dia deh. Orang yang paling bisa diandalkan dalam banyak hal deh!

Itu salah satu contoh orang terdekatku yang pria yang keren abis deh, itu baru sepenggal deskripsiku. Ada beberapa orang pria lainnya yang juga keren abis dalam banyak hal, intinya aku kagum ma pria (eits, ini bukan berarti aku gak mengagumi kelebihan wanita lho). Aku sengaja mengambil topic pembicaraan seputar pria karena sudah ada banyak artikel pembahasan mengenai wanita, majalah-majalah wanita jauh lebih banyak daripada majalah untuk pria, program-program di TV juga kebanyakan untuk konsumsi para wanita, tips-tips segala macam kebanyakan buat wanita, dll.

Sudah takdirnya segala hal didunia ini diciptakan berdampingan, siang malam, panas dingin, senang sedih, atas bawah, pintar bodoh, kaya miskin, hidup mati, pria wanita….. semua itu saling melengkapi, bukannya melemahkan satu dengan yang lainnya.

Aku menjadi sangat dekat dengan dunia para pria ketika menginjak bangku perkuliahan. Jurusan perkuliahan yang kupilih mendukung lingkunganku yang rata-rata para pria. Kemudian, sembari kuliah akupun bekerja freelance yang juga dikelilingi oleh para pria. Meminjam istilah dibuku fenomenal ”The Secret”, tentang Law of attraction (hukum daya tarik), lantas semua bergulir secara alami saling tarik menarik di gelombang yang sama.

Aku terusik dengan pernyataan temanku mengenai definisi pria dan wanita yang selama ini dibedakan karena gender atau alat kelamin. Pria yang selalu didaulat sebagai sosok jantan yang memiliki ketangguhan, kewibawaan sebagai pemimpin, pelindung, pengayom, pencari nafkah, pengemban tanggung jawab keluarga, bahkan pabila pria tersebut adalah anak sulung maka dialah tumpuan generasi penerus keluarga, penerima hak waris utama….. itu semua hanyalah pameo, dokrin yang diyakini masyarakat secara turun temurun. Pria dan wanita basicly sama saja, substansinya sama, hanya alat kelamin yang membedakan fungsi pria dan wanita. Pria yang berperan membuahi sel telur didalam rahim wanita, dan wanita yang mengandung kemudian melahirkan hasil pertemuan sel telur dan sperma tersebut. That’s it… biologis banget. Kemuliaan sama, kedudukan sama, karakteristik sama saja, tanggungjawab membesarkan anak sama. Manusia sajalah yang menciptakan hirarki dan pembagian-pembagian yang membedakan pria dan wanita.

Pria yang memiliki personality kewanita-wanitaan kemudian distempel “banci”, dan wanita yang macho layaknya pria diberi embel-embel “tomboy”. Apa pria tak boleh menangis? Apa wanita tak boleh menjadi mandor bangunan? Apa pria haram untuk memiliki sosok rapuh? Apa wanita harus berlembut-lembut ria, bermanis-manis manja? …. Haaaa siapa yang memplotting itu semua?!!! Aku sangat menghargai pria yang berani menangis dihadapanku karena itulah suara hati mereka sebagai manusia juga, jiwa-jiwa yang bisa pula rapuh karena dihantam badai masalah kehidupan.

Sudah 24 tahun aku berstatus sebagai anak, dan hingga saat inipun aku masih harus menghadapi pertengkaran diantara keluargaku. Pokok permasalahannya sebenarnya simple aja, topik-topik pemicu pertengkaran hanya karena… Eksistensi antara pria dan wanita (dalam hal ini eksistensi seorang bapak dan ibu) yang kemudian akan berkembang ke topik-topik pertengkaran yang lebih tak rasional lagi. Yaaa…. Ibuku selalu menuntut eksistensi bapakku sebagai sosok “bapak dan pria” seutuhnya (hmm.. aku rasa maksudnya lebih kepada dokrin masyarakat itu lagi tentang pria & wanita). Sedangkan Bapakku dengan susah payah pula menjadi sosok “bapak & pria” yang juga maksudnya lebih kepada dokrin masyarakat itu lagi tentang pria & wanita.

Aku lelah dengan tuding menuding yang tak ada ujung pangkalnya yang sangat sering terjadi dalam keluargaku. Bahkan tak ayal ketika aku masih dalam kandungan ibu dan banyak yang sudah meyakini aku adalah sosok bayi pria, hingga aku sudah dipersiapkan nama laki-laki, perlengkapan khusus bagi bayi laki-laki dsb. Bahkan mereka (konon katanya) sudah mengelu-elukan aku sebagai anak lelaki yang bakal menjadi tapuk kepemimpinan dalam keluarga. Hmmm… aku tak bisa membayangkan wajah orang-orang termasuk orangtuaku yang melihat kenyataan bahwa bayi kecil itu dianugrahi kelamin perempuan?! Bahkan orangtuaku masih tak bisa terima dengan ketidak adaan anak laki-laki dalam keluarga, oleh karena itulah mereka tetap berharap anak-anak mereka selanjutnya adalak laki-laki, yaaa usaha mereka dikabulkan Tuhan setelah lahir bayi keempat, adikku satu-satunya yang berkelamin pria.

Aku sempat berulang-ulang mengkaji, “mengapa Tuhan menciptakan Adam sebagai sosok pria, yang diciptakan duluan? Mengapa Tuhan tidak langsung menciptakan makhluk bernama manusia langsung sepasang? Bukankah saat itu Tuhan telah menciptakan dan mendesain dunia dan diciptakan segala sesuatunya secara berpasang-pasangan?”. Apa iya dari “sononya” wanita selalu harus menjadi yang nomor “dua” setelah pria? Apa iya wanita diciptakan hanya untuk menemani Adam?

Dulu aku kecil masih bertanya-tanya mengenai perjuangan R.A Kartini, emansipasi wanita-lah, kesetaraan gender-lah, hak-hak wanita-lah… aku pribadi banyak pula mengalami masa-masa yang menuntut perjuangan sebagai wanita, aku ingin diakui selayaknya yang diperjuangkan R.A Kartini sang pahlawan wanita Indonesia. Tapi…. Sebenarnya aku hanya ingin orangtuaku bisa memahami kelirumologi dokrin pria dan wanita yang terlanjur menjadi makna public, sehingga mereka menjadi diri mereka apa adanya tanpa ada tuding menuding tanggung jawab, tumpuan keluarga, pencari nafkah, merawat keluarga… hmm so silly banget kalo pertengkaran hanya karena siapa harus menyapu rumah dan siapa harus memperbaiki genteng rumah?! Siapa harus memasak dan siapa yang harus mengecat dinding tembok rumah yang mulai keropos?! Siapa yang harus diam dirumah merawat anak-anak dan siapa yang bertugas diluar rumah mengumpulkan uang untuk menafkahi keluarga?!

Apa seorang pria akan turun derajatnya hanya karena memasakkan untuk keluarga yang dicintainya? Apakah kemuliaan seorang ibu bagi keluarganya akan luntur hanya karena menjadi tumpuan mencari nafkah di luar rumah? Semenjak kecil aku dicekokkin untuk menjadi wanita selayaknya wanita, dan kelak menjadi istri selayaknya seorang istri, juga seorang ibu selayaknya ibu bagi keluarga dan di masyarakat. Sangat tak adil pabila aku kemudian diceramahi habis-habisan hanya karena sewaktu SMP memilih untuk ikut ekskul pencak silat. Aku dipaksa masuk dapur belajar masak karena kelak setinggi apapun pendidikanku aku tetaplah wanita yang akan menjadi istri dan ibu yang kodratnya masuk dapur juga memasak untuk keluarganya. Oh my Good…. Aku berharap siapapun pasanganku kelak bisa menerimaku apa adanya dan menghargai diri kita masing-masing sebagai sosok yang humanis, tanpa sekat kaku antara pria dan wanita…., hmmm aku bisa menjadi istri dan ibu yang baik pula kok, serta menjadi wanita yang dihargai di masyarakat, hahahaaaa….. chayoooo ^_^

No comments: