Mendung dipagi ini membuat niatku untuk beranjak dari peraduan yang nyaman menjadi terhalang. Sayup-sayup kudengar siaran radio yang sengaja kuhidupkan nonstop 24 jam untuk menemani tidurku. Sembari mengumpulkan kepingan nyawaku, sejenak telingaku menangkap suara sang penyiar radio tampak sedang bercerita atau lebih mirip mendongeng.Hmm… dongeng? Semenjak kecil aku sering mendengar dongeng-dongeng bijak dari nenekku tercinta. Dengan nada lembut beliau seringkali merangkai kisah-kisah yang sarat makna & filosofi sebagai media wejangan beliau padaku, cucunya yang Bengal dan pemberontak ini, hehee. Ternyata, dongeng ataupun kisah-kisah lebih mudah diserap karena tidak menggurui kita secara langsung.
Berikut ini adalah kutipan dongeng dari radio tersebut, kisah sedikit ku-improvisasi tanpa mengubah inti cerita ya ^_^;
Disuatu desa tinggallah seorang penjual ikan yang memasang signed board di warung jualannya yang bertuliskan “DISINI JUAL IKAN SEGAR”.
Pada suatu hari seorang pelanggan berkata kepada penjual ikan, “Bapak ini kok aneh, kenapa memasang tulisan DISINI? Bukankan orang-orang juga sudah tahu bahwa disini ini adalah tempat menjual ikan segar, bukannya ditempat lain?”
Setelah merenung sejenak, bapak penjual ikan tersebut bergumam, “iya ya.. kenapa aku mesti menuliskan disini kalau memang aku pasang papan penanda jualan ikan itu tepat di warungku ku?”. Maka bapak penjual ikan itu menghapus tulisan DISINI di papan penanda jualan ikannya, sehingga hanya ada tulisan yang berbunyi JUAL IKAN SEGAR.
Selang beberapa menit kemudian, calon pembeli kedua menghampiri bapak penjual ikan dan menanyakan harga seekor ikan emas yang cukup besar dan masih segar di akuarium. Namun, calon pembeli tersebut tak langsung membuat kesepakatan jual beli dengan si penjual ikan. Tampaknya calon pembeli tersebut ingin melihat-lihat beberapa ikan-ikan di akuarium yang tampak sehat & menggiurkan untuk disantap sebagai ikan bakar bersama keluarga tercinta.
Setelah puas mengamati, calon pembeli tersebut kembali bertanya kepada penjual ikan, “Pak, apakah bapak menjual ikan yang sudah mati juga alias ikan bangkai?” Penjual ikan terhenyak dengan pertanyaan spontan dari calon pembeli tersebut. Meski penjual ikan rajin berolahraga untuk menjaga kebugaran badannya namun belum mampu menjaga kadar darah tinggi yang serta merta naik drastis tatkala mendengar pertanyaan yang terdengar seperti tudingan pada kredibilitasnya sebagai penjual ikan segar sejati di kampungnya. Serta merta penjual ikan menjawab dengan meninggikan volume suaranya, “Maaf ya bu, saya ini sudah bertahun-tahun berjualan ikan di kampung ini, semua pelanggan tahu kalau ikan-ikan yang saya jual adalah ikan-ikan terbaik yang masih segar, bukan ikan bangkai seperti yang ibu katakan itu!”
Dengan menghela nafas panjang tiga kali, si ibu calon pembeli ikan menjelaskan maksud pertanyaannya. “Bapak, saya hanya menanyakan apakah bapak juga menjual ikan yang sudah mati atau ikan bangkai? Saya hanya mau memastikan papan nama di depan warung bapak ini adalah benar, bahwa bapak hanya “Menjual Ikan Segar”!!! Bagaimana saya tahu kalau disini hanya menjual ikan segar, bisa aja kan papan nama itu ditulis sebagai daya tarik saja. Huuu…. Siapa juga yang ingin belanja ikan disini!”. Selesai beradu mulut dan merasa telah menang telak, si ibu pun mengurungkan niatnya membeli ikan dan beranjak pergi dari warung penjual ikan.
Bapak penjual ikan bersungut-sungut dan bergegas menghapus kata SEGAR di papan nama warungnya, sehingga hanya bertuliskan JUAL IKAN.
Sesaat kemudian penjual ikan berhasil meredam amarahnya dan kembali bisa tersenyum riang sembari menyambut pembeli ketiga di warung ikannya. “Selamat pagi bu, mau membeli ikan bu?”. Namun pertanyaam sopan penjual ikan mendapat hardik keras dari ibu calon pembeli yang tampak garang tersebut, “Pak, saya sudah melihat yang bapak jual ini adalah ikan, mengapa bapak harus menuliskan tulisan jual IKAN didepan warung bapak?!! Apakah saya sebodoh itu sehingga tidak bisa membedakan ikan atau bukan?!”
Lagi-lagi penjual ikan harus kehilangan pembeli dan kena hardik kembali. Cepat-cepat penjual ikan menghapus tulisan ikan di papan nama depan warungnya agar kejadian serupa tak dialaminya kembali.
Calon pembeli keempat pun datang tak lama kemudian, namun raut wajahnya seolah-olah penuh tanda Tanya. “Pak, kenapa sih bapak menggantungkan papan nama yang hanya bertuliskan JUAL di depan warung bapak? Maksudnya JUAL apa, pak?”
Penjual ikan enggan menjawab pertanyaan calon pembelinya dan segera mencabut papan nama didepan warungnya lalu membuangnya di tong sampah………
Yaaaa… begitulah refleksi kehidupan kita sehari-hari apabila harus selalu menuruti kemauan & pendapat orang lain, maka kita akan lelah sendiri.
Orang lain berhak menilai dan memberi masukan atau saran kepada kita, namun kita harus bijak dalam mengambil keputusan, karena kitalah yang menentukan arah hidup kita.
Jangan sampai kita terlambat bahkan tersesat menuju arah tujuan yang semestinya hanya karena disepanjang perjalanan kita sibuk berkelok-kelok mencari jalan alternatif, atau berkali-kali singgah di tempat yang bukan tujuan kita, atau mungkin lebih mengutamakan mengantarkan orang lain dulu ke suatu tempat yang bukan arah tujuan kita….
Pabila tujuan sudah kita tentukan, rute perjalanan sudah dibuat, peta jalananan sudah tercetak, alat Bantu perjalanan sudah dipersiapkan, bekal sudah tersedia, maka….. let’s go!!!! Jangan tunda perjalanan…, hanya karena menunggu teman seperjalanan? Hanya karena hari masih terlampau dini? Hanya karena belum ada instruksi untuk mulai jalan? Hanya karena kondisi jalanan tak seperti yang kita harapkan? Atau…. Akh, kita memang sangat pandai mencari-cari alasan. Just start to walk & be unstoppable….. everything gonna be okay, PASTI!! chayoooo ^_^
No comments:
Post a Comment